Caleg Pecas Ndahe

April 15, 2009 § 105 Komentar

Gagal meraih suara membuat para calon legislator bertingkah aneh. Ada yang gila, bahkan ada pula yang bunuh diri. Tak siap kalah?

Kalah dan menang dalam permainan itu memang biasa. Tapi kalau kalah dalam pemilihan umum, lain lagi ceritanya. Begitulah kisah yang kita dengar hari-hari ini menyangkut para calon legislator yang gagal meraup suara, padahal sebelumnya sudah merogoh modal tak sedikit.

Kisah tentang mereka yang terlempar keluar dari jalan menuju Senayan itu macam-macam. Ada yang unik, lucu, bahkan yang mengenaskan pun ada. Saya mencuplik beberapa, dari kliping daring yang terkumpul beberapa hari belakangan ini — setelah penghitungan suara pemilu dimulai.

Di Bulukumba, misalnya, caleg Partai Penegak Demokrasi Indonesia, Andi Langade Karaeng Mappangille, bersama tim suksesnya memblokir jalan sepanjang 3 kilometer. Aksi nekat tersebut, menurut situs berita Inilah, diduga akibat perolehan suaranya yang tidak mencukupi menjadi caleg terpilih.

Andi Langade merasa berhak menutup Jalan Mappatunrung, Dusun Biloro, Kecamatan Bukumpa, itu karena jalan yang digunakan oleh sekitar 400 penduduk itu merupakan tanah milik alamarhum kakeknya yang juga pejuang 45.

Ia mengancam, jika polisi ataupun pemerintah setempat memaksa membuka pemblokiran jalan yang dilakukan oleh timnya itu, ia terpaksa akan membongkar aspal jalan dan menggantinya dengan sebidang sawah seperti semula. Ckckckck …

Di Kulon Progo, Yogyakarta, seorang caleg menarik kembali sejumlah hadiah dan sumbangan yang pernah ia berikan kepada warga Desa Karangsari, Pengasih, Kulon Progo. Caleg perempuan berinisial S itu sebelumnya memang cukup sering memberikan sumbangan dan hadiah kepada warga.

Di Dusun Kamal, Karangsari, misalnya, ia memberikan 14 zak semen untuk pembuatan jalan. Menurut warga, S juga memberikan bantuan alat musik drumband dan uang tunai Rp 2,5 juta. Namun sejak proses penghitungan suara di tingkat Panitia Pemilihan Kecamatan, tiba-tiba muncul sejumlah orang suruhan S di beberapa dusun. Orang suruhan itu mendatangi para kepala dusun dan meminta kepala dusun mengembalikan bantuan yang pernah diberikan S.

”Alasannya, S kalah suara sehingga tidak terpilih kembali,” kata Kepala Dusun Kamal Mujiyono, seperti dikutip Kompas.

Di Ambon lain lagi. Seorang caleg berinisial LS menarik kembali dua karpet yang sebelumnya disumbangkan ke sebuah masjid gara-gara gagal terpilih. Akibat ulahnya ini, ibu-ibu di kompleks Permukiman Kepala Air, Desa Batumerah, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, marah-marah.

Djohura Tianlean, 56 tahun, ketua kelompok pengajian ibu-ibu Nurul Huda, menjelaskan, ibu-ibu pengajian sebetulnya tak pernah meminta diberi karpet. Saat kampanye, LS datang dan menawarkan bantuan karpet. Syaratnya, ibu-ibu pengajian yang berjumlah 20 orang itu memberikan suara kepada LS.

Dua hari setelah penghitungan suara, istri si caleg itu datang ke Kepala Air dan meminta kembali dua karpet itu karena LS hanya memperoleh 19 dari 20 suara. Padahal, satu suara yang dibutuhkan itu karena pemilih tengah berangkat ke Papua. Beruntung istri LS bisa diselamatkan warga lainnya karena puluhan ibu-ibu dan pria dewasa emosi dan nyaris melancarkan aksi kekerasan.

”Jujur saja, kami ini sembunyi-sembunyi dari suami kalau memilih LS karena ada caleg juga dari sini. Kalau mau ambil kembali karpet itu, silakan. Tetapi satu suara kami harus dibayar Rp 1 juta,” kata Djohura seperti dikutip oleh Kompas.

