Teror Pecas Ndahe

Mei 16, 2013 § 145 Komentar

“Tak ada kelompok ras atau etnik di Indonesia yang, betapapun kencangnya melakukan agitasi, dapat mengobarkan kekerasan sistematik dengan 1.198 orang tewas (27 di antaranya ditembak), 150 wanita diperkosa, 40 supermarket dan 4.000 toko dibakar, dan ribuan motor, mobil, dan rumah dilalap api di 27 area ibukota hanya dalam tempo 50 jam.”

Tulisan Ariel Heryanto itu saya kutip dari sini. Dan setiap kali membacanya, saya terkenang pada salah satu lembaran paling hitam dalam sejarah Indonesia: kerusuhan Mei 1998.

Saya sepakat dengan Ariel yang menulis:

Siapa pun yang mengenal Indonesia sadar betul bahwa tidak ada kelompok sosial di luar kekuatan negara yang mampu untuk menggelar kerusuhan secara dahsyat dan efektif seperti terjadi di Jakarta dan Surakarta beberapa waktu lalu.

Tidak PAM Swakarsa. Tidak juga FPI. « Read the rest of this entry »

Iklan

Ahmadiyah Pecas Ndahe

Februari 7, 2011 § 79 Komentar

Lapangan Wenceslas, Praha, tahun 1969. Di tengah hari musim dingin Januari, seorang lelaki bernama Jan Palach datang. Ditanggalkannya jas panjang yang ia pakai, disiramkannya bensin ke seluruh tubuhnya, lalu dinyalakannya korek api. Dalam beberapa detik, api membakar badannya.

Tiga hari kemudian ia mati.

Di saku jasnya ditemukan secarik kertas dengan tulisan: ”…ini dilakukan untuk menyelamatkan Cekoslovakia dari pinggir jurang ketiadaan harapan.”

Tragedi yang menggetarkan itu saya baca dari tulisan Goenawan Mohamad.

Palach adalah mahasiswa filsafat. Umurnya baru 21 tahun. Ia membakar diri sebagai bentuk protes pendudukan Soviet yang dengan mengirim tank dan tentara hendak meneguhkan sistem komunisme kembali di Cekoslovakia dan membungkam rakyat yang menginginkan liberalisasi. « Read the rest of this entry »

Mei Pecas Ndahe

Mei 14, 2010 § 185 Komentar

Tentang pemerkosaan yang terjadi pada Mei 1998, ada begitu banyak cerita dan tak begitu banyak data. Ini bukan berarti bahwa orang dengan gampang dapat mengatakan bahwa semua laporan tentang brutalitas yang berlangsung dalam kerusuhan Mei lalu terhadap kalangan keturunan Cina, hanya teriakan kosong yang tidak menyenangkan.

Laporan-laporan tim independen, sejumlah LSM, menunjukkan bahwa kekerasan itu memang pernah terjadi. Sejumlah perempuan dipaksa sekelompok orang secara seksual. Dan mereka dijahanami karena mereka berasal dari ras tertentu. Mereka Tionghoa.

Pada September 1998, majalah Tempo menurunkan laporan kesaksian seseorang perempuan yang bertemu dengan korban perkosaan. Berikut ini petikannya, sebagai sebuah pengingat, bahwa Indonesia pernah menorehkan lembaran paling hitam dalam sejarahnya. Ini semacam upaya melawan lupa. Berikut ini kisahnya … « Read the rest of this entry »

Priok Pecas Ndahe

April 14, 2010 § 81 Komentar

Petugas Satuan Polisi Pamong Praja bentrok dengan massa di kawasan Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Bentrok dipicu rencana petugas menertibkan kawasan pemakaman Mbah Priuk.

Jumlah korban luka-luka dan meninggal masih simpang siur. Tapi apa bedanya? Mau satu, dua, tiga atau seratus, yang namanya korban tetap korban.

Ingatan saya melayang pada sebuah esai Goenawan Mohamad tentang “korban” dan “massa”. Korban, tulis GM, adalah mereka yang lari dari desa dan digusur dari perluasan kota.

