Arsip untuk Desember, 2007

Bayi Pecas Ndahe

Desember 25, 2007

Hari ini, lebih dari 2.000 tahun yang lalu, ada jabang bayi lahir di kandang domba. Tapi, siapa sebenarnya yang lahir di Betlehem 25 Desember itu?

Saya ndak tahu. Tapi, Paklik Isnogud pernah bercerita, “Barangkali tak seorang bayi pun, suci atau tak suci, lahir di hari itu, Mas. Sebagian orang yang meneliti perkara ini pernah menyimpulkan bahwa hari kelahiran Yesus ditentukan kemudian dan tidak ada hubungannya dengan catatan dan akurasi sejarah.”

“Kok bisa begitu, Paklik?”

“Bisa saja. Bahkan tanggal yang sekarang menjadi Hari Natal itu pada mulanya ada kaitannya dengan ritual pra-Kristen di Eropa, demikian juga halnya pohon Natal, dan entah apa lagi.

Tapi, pentingkah itu semua? Barangkali juga tidak. Cerita tentang Tuhan, para nabi, cerita tentang mukjizat, tentang pengorbanan jiwa, cerita tentang pengalaman religius dan hidup sebelum dan sesudah dunia, semua itu terlampau dahsyat untuk para penelaah fakta historis yang ketil dan cerewet.” (lebih lanjut…)

Adab Pecas Ndahe

Desember 24, 2007

Someone has told me this, “Just because we’re on the Internet doesn’t suddenly mean nobody needs manners anymore.”

Setujukah sampean?

Lalu, bagaimanakah sebetulnya adab bergaul di ranah blog, dan Internet? Perlukah kita menenggang rasa? Toleran? Or rejoice?

Ada yang bilang, kita bahkan tak memerlukan apa itu namanya, etika/etiket. Sebab, di sinilah kita bebas dan merdeka, semaunya. Tata krama cuma ada di alam nyata.

Internet itu jagad buram — maya. Jadi buanglah segala aturan, nilai dan norma, pepatah-petitih, petuah, juga basa-basi itu.

Mmm … begitukah?

Iseng Pecas Ndahe

Desember 23, 2007

Singkat saja: Bagaimana seandainya SEMUA orang sudah punya blog?

Current Pecas Ndahe

Desember 22, 2007

Seseorang bertanya, ke mana perginya current issue dari sini? Lah ini, Mas!

Ini? Iya! (lebih lanjut…)

Kavadi Pecas Ndahe

Desember 21, 2007

Malam seperti itu, hujan sering turun. Ada kabut tipis dalam gelap, tumbuh dari udara panas. Kulit terasa lekat. Tapi hujan telah menunjukkan janjinya, untuk datang. Kaki-kaki telah bergegas. Orang mencari tempat dan atap.

Di antara suara sandal itu ada sepasang kaki yang lain. Bukan lain karena telanjang dan tua, tapi karena ritmenya berbeda. Langkah itu mirip langkah seorang penari kavadi. Cekatan, bersemangat, meskipun yang empunya berambut putih meskipun seluruh tubuhnya jembel, meskipun ia seperti sendiri.

Wajahnya adalah wajah tersiksa seorang penari kavadi — tersiksanya seorang kesurupan. (lebih lanjut…)