Nah, di Palangkara Raya lain lagi. Menurut Kompas, Balai Kesehatan Jiwa Masyarakat Kalawa Atei Palangkaraya merawat lima pasien gangguan jiwa pascapemilu 9 April. Dua di antaranya adaah caleg dan tiga lainnya simpatisan partai politik.

Perilaku caleg itu aneh. Setelah hari pemilihan, dia tidak mau mandi, tidak mau makan, dan sering tertawa, terutama jika melihat hasil penghitungan suara partainya. Bersama dua pasien lain yang juga berperilaku hampir sama, akhirnya dia harus menjalani rawat inap di Kalawa Atei.

Di Banjar, ada kisah yang lebih tragis. Calon anggota legislator Kota Banjar, Jawa Barat, dari Partai Kebangkitan Bangsa nomor urut delapan, Sri Hayati, ditemukan meninggal di sebuah gubuk di tengah sawah. Dia diduga bunuh diri.

Menurut Kompas, berdasarkan hasil penghitungan sementara perolehan suara Komisi Pemilihan Umum Kota Banjar hingga Selasa siang, Sri hanya mendapat tidak lebih dari 10 suara di daerah pemilihan Banjar I yang meliputi Kecamatan Banjar dan Purwaharja.

Cerita muram mengenai caleg yang gagal terpilih seperti di atas ada kemungkinan masih banyak lagi. Barangkali bahkan ada yang lebih dramatik. Absurd. Semuanya seperti mengarah pada satu kesimpulan: mereka tak kuat menghadapi kenyataan. Mereka tak siap untuk kalah.

Ah, hidup memang tak seindah foto-foto tempat wisata di kartu pos …

>> Selamat hari Rabu, Ki Sanak. Apakah sampean kelak masih mau jadi calon legislator?

Iklan

Tagged: , , , , ,

§ 105 Responses to Caleg Pecas Ndahe

  • mang amsi berkata:

    salam kenal ndoro..mudah2an postingan saya tidak mengganggu kenyamanan blog ndoro..memang benar ndoro, adanya ketidaksiapan untuk kalah menjadi salah satu penyakit moral yang perlu dibenahi agar tidak terjadi hal-hal di atas..jawabannya kembali pada keimanan dan keyakinan bahwa kekuasaan hanyalah titipan dari-Nya
    nuhun

  • Epat berkata:

    turut berduka…. lemahnya nurani-nurani

  • DV berkata:

    Ndoro, para caleg gagal pilih itu adalah orang-orang yang larut pada euforia kampanye tapi tak mengerti dimana peperangan sebenernya (ya di PEMILU itu.
    Mereka tidak bodoh.. Tapi GUOBLOK 🙂

  • LuXsmaN berkata:

    tidak adanya rasa besar hati alias LEGOWO atas segala kekalahan pada dirinya dan masih banyak CALEG yang bersifat kenakak-kanakan…..

    Mungkin setelah ini Mahkamah Konstitusi banyak mengadakan sidang….

  • Iman Brotoseno berkata:

    Dalam sebuah wawancara Roy Suryo mengatakan tidak mengeluarkan sepeserpun…bisa ditanyakan lebih lanjut resepnya ? he he

  • mesin kasir berkata:

    Prihatin, dengan fenomena ini, mereka terlalu memaksakan diri dan belum bisa mengukur kemampuan diri sebelum mengambil suatu keputusan, yang lebih parah lagi mereka tidak memikirkan resiko terburuk dari suatu keputusan, terlalu percaya diri (tanpa mengukur kemampuan). Mungkin solusi akhir adalah tingkat pemahaman akan takdir, hiks sungguh mengenaskan yahh. Nyaleg kok seperti ajang audisi dan cari penghidupan 🙂 🙂

  • rizal berkata:

    mengenaskan .
    gamau ah jadi caleg .
    mana ade gw cita”nya pengen jadi anggota dewan lagi .
    haduuu . .

