Archive for September, 2007
Kencan Pecas Ndahe
Pada sebuah sore yang syahdu, ada seorang perempuan terlihat sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan di jantung Jakarta.
Tiba-tiba teleponnya menjerit-jerit panjang. “Kriiing … kriiing … kriiing …”
Oh, rupanya sang kekasih hati yang menelepon, hendak mengajaknya berkencan. Dengan hati berbunga-bunga, perempuan itu pun menyanggupinya.
“I’d loved too, honey,” jawabnya dengan manja. “You just say where and when, Oom.” Halah … Read more
54 commentsUstad Pecas Ndahe
Seorang blogger bernama Sunu Wibirama ketiban apes. Postingnya [sudah dihapus dari blognya] yang mengkritik perilaku para ustad membuat marah seorang ustad kondang. Ustad ini merasa tersindir oleh tulisan Sunu. Ia lalu mengirim somasi email, mengancam akan lapor polisi, dan meminta Sunu mengklarifikasi pernyataannya.
Saya beroleh kabar itu dari Momon, kakak kelas Sunu [mahasiswa Teknik Elektro UGM]. Momon itu kakak kelas Sunu waktu sekolah dulu di SMAN 3 [Padmanaba] Yogyakarta. Lalu, saya merasa kabar ini perlu diketahui khalayak ramai, termasuk sampean, dengan memuatnya di sini.
Kasus itu bermula setelah Sunu membuat tulisan yang belakangan dimuat di situs milik ustad itu. Ini cuplikannya, mohon maaf tak dimuat lengkap. Read more
124 commentsMakian Pecas Ndahe
Kangen Band yang ngetop dengan lagu Selingkuh itu rupanya menuai kontroversi. Selain lagunya digemari dan laris terjual sekitar 500 ribu kopi, Kangen Band tak luput dicaci-maki. Sebuah kelompok rap bahkan telah mengedarkan lagu dengan lirik sepedas cabe rawit.
Saya tahu kabar itu dari Anto dan kemudian menemukan berita di KCM tentang beredarnya lagu berisi sumpah serapah itu. Saya jadi heran, kenapa sampai begini? Read more
72 commentsKenikmatan Pecas Ndahe
Setiap kali berpuasa, godaan itu terlihat semakin menawan. Es kelapa muda. Es blewah. Es jeruk. Es cendol. Baso urat. Soto ceker. Sate & sop kambing Casmadi. Halah.
Sampean mungkin bisa menyebutkan lebih banyak lagi daftar makanan dan minuman yang paling mengundang selera di bulan puasa ini.
Tapi, bayangkan ketika malam hari. Apa sampean ya masih pengen menjejali perut dengan aneka makanan itu? Apa sampean masih kebelet menenggak soda dingin dan teman-temannya itu? Rasanya kok tidak, kecuali sampean memang punya perut berisi tujuh kere lapar.
Begitu tanda waktu buka puasa tiba, seseruput teh manis dan secuil kurma manis rasanya sudah melebih segalanya. Kita seolah mendapatkan kenikmatan yang tiada banding.
Dari mana sebetulnya kenikmatan itu datang, Ki Sanak? Read more
14 comments