Perubahan selalu melahirkan korban. Revolusi industri di Inggris, perang saudara di Amerika, revolusi Bolshewik di Rusia, pembangunan kota Paris.

Hari-hari ini kita juga melihat korban jatuh di kawasan pecinan Benteng, Tangerang, dan di Tanjung Priok — atas nama perubahan.

Mengapa yang jadi korban hanya mereka, orang kecil sejak dulu? Bukankah itu pertanda ketidak-adilan dari strategi pembangunan? Tidakkah ada jalan lain, yang jika perlu ada korban maka itu biarlah mereka yang pernah nikmat di atas? « Read the rest of this entry »

Caleg Pecas Ndahe

April 15, 2009 § 105 Komentar

Gagal meraih suara membuat para calon legislator bertingkah aneh. Ada yang gila, bahkan ada pula yang bunuh diri. Tak siap kalah?

Kalah dan menang dalam permainan itu memang biasa. Tapi kalau kalah dalam pemilihan umum, lain lagi ceritanya. Begitulah kisah yang kita dengar hari-hari ini menyangkut para calon legislator yang gagal meraup suara, padahal sebelumnya sudah merogoh modal tak sedikit.

Kisah tentang mereka yang terlempar keluar dari jalan menuju Senayan itu macam-macam. Ada yang unik, lucu, bahkan yang mengenaskan pun ada. Saya mencuplik beberapa, dari kliping daring yang terkumpul beberapa hari belakangan ini — setelah penghitungan suara pemilu dimulai.

Di Bulukumba, misalnya, caleg Partai Penegak Demokrasi Indonesia, Andi Langade Karaeng Mappangille, bersama tim suksesnya memblokir jalan sepanjang 3 kilometer. Aksi nekat tersebut, menurut situs berita Inilah, diduga akibat perolehan suaranya yang tidak mencukupi menjadi caleg terpilih. « Read the rest of this entry »

Kelabu Pecas Ndahe

Januari 12, 2009 § 49 Komentar

Pagi ini, hujan tumpah di sana-sini. Langit abu-abu. Jalanan macet. Ah, Senin kelabu.

Begitu membuka koran pagi dan majalah, ternyata warnanya sama saja — juga muram. Sebuah kapal motor tenggelam di perairan Majene, Sulawesi Barat. Lebih dari 250 penumpangnya belum ditemukan.

Dua tahun yang lalu, di lokasi kecelakaan kapal motor itu jugalah, pesawat Adam Air tertimpa nahas dan tenggelam. Ratusan penumpangnya juga hilang, terkubur di dasar laut.

Begitu membaca halaman berikutnya, terpampang kabar bencana banjir di sejumlah daerah. Di Majene dan Polewali, Sulawesi Barat, banjir menelan korban sepuluh orang meninggal. Banjir juga mengakibatkan sebuah jembatan ambruk dan memutuskan akses Trans-Sulawesi yang menghubungkan Sulawesi Barat dan Selatan. « Read the rest of this entry »

Palestina Pecas Ndahe

Januari 3, 2009 § 78 Komentar

Kita melihat horor itu di televisi, juga di YouTube. Jet-jet tempur Israel membombardir Jalur Gaza. Rudal-rudal menggempur wilayah Palestina. Rumah-rumah yang remuk dan sedikitnya 400 ratus warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, dijemput maut.

Paklik Isnogud berulang kali menonton adegan maut itu di layar monitor dengan paras yang muram. Saya lihat ada kristal bening di matanya yang teduh. Dari jauh saya cuma bisa memandangnya dalam bisu. Saya tak berani mendekat dan mengajaknya bicara, sampai kemudian Paklik melihat dan melambaikan tangan, meminta saya mendekat.

“Menyedihkan ya, Mas,” kata Paklik begitu saya duduk di sebelahnya. Saya cuma mengangguk pelan. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with tragedi at Ndoro Kakung.