    • Leebizniz berkata:

      Jangan pesimistis, terus siapa yang mo ngebangun bangsa ini. Jangan biarkan bangsa ini dipimpin ato diwakili oleh orang2 yang kotor, jika mereka kotor kita yang bersih harus siap MAJU Ntuk ngebangun INDONESIA tercinta ini. BERKIBARLAH MERAH PUTIH!

  • Wahyu Hidayat berkata:

    pagii ndoro…ndoro punya ga cerita caleg-caleg yang legowo menerima kekalahannya..biar kita bisa menarik pelajaran saja ndoro. Sudah lelah rasanya mentertawakan orang-orang yang tak siap kalah itu………

    • mtky berkata:

      sepakat!
      think out of the box…!
      mereka-mereka yang siap kalah ini juga sudah sepantasnya di beri apresiasi

      salam kenal ndoro, salam kenal mas wahyu..

  • heriE berkata:

    Berpolitik mang asyik gk asyik yaa

  • heriE berkata:

    Berpolitik mang asyik gk asyik pernah ditempatku ada caleg yg brani ngaspal jalan gang 1.5 km

  • Leebizniz berkata:

    Urun rembug Ndoro..Saya rasa bukan karena tidak siap kalah, inilah akibat politik kotor (politik uang). Bisa kita bayangkan bagaimana setelah mereka terpilih menjadi anggota Dewan yang katanya Terhormat, jika saat pemilihan mereka mengeluarkan uang untuk mendapatkan suara. Pastinya setelah terpilih mereka akan berupaya untuk mendapatkan lebih dari yang mereka keluarkan, nah pastinya pula bukan dari gaji mereka saja. Uang Rakyat yang mereka sikat, yang rugi siapa? Sudah saatnya kita pandai memilih calon2 wakil rakyat, dan sudah saatnya POLITIK UANG dilenyapkan dari negara ini. Kalau ini dibiarkan saya pastikan negara ini akan semakin terpuruk…gitu aja Ndoro. Makasih

  • lindaleenk berkata:

    haha….mreka memang aneh…
    terlalu berharap lebih…
    sekarang kalah ..panik sendiri gitu..
    huh…

  • kian berkata:

    aku kok malah nguya nguyu baca ini ya…jiakakakka..ngasih barng trus diambil lagi..hahah…paraahh..bunuh diri kok di gubug tengah sawah?..kenapa nda dirumah aza ..*eh kok*…berawal dari sombong diri mesti..setelah gagal malu g ketulungan kali ya…payah ya..kalah sama anak2 *lirik idola cilik*

  • Pitra berkata:

    Komentar saya serupa dgn di politikana. Saya masih berasumsi sebagian besar caleg bermotivasi Pemilu adalah ajang mencari pekerjaan, posisi, atau uang. Kalau memang mereka motivasinya spt ini, mereka juga tidak punya jiwa entrepreneur krn saat “berinvestasi” dalam suatu “proyek” mereka harus siap dengan 2 sisi koin: menang mutlak atau kalah mutlak. Kalau menang, “proyek” mereka goal dan “investasi” bisa kembali saat menjabat sebagai legislatif. Kalau kalah, “investasi” itu gagal, dan harus siap dengan segala resikonya (duit habis, nama jelek, dll).

    Namun beda kalau motivasi mereka nyaleg adalah murni karena hati nurani. Mereka tidak akan “investasi” dalam hal uang. Mereka lebih baik “investasi” dalam segi sosial, yakni melalui support beragam kegiatan komunitas warga, misalnya. “Investasi” yg lebih butuh waktu lama, tapi minimal cost, dan akan memungkinkan mereka semakin kuat terpilih di Pemilu 2014. 😀

  • arsyani berkata:

    kalau di Aceh…sarungnya yang sudah dibagikan minta dibalikin…
    Apa apa dengan negeri ini???

  • handaru berkata:

    Seperti yang telah diprediksikan, Ndoro!

  • dony berkata:

    yah begitulah ndoro … ketika menjadi anggota dewan dijadikan sandaran hidup bukan untuk membaktikan hidup 🙂
    dan sayangnya memang benar yah, kita masih jauh dari ikhlas (masih pada punya malu gak sih?)

