Roy Pecas Ndahe

Agustus 8th, 2007 § 35 Komentar

Surat Terbuka untuk Roy Suryo

Roy,

Pertama-tama izinkan saya meminta maaf kepada sampean atas semua posting yang saya buat dengan memanfaatkan nama sampean, tanpa minta izin pula, seenak saya sendiri. Padahal, justru berkat nama besar sampean, saya telah mendapatkan banyak keuntungan.

Saya telah memanfaatkan nama sampean yang memang empuk sebagai sasaran kecaman itu dengan semena-mena. Saya meminjam ketenaran sampean demi popularitas saya sendiri. Saya menjadi pendompleng yang tak tahu diri.

Terus terang saya ndak punya masalah pribadi dengan sampean. Begitu pula sebaliknya saya kira. Tapi, lihat betapa jahatnya saya yang sudah memanipulasi sampean. Saya pura-pura menawarkan senyum yang tulus ketika pada saat yang sama hati dan pikiran saya sebenarnya penuh muslihat. Padahal sampean ndak pernah melakukan hal yang sama kepada saya.

Saya jadi merasa kotor, seperti Durna, Yudas, dan para pengecut yang suka menikam dari belakang itu. Betapa tak adilnya saya. Betapa kekanak-kanakannya saya. Padahal apa salah sampean pada saya? Ndak ada sama sekali. Kesalahan sampean cuma satu: sampean sangat kondang, lebih tenar dari saya. Itu saja.

Saya kemudian menjadi orang yang munafik, mencaci maki sampean seraya berharap ada keuntungan yang bisa saya peroleh. Kemasyhuran, lonjakan statistik, panen komentar, dan sebagainya.

Padahal apa yang sampean peroleh dari saya? Saya justru memberi sampean cibiran, sindiran, cemooh, juga hujatan, yang kurang elok. Sungguh tidak adil.

Roy,

Tidak semua orang bisa seperti sampean, dengan segala kelebihan dan kekurangan sampean. Jarang-jarang ada orang yang seteguh sampean dalam bertindak, sebesar apa pun ongkosnya — seperti karang yang menyongsong gelombang.

Berbeda dari sebagian orang, sampean memiliki sesuatu untuk diyakini. Sampean juga berani melakukan sesuatu untuk membuat perbedaan, meskipun cara sampean ndak selalu benar. Tak banyak lagi orang seperti sampean yang dengan tekun, apa pun motifnya, mencari sesuatu yang sampean anggap sebagai kebenaran.

Tahukah sampean, apa kebenaran itu? Kebenaran itu ibarat cermin yang diberikan Tuhan dan kini telah pecah. Manusia memungut pecahannya dan tiap orang melihat pantulan di dalamnya, dan menyangka telah melihat kebenaran. Sangat repot bila kemudian ada yang menggunakan pecahan kaca itu untuk menusuk orang lain yang punya pecahan yang lain.

Sementara saya cuma bisa bersikap nyinyir dan bukan mengkritik sampean. Sebab, ada perbedaan besar antara nyinyir dan kritis. Kritik punya motif untuk mencari kebenaran. Dan karena kebenaran final tak kunjung tercapai, pencarian itu tak boleh mandeg. Artinya juga tak boleh hanya mengulang.

Sebaliknya, nyinyir itu lantunan lagu usang yang sama secara berulang-ulang. Dan, saya telah terpeleset menjadi nyinyir karena melontarkan kritik yang itu-itu saja pada sampean. Padahal sampean malah ndak pernah mengkritik, apalagi nyinyir pada saya. Sungguh ironis.

Karena itulah, sekali lagi, saya meminta maaf kepada sampean yang sebesar-besarnya. Saya meminta maaf untuk sikap oportunis saya, untuk kepengecutan saya, untuk ketidakpedulian saya, untuk segala yang telah saya semburkan pada sampean, tanpa saya memberikan kesempatan yang sama pada sampean untuk menyemburkannya ke saya.

Semoga sampean masih mempunyai hati seluas samudera, nurani yang jernih, dan pikiran yang terang untuk memberi saya maaf. Moga-moga sampean juga masih punya sedikit ruang kosong di sudut sanubari untuk menyimpan rapat-rapat semua kesalahan yang pernah saya lakukan pada sampean, baik sengaja maupun tidak. Terima kasih.

Salam
Ndoro Kakung

§ 35 Responses to Roy Pecas Ndahe

  • kw mengatakan:

    santai aja ndoro…
    selain pakar telematika, mas roy baik kok :)

  • yoki mengatakan:

    waduh….Ndoro memancing di air keruh nih….nanti blog ini di hacked sama pakar telematika Indonesia loh..kan…pakar gitu lohh

  • Pogung177 mengatakan:

    ……. Pakar Pornomatika… gobal mukiyo…
    ..pakar IT rak duwe blog, bilangnya blog hanya musiman, ternyata sebuah tulisan bisa membunuh karir sampeyan.

  • sapto mengatakan:

    saya salut ndoro,
    ndoro pilih menulis permintaan maaf,
    kalo saya mungkin pilih hapus posting yg bermasalah :P

  • adipati kademangan mengatakan:

    weks … ini malah tambah buthek airnya.
    (ada udang sembunyi di peyek)

  • Herman Saksono mengatakan:

    Pakde, kalau orang nyinyir bisa dibales dengan sikap kritis enggak?

