Kita pembuang atau penampung sampah di media sosial

Januari 14, 2020 § 1 Komentar

“Ada orang-orang yang belum tahu bahwa makanan bisa dimasukkan langsung ke mulut tanpa masuk Instastory dulu.” Demikian kalimat yang saya tulis sebagai status di akun Facebook saya. Kalimat yang sama juga saya kirim ke Twitter.

sampahmedsos.jpg

Teman, pengikut, dan warganet yang membaca kalimat itu kontan memberikan bermacam-macam respons. Ada yang menyatakan setuju, ada yang tertawa, ada pula yang merasa tersindir, lalu membalas dengan sinis. Padahal saya tak sedang menyindir siapa pun, melainkan hanya menangkap perilaku warganet secara umum demi konten di media sosial. Mengapa? « Read the rest of this entry »

Konten Pecas Ndahe

November 26, 2014 § 57 Komentar

Bagaimana kiat membuat konten twit yang bagus, disukai orang, di-RT banyak orang atau di-favorite banyak akun? Begitulah beberapa pertanyaan yang kerap saya terima.

Ada banyak jawaban. Begitu banyak teori. Saya lebih suka berbagi pengalaman selama saya berkicau di linimasa dan memberi contoh twit-twit saya yang mungkin bisa menjawab pertanyaan di atas.

Seperti apakah twit-twit itu? « Read the rest of this entry »

Pujiono Pecas Ndahe

Mei 14, 2014 § 21 Komentar

Bagaimana trik menambah jumlah follower di Twitter? Bagaimana taktik memperbarui status secara rutin di Twitter?

Teman saya @pujionojs yang memiliki sekitar 11,9 ribu pengikut di Twitter berbagi kiatnya dalam video di bawah ini.

Wawancara dilakukan oleh @pgridho dan @MR_Alung
Semoga bermanfaat.

>> Selamat hari Rabu, Ki Sanak. Apakah sampean merasakan video di atas berguna?

Follower Pecas Ndahe

Agustus 16, 2013 § 57 Komentar

Apa sesungguhnya yang membuat kita tertarik follow atau unfollow akun di Twitter? Karena pemiliknya kita kenal, isinya menarik, atau alasan lain?

Pertanyaan itu begitu menggoda setelah saya membaca kicauan @savicali ini:

Saya ulang dengan cetak tebal: Mengapa orang mengikuti orang yang mereka musuhi? « Read the rest of this entry »

Twit Pecas Ndahe

Agustus 15, 2013 § 30 Komentar

Sampean pernah jengkel membaca balasan kicauan dari sebuah akun di Twitter? Geli melihat reaksi follower terhadap twit sampean?

Setelah lebih dari empat tahun memakai Twitter, saya belajar mengenai kicauan para follower dan reaksi mereka terhadap setiap twit saya.

Tingkah akun-akun itu, baik yang menjadi follower maupun bukan, sangat beraneka rupa. Ada yang menyenangkan, inspiring, membingungkan, lucu, kadang bikin hati panas, menjengkelkan, atau membuat saya ingin menoyor kepalanya.

Kadang saya geli juga membaca respons dari salah satu follower seperti di bawah ini:

Bagi saya, setiap twit adalah eksperimen. Ia membawa saya ke sebuah petualangan baru yang berujung ke relaksasi jiwa. « Read the rest of this entry »

Audi Pecas Ndahe

Mei 9, 2012 § 49 Komentar

Selembar foto bisa bercerita tentang banyak hal: Tentang keriangan daun-daun yang berguguran di musim panas; kesunyian sebuah tanah pertanian; kesejukan pagi di Taman Ayodya, kemuraman langit di atas Jakarta, kemarahan para buruh di jalanan, dan seterusnya.

Sehelai foto juga bisa menyingkap teka-teki romansa sepasang manusia yang selama ini ditutup rapat-rapat dan ditampik dengan berbagai dalih. Seperti foto di sebelah kiri ini.

Ia menjadi semacam bukti atas keriangan-keriangan kecil yang semula tabu untuk diungkap secara blak-blakan oleh pelakunya.

Gosip, pergunjingan tentang kisah cinta para pesohor, memang menarik perhatian khalayak. Apalagi bila dibumbui aroma perseteruan dengan orang ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya. Orang bisa menikmatinya seraya mengudap popcorn atau menyesap segelas kopi di warung angkringan. Seru dibicarakan, tapi juga mudah dilupakan. « Read the rest of this entry »

Pacar Pecas Ndahe

Februari 1, 2012 § 93 Komentar

Laki-laki itu tiba-tiba menyebut akun Twitter saya di linimasa. Tidak hanya itu. Ia juga menggamit nama seorang penyiar televisi perempuan ternama dan memaki-makinya. Lelaki itu bahkan menyebut sang penyiar dengan julukan yang tak senonoh.

Saya kaget, tak menyangka ada orang yang dengan kasarnya mencemooh perempuan secara terbuka di ruang publik. Dan aksi itu dilakukannya beberapa kali. Dengan pesan yang kurang lebih sama: menjelek-jelekkan perempuan itu.

Saya diam saja, tak bereaksi membalas pesan lewat Twitter. Saya hanya membatin, pasti ada sebabnya lelaki itu menuliskan pesan yang tak pantas itu.

Dugaan saya terjawab kemudian. Perempuan itu mengirimkan DM. Ia meminta maaf dan menjelaskan siapa lelaki itu. Rupanya mereka pernah menjalin ikatan suami-istri. Biduk rumah tangga mereka ternyata berhenti di tengah jalan.

Akhirnya mereka bercerai. Sang suami tampaknya tak menerima keputusan pisah itu. Ia berang. Lalu menyerang mantan istrinya secara terbuka di linimasa. Serangan itu berlangsung terus-menerus, nyaris tanpa henti.

Dan saya jadi korban, ikut terseret mengetahui masalah orang lain yang sebenarnya tak perlu saya ketahui. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with twitter at Ndoro Kakung.