  • antown berkata:

    resikonya tinggi untuk menjadi (calon) pemimpin
    datanya dah lengkap ndoro, sipppp

  • masbagyo berkata:

    Partai harus ikut bertanggungjawab. Mestinya sejak proses perekrutan (menjadi) caleg, di lakukan fit and proper test bagi si caleg itu. Menyangkut kesiapan psikologis dll, sehingga nggak stress kayak gitu. Khan kasian keluarga yang di tinggalkan.

  • Obi-Wan berkata:

    Untung belon kedengeran caleg yang minta balikin traktiran makan. Gak kebayang apa yang bakal dibalikin orang-orang yang pernah dia traktir.

  • goen berkata:

    Dari tadi menurut Inilah dan Kompas melulu, Ndoro takut mengutip Tempo, nanti dirating “-1 Promosi Diri”. 😛

  • Chic berkata:

    RSJ Bogor kabarnya sudah fullbooked oleh keluarga caleg yang gagal Ndoro…
    wedewwwww…

    ironis ya? 😐

    • andhikapermana berkata:

      kasian juga kalau rumah sakit jiwa aja udah penuh terus yang sisanya yang gangguan lain mau ditaruh dimana?kan banyak sekali yang mencalonkan diri.

  • Daus berkata:

    Mungkin ini merupakan cuplikan dari fenomena sosial yang lebih besar ya? Halusinasi akan kemakmuran dan kesejahteraan di kalangan masyarakat. Mungkin bukan cuma caleg saja yang mengalami, melainkan kebanyakan warga masyarakat kita.

    Pemicunya, bisa karena begitu lebar dan telanjangnya kesenjangan sosial.

    Entahlah Ndoro.

  • seno berkata:

    “Ah, hidup memang tak seindah foto-foto tempat wisata di kartu pos …”…mantap, ndoro.

  • ekaria27 berkata:

    Maju jadi caleg kow gak menghitung probabilitas kemenangannya, tidak mengamati medan tempurnya…

    Ampuuun dech..

  • sofwan.kalipaksi berkata:

    Begitulah, ndoro, mereka ndak siap mental.
    Oh, ya baca juga ulasan saya tentang caleg gagal di sini:

    http://kalipaksi.wordpress.com/2009/04/12/caleg-caleg-icmi-yang-kalah-mulai-depresi/

    semoga bisa menambah perbendaharaan.
    terima kasih.

  • investonyouth berkata:

    peluang yang sangat bagus untuk membuka praktek konsultasi kejiwaan
    + penyembuhannya.

    Bagaimana, ada yang berminat?

  • mariskova berkata:

    Caleg yang menang juga belum tentu ‘sehat’ kan?

  • candra berkata:

    kasian ya mereka.. RSJ sepertinya bakal ketambahan banyak pasien ni ya..

  • dilla berkata:

    ya gitu lah kalo orang gak siap dan gak kuat mental. kesian.

  • bodrox berkata:

    doh…, heran. kehilangan kesempatan membantu rakyat kok jadi orang bingnyung. memang pecas endahe maybe.

  • Ian berkata:

    emank harusnya partai di negara kita dirampingkan
    jadi yang kecewa gak banyak” amat 😛

  • Kombor berkata:

    Apabila berpegang pada syariat caleg + 1, saya kira tidak akan ada caleg yang stres, bunuh diri, atau berbuat aneh ketika kalah.

    Syariat caleg + 1 itu adalah ikhtiar dan doa + tawakkal.

    Sebagai caleg, saya menjalankan syariat yang harus saya lakukan. Saya ikhtiar dengan melakukan sosialisasi ke jajaran partai di dapil, sosialisasi ke masyarakat (sebagian), membuat alat sosialisasi (kalender dan kartu nama) serta membuat tim kecil semampu saya. Sembari berikhtiar saya berdoa untuk diberi keputusan terbaik dari Tuhan. Selanjutnya, saya tawakkal kepada keputusan Tuhan.

    Alhamdulillah, sampai siang ini, dari TNP KPU, di internal partai saya masih berada di urutan ketiga dari 6 caleg yang bertarung. Sedangkan, apakah partai bisa dapat kursi atau tidak, belum kelihatan dari hasil TNP yang masih sangat sedikit dan hanya menampilkan suara dari 24% TPS saja.