  • anima mengatakan:

    maksudnya gimana yah ndoro? aku kok ndak mudeng ini

  • Biho mengatakan:

    Merdeka…ndoro!

  • kenny mengatakan:

    mau 17 an biasanya kan nebar kemaafaan ndoro :D

  • popo mengatakan:

    ndoro kakung memang bijaksana :D

  • gali mengatakan:

    salut dech ndoro,
    setiap orang punya “kebenaran” masing masing,
    tetapi juga tiap orang boleh “berpendapat” menurut diri masing-masing.

    kalaupun pada akhirnya pendapat kita salah, tidak perlu kita berkubang terus dengan kesalahan, tapi maju terus untuk membuat segalanya menjadi lebih baik.

    tapi ndoro, terlepas benar atau salah, banyak yang MERASA membuat segalanya menjadi lebih BAIK,
    tapi kenyataannya TIDAK.

    let’s make a different.

    salam

  • ROY SURYO mengatakan:

    INGGIH MBOTEN MENOPO-NOPO..KOK EYANG KAKUNG, KULO YO INGGIH…SAMI, WONTEN INGKANG SALAH…KATAH MALAH….KULO NIKI YO BADE NYUWUN PANGAPUNTEN SOALE KULO NGGIH NGAPUSI PANJENENGAN…KULO NIKI SA’JANE PAKAR TELEK MATIKA SANES TELEMATIKA…….

  • peyek mengatakan:

    wah… bahaya!
    padahal ada ribuan roy lain di negeri ini

  • mbahatemo mengatakan:

    mas ndoro, sebenernya layang ini dibaca pak roy ndak sih?

    *yo mbuh yo*

  • firman firdaus mengatakan:

    protes ya dia?

  • AdhiRock mengatakan:

    Wah Le’ atine sampeyan legowo tenan he.. salah gelem jauk ngapura.. padahal sing wis konangan ngapusi yo rung jauk maaf. Sakpore tenan wis jan sampeyan iki…
    salam kenal yo Le’

  • iway mengatakan:

    elegan sekali ndoro, sangat waskito :D

  • didi mengatakan:

    ini musti ada berita dibalik berita.

  • sapto mengatakan:

    Salah tuh,
    kayaknya bukan waskito deh, tp Wicaksono :P

  • bee mengatakan:

    Hehehe, Ndoro iki cerdas ancene. Kethok e iki permintaan ma’af, padahal lek sing moco gelem mikir thithik, asline iki sindiran (maneh) gawe si Kermit. Tapi yo ora popo, apik malah, iso menampilkan 2 kesan nang 1 tulisan. ;)

    BTWBW, jarene personally si Kermit iku apik kok Ndoro. Saking apik e wong iku, dekne cuman ora nduwe 2 hal, yaitu: ora nduwe isin karo ora nduwe wareg! Hahahahaha… :D

  • upikabu mengatakan:

    ndoro pancen oye…;)

  • Roy Suryo mengatakan:

    iya saya maafkan…… :)

  • Aris mengatakan:

    next postingan, cerita dibalik cerita ya ndoro.

  • mayssari mengatakan:

    tiap orang berhak punya pendapat…

  • didats mengatakan:

    ada apaan sih ada apaan sih

  • -tikabanget- mengatakan:

    sebagai pakar kebangetan, sayah maklumi semua perbuatan sampeyan

  • -tikabanget- mengatakan:

    dan sayah sudah melakukan riset mendalam bersama tukang-tukang kebun sayah.

  • Sebuah tulisan yang hanya bisa ditulis oleh orang yang berhati lapang dan bijaksana. Saya yang bukan Roy Suryo saja trenyuh membacanya, apalagi Roy Suryo mungkin dia akan menitikan air mata, karena saya yakin anda menulisnya dengan tulus.

  • jalansutera mengatakan:

    halah, ndorokakung nih… sampeyan ini pura-pura minta maaf atau memang cari ketenaran? hahahahaha….

  • yati mengatakan:

    maaf2an abis lebaran aja….kalo umur nyampe :d

    btw…ada apa sih, Ndoro?

  • yuki mengatakan:

    knp saya nangkepnya kaya ndoro lagi nyindir yah ^_^

  • panditanegara mengatakan:

    Kalo ini maksudnya bener-bener permintaan maaf, saya salut sama sampean, Ndoro.. sungguh bijak dan ksatria, sekaligus elegan.

    Kalo ternyata ini sindiran halus, saya juga tetep salut dengan cara Ndoro mengemasnya.. hehe.

    Tapi saya lebih menganggap ini sebagai permintaan maaf yang tulus, bukan begitu Ndoro? :)

  • dogol mengatakan:

    walah2…ini udah jaman reformasi yah koq masih bertekuk lutut ma “kekuasaan”… dan aneh juga yg pada kasi komentar2 disini, ibaratnya spt mengikuti arus, klo pas lg menghujat… ikutan juga.. pas lg minta maaf, nebeng juga, weleh2… takut kena culik ma pulisi yg di backup ma mas Roy ya? mbok ya nyontoh ke mas priyadi.net

  • Cah Klaten mengatakan:

    whey… jangan2 yang komemtar ini roy suryo semua

  • Ky mengatakan:

    alah hi ROY™ mah anjeng pakar palsu, coba donk mw merasakan ke”pakaran”nya dalam IT.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Roy Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 316 pengikut lainnya.