    Mudah-mudahan nanti di 2014 ada blogger lain yang berani nyaleg. Maksudnya, supaya mengalami sendiri proses mulai dari pencalegan, sosialisasi, kampanye, hari pemilihan sampai ke menyikapi hasil pemilihan. Insya’ Allah, apabila para blogger dapat menikmatinya, banyak hikmah yang dapat diambil. Jadi, alih-laih hanya memotret caleg dari kacamata blogger, para blogger dapat menulis mengenai caleg dari kacamata caleg sendiri.

    Mudah-mudahan ada yang berani. Saya sendiri belum kapok jadi caleg. Apabila 2009 ini saya belum berhasil dan 2014 masih ada kesempatan, saya akan memanfaatkannya kembali. Jadi caleg itu asyik. Bisa kenal banyak orang dan bisa memotret wajah pemilih Indonesia yang beragam. Ada yang kritis, rasional dan ada pula yang pragmatis (sebagian besar) dengan mengharapkan adanya imbalan untuk memilih.

  • mas stein berkata:

    para caleg ini perlu memahami lebih lanjut bahwa jabatan adalah titipan ndoro, bukannya hasil arisan…

  • calegnya ajah stress, apalagi tim suksesnya ya? atau jangan2, tim suksesnya ga stress sama sekali?

  • ricohsanusi berkata:

    sudah tahu kan semuanya ada udang dibalik batu, 🙂

  • eviwidi berkata:

    Jika semua caleg melakukan hanya demi ‘kepentingan pribadi’ itulah kejadiannya…

    Bagaimana negara ini bisa maju kalau caleg-nya punya ambisi seperti itu?

    Rekan saya di Bogor ada juga yang pernah nyaleg, kemudian gagal, hasilnya dia jadi sangat sensitive dan sering bertengkar dengan orang sekitarnya meskipun cuma masalah sepele…

  • kangfiki berkata:

    untuk saat ini, nda mau jadi calon legislator ah ndoro, toh perubahan tidak hanya bisa dilakukan melalui kekuasaan kan?=)

  • rosa berkata:

    Yang laris bukan hanya RSJ Ndoro, tapi juga pondok pesantren, trus pondok-pondok lain yang menyediakan jasa penenang jiwa. Jadi kalau RSJ penuh masih banyak tuh ponpes, pondok-pondok penentpang, atau bahkan dukun-dukun 😀 (yang ini mungkin gak diekspos di TV).

    yang ini postingannya gak norak :D. peace.

    website: http://www.gangsir.com

  • Silly berkata:

    Hahahaha… dari dulu caleg2 ini diajarin prinsip ini ndoro…

    Kalo mo dapetin ikan yang besar, mesti pake UMPAN yang gede

    Sayangnya mereka tidak siap untuk tidak dapet ikan sama sekali 🙂

  • bung tobing berkata:

    Menarik sekali Ndoro, saya jadi penasaran bagaimana nasibnya dengan caleg dapil saya yang gagal yah yang namanya terlanjur nyangkut di kepala karena banyaknya poster mereka

  • Kyai slamet berkata:

    Membayangkan sang pakar jalan telanjang karena gagal

  • dwiprayogo berkata:

    Caleg karbitan ya kayak gitu….
    yang dipikir balik modal aja….

  • otholo berkata:

    Makin tambah banyak orang gila ..

  • bocahbancar berkata:

    Memqang kok Mas..

    Di tempat saya banyak yang sudah habis 60 hingga bahkan 200 juta namun tidak menang suaranya,jadi ya stress lah dengan jehilangan uang sebegitu gedenya…

    Tapi kok aneh ya wongh2 caleg ini, lha sudah nyemplung yo wani teles to….

  • Astaghfirullahal’adziem…………………………………………………………………………………………………………………………….

  • samawabalong berkata:

    saya kasihan Ndoro, sekaligus geli bahkan sesekali tertawa pahit… membaca berita di koran, di situs berita maupun blog dan menyaksikan di tipi tentang tingkah polah para caleg gagal persis seperti yang Ndoro ceritakan… mereka cuman boneka yang terbuai janji-janji orang-orang diatasnya (dalam hierarki kepemimpinan, mungkin pimpinan parpol Ndoro ya?)…
    yang saya harap cuma satu Ndoro, ada banyak pimpinan parpol yang stress, gila atupun bunuh diri… agar tertawa saya lebih lepas Ndoro!
    Selamat hari Kamis, Ndoro. Apakah ada pimpinan parpol yang baca postingannya Ndoro berani gila?

  • sanggita berkata:

    Saya benar-benar guatel deh pengen melakukan tes psikologis buat mereka yang mengajukan diri jadi caleg itu. Apa sebelumnya ngga kepikiran untuk :

    – Memetakan kepribadian sang bakal caleg : cocokkah dengan role and responsibility-nya kelak, adakah kecenderungan/gejala klinis jika kalah pemilihan maupun saat mengemban tugas, dst. Jadi kejadian yang diuraikan di atas bisa diminimalisir.

    – Bukankah tugas menjadi caleg = tanggung jawab yang demikian besar? Dibutuhkan resiliensi yang lebih kuat dari orang biasa karena pekerjaannya sangat rawan stres. Dan ini bisa dipetakan melalui serangkaian tes psikologis yang ketat.

    – Saya pikir, tidak bisa serta merta mencalonkan orang. Misalnya, jika pendidikan tidak lulus SD, bagaimana tingkat analitical and conceptual thinking-nya, apakah memiliki alternatif solusi dari berbagai dimensi, bagaimana proses pengambilan keputusannya, dst? Kecuali jika sosok tersebut memiliki ability to learn yang cukup tinggi ya.

    Pemilihan caleg kok ngga beda sama fenomena AFI dan idol-idol yang lain…

    Gemes saya. *misuh-misuh*

  • sanggita berkata:

    Oiya, sayang juga kalo malah menarik kembali hadiah yang pernah disumbangkan. Apalagi pake kalimat, “Silahkan pilih saya atau tidak. Tapi saya ikhlas kok dengan pemberian ini.”

    Padahal, meski gagal sekarang, masih bisa kampanye wombat untuk 5 tahun lagi kan ya.

  • ruly berkata:

    ya biarin sajalah mereka minta barang2nya kembali, mereka lebih perlu buat bayar utang n biaya perawatan lainnya.. kasihan..

  • Audi berkata:

    Saya sih tertarik saja kalau ada yang nawarin jadi caleg. Asalkan ada sponsornya. Kalau harus habis-habisan mengeluarkan uang dari kocek sendiri sih, OGAH AH! 😀

  • Artikel Pendek berkata:

    Caleg Stress Jelang Pemilihan…

    Tanda-tanda bakalan banyak orang yang stress pasca pileg mulai nampak. Mendekati hari H, hampir setiap hari ada-ada saja yang kelakuan “aneh” dari para caleg.
    Kita tidak usah hitung mereka yang terkadang duduk termenung sambil menatap…

  • Isya berkata:

    terkadang saya bersyukur Ndoro…orang2 seperti mereka gak terpilih jadi caleg… karena awalnya aja mereka bilang berjuang untuk rakyat, tapi nyatanya mereka gak ikhlas dan gak siap menghadapi persaingan, alias semua yg mereka lakukan selama kampanye itu palsu, munafik…semoga mereka cepat sadar aja Ndoro…

  • Mursid berkata:

    setelah gk kepilih baru keliatan belangnya khan..
    padahal sebelum pemilihan bener2 sok dekat dengan rakyat..
    mutilasi aja tuh caleg..
    hahahahahahaha….

  • Mas Adien berkata:

    salam kenal mas :
    tadi malam saya lihat berita di tivi, di salah satu kabupaten di jatim ( sayang saya lupa daerah mana ) ada caleg masuk rumah sakit bukan karena suaranya kurang tapi sebaliknya mas : dia kaget karena dapat suara tertinggi …. ndak nyangka dia..

    aku undang mas….

  • mia berkata:

    Ndoro, simak berita ttg caleg gagal yg bunuh diri, padahal dia sedang hamil 4 bulan? duh yaa… jd miris semiris-mirisnya…

    naudzubillah…

  • Abdul Ghofur berkata:

    Memang enakan di jaman ORba gak ada caleg stres karena dipilih sama partainya sendiri…

  • Yahya Kurniawan berkata:

    Hadoh, benar2 bikin Pecah nDase

  • ada lagi ndoro seorang haji yang mencalonkan diri nya jadi caleg menarik lagi sumbangan untuk pendirian mushola setelah dia mendapatkan suara sedikit dari kampung tersebut 😦

  • nusantaraku berkata:

    Semoga dengan adanya kasus-kasus ini, para caleg sadar dan insaf terutama yang gila kekuasaan dan harta. Dan harapannya, di pemilu 2014 nanti, banyak caleg yang haus rupiah, berpikir berulang kali.

  • nenyok berkata:

    Salam
    Cuma bisa mengucap astaghfirullah, duh mental begitu gimana nanti duduk di kursi, mengelola mental diri sendiri aja, buktinya ga bisa, kasihan juga siy.

  • jadilahyangterbaik berkata:

    mudahan para blogger di sini ga ada yang jadi caleg ya …

    ck ck ck ck ck ck

  • hariadhi berkata:

    survival of the fittest, ndoro. Saat lingkungan sudah terlalu berdesakan, hewan penghuninya akan saling sikut, saling bunuh, dan saling makan. Hanya yang bisa menyesuaikan diri dengan keadaan yang bisa lestari. Itulah gunanya evolusi.

    Sekarang kita lihat saja apa perubahan hewan-hewan itu menuju ke arah lebih baik (menuju manusia beradab) atau sebaliknya mengecil menjadi makhluk sekelas kecoa? (jangan salah, populasi serangga jauh lebih besar dari manusia lho….).

  • zila berkata:

    kenapa harus dipikirin…..
    mikir diri sendiri aja udah susah
    biarin aja para caleg itu pada stresssssssssssssssssssssssssssssssssssss.

  • EA berkata:

    Saya Pikir Berita sebelum Pemilu tentang prediksi Orang Stress gagal caleg nggak bakal terbukti.. Ternyata Uakeh Tenannnn sik do edan.. Siap Menang Ra Siap Kalah.. Haito wajar nek do Edan. 🙂

  • pasarsapi berkata:

    turut berduka ….
    *speachless*

  • Rusa Bawean™ berkata:

    gitu mau jadi wakil rakyat….
    untung aja gak menang

  • refanidea berkata:

    kata temen saya yang panuan, dia sering pakai caleg kulit.. 😉

  • ting berkata:

    Hueheheh..caleg oh caleg..

  • om ipit berkata:

    emang enak jadi caleg..

    huahahaha..

  • lilliperry berkata:

    memang perbedaan antara ‘gila’ dan para caleg itu tipis ndoro.. hahaha

  • edratna berkata:

    Jika mereka tak legowo atau siap kalah, perlu dipertanyakan apa motivasi mereka ikutan jadi caleg? Untuk dapat posisi, jabatan, uang? Kasihan amat ya negara kita ini….

  • Hahaha, saya nggak ngebayangkan kalau yang nyaleg itu Ndoro Kakung dan ketemu sama mantan dosen Pengantar Ilmu Politik waktu kul dulu, Pak Herqutanto (alm? sudah lama ya?). Pasti dia akan nyanyi, “Pulangkan saja… aku pada…” sambil bergoyang pantat seperti biasanya….
    “Ya, pulangkan saja…” Kalau yang nggak sabar untuk pulang ke rumah YME, maka caleg mogol akan nenggak racun… Masya Allah…
    Lebih dari itu, semoga mereka yang kepilih tidak mabung kepayang… lupa daratan…
    Salam Ndoro dan sorry saya pakai Open ID beda…

  • aLe berkata:

    aLe pernah gagal jadi legislatif,
    Tapi ga segitunya,

    Legislatif Mahasiswa 😀

  • agn berkata:

    kalau tujuan jadi wakil rakyat gak murni ya beginilah hasilnya….

    😀

  • caleg biasa dikenal sebagai calon [anggota dewan] legislatif.
    mustinya caleg juga berarti “calon legowo”, kalah menang lego lilo.

    kapan ya caleg itu bukan mencalonkan diri tapi “dicalonkan” oleh konstituennya. Jadi seorang caleg itu bukan karena maunya sendiri, tapi karena masyarakat yang menaruh kepercayaan padanya. kapan-kapan?

  • dsusetyo tdw berkata:

    caleg = calon legislatif
    caleg = calon legowo, menang kalah, lego lilo

  • Rinto berkata:

    klo di solo, Pecas Ndahe itu grup Band parodi..masih seniornya TeamLo lah….mungkin krn nyaleg sbg bahan lawakan aja so mrkpada ga jadi…loh…eh…loh…eh…kok gitu sih…ga nyambung ya…wakakak

  • dobelden berkata:

    Yg lebih bahaya adalah yg gak siap menang…

    *gak kebayang banyak anggota hdewan yg baru masuk dan bernafsu membalikkan modal kampanye yg rata2 diatas 500 jt.. *

  • arixx berkata:

    Pemilu yang semakin lucu ….

  • Itu semua sudah masuk perhitungan saya.
    Sebabnya dikarenakan oleh mereka memandang jabatan legislatif itu sebagai ladang kerja,
    bukannya tuntutan hati nurani.
    Demikian akhir dari penjelasanku.
    Q.E.D.
    Quod Erat Demonstrandum

  • eruruaruru berkata:

    Saya rasa caleg-caleg itu tidak lebih dari calegbrities– ingin ikut terkenal, seperti anak kecil, teriak2 minta ditunjuk, ingin jadi pemimpin tapi tidak tahu apa-apa. shirTalks Political Fashion Company punya desain kaos yang membandingkan caleg-caleg tersebut dengan anak kecil. Lihat saja postingannya di blog saya: http://farachokolatte.multiply.com/journal

    Issue caleg ini juga udah pernah dibahas di http://www.shirtalks.com . . . liat aja di website itu.

  • dimas prabu berkata:

    Caleg-caleg sekarang memang ga tau diri, udah tau mental psikis ga mencukupi, eh malah maksa..

    Memang kiamat sudah dekat..orang-orang pada kacau semua..

  • Titis Sinatrya berkata:

    Wis Ben Podho Edhan karepe pingin bagean …..

  • Titis Sinatrya berkata:

    Wis edan ora kenduman lagi ….

  • hendro berkata:

    WAKIL RAKYAT adalah investasi dengan imbal hasil paling tinggi dan tercepat 🙂

    Tinggi resiko-nya kalau kalah termasuk tercepat menjadi gila atau meninggal

  • In-tea berkata:

    Sayangnya media hanya menyorot caleg kalah yg frustasi … padahal banyak juga caleg kalah yg konsisten dengan perjuangannya & tetap membantu masyarakat agar lebih sejahtera, kenapa media tidak menyorot hal itu, sehingga persepsi masyarakat tidak menjadi negatif & malah justru memberi aspirasi… Tampaknya para kuli tinta ini lebih suka menampilkan sisi keburukan daripada kebaikan ya?! Atau karena lebih mudah melihat hal2 negatif dibanding dgn hal2 positif?

  • bangbom berkata:

    hm,,,,,,,,,,,,,,,,

  • Selly berkata:

    Saya pcr dari bendahara tim sukses caleg dpr ri dapil 2..Partai ternama.Pacar sya bgtu brsemangat krja siang malam untuk memenangkan caleg nya untuk melenggang ke kursi senayan..Dia beg!Tu sibuk dan sangat optimis apa2 dia lakukan untk caleg itu,dia sampai menunda pernikahan kami demi caleg itu.Tp sangat dluar perkiraan usaha nya wktnya dan pengorbanan nya sia2 begitu saja karna disaat caleg itu menang,bagai kacang lupa kulitnya.

  • novita sari berkata:

    ade lucunya ditambah dong di teamlo vs……………………………?????????????

  • hantya berkata:

    untuk bukan aku yang ngalamin gagal,
    mentalku juga mungkin selemah mereka,
    jadi aku ga kaget kalo mereka pada seperti itu,
    karena bisa saja itu terjadi pada saya.
    Jadi ya kita doakan saja agar itu semua menjadi pelajaran bagi mereka di masa depan. Juga bagi kita2 semua. Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Caleg Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: