MUI Pecas Ndahe

Juni 9, 2007 § 20 Komentar

Silakan sampean menuliskan komentar terhadap gambar di bawah ini … 😀


[foto didapat dari milis medicare]

Saya cuma mikir, MUI itu kok jadi mirip ibunya Malin Kundang ya? Apakah yang dikutuk terus jadi batu juga?

Iklan

§ 20 Responses to MUI Pecas Ndahe

  • mbahatemo berkata:

    bedik-bedik’an… sebelum lahir, berapa bulankah si malin kundang di dalam kandungan ibunya?

    jawabannya ada di sini .. 🙂

  • Seorang Ibu berkata:

    Cerita malin kundang itu beneran yak? Prasaku sih ga ada ibu mau ngutuk anake… sak mangkel2nya…ibu itu yg penting anake seneng yo melok seneng…

    BTW kalau mau ciuman nanti di surga di sediakan 70 ribu bidadari..;)

  • Dian berkata:

    sapa tau dikutuk jadi brad pitt

  • anima berkata:

    @Seorang Ibu: buset, cium 70 ribu apa ga jontor ntar yah..

  • mayssari berkata:

    seharusnya ada batasan tertentu…..
    menurut saya kalau untuk sebuah pementasan, film atau apalah yang berhubungan dengan kreativitas, ya.. jangan asal kutuk macam itu
    saya yakin kebudayaan akan mati dan kreativitas akan terpasung..
    ya kembalilah kita ke jaman primitif lagi……..

  • kw berkata:

    mui itu emang gak kreatip dari dulu kala. taunya cuman ngelarang dan ngutuk. mui lebih jahat dari ibunya malin kundang yang jelas-jelas anaknya durhaka. “kreatip” kan tak identik dengan bejad kan? 🙂

  • Abi_ha_ha berkata:

    Minimal ada yang tetap konsisten dengan nilai-nilai.
    Misal, jaman dulu nilai di masyarakat : “Jangan Bersebutuh di Luar Nikah”
    Lalu tahun 60-70’an : “Jangan Hamil di Luar Nikah”
    Lalu jaman sekarang : “Cegah Penyebaran HIV, Pakai Kondom”
    Biar tidak bingung. Nurut monggo, nggak ya monggo tho?

  • Hedi berkata:

    Bagus sih MUI masih mau bersuara, tapi mbok ya jangan cuma sampe situ, kutuk juga praktek KKN di negeri ini yang mudaratnya justru bikin bangsa hancur.

  • kikie berkata:

    kapan MUI mau kutuk korupsi 😀
    apa ndak berani ..

  • mei berkata:

    ciuman selama mukrimnya(katanya) gak di larang to??

  • bangsari berkata:

    mui? masih ada to? heran juga

  • singgih berkata:

    Walah, lha lama-lama komen-nya njuk marakke rame lho iki. Lha ranahnya udah lain je. contone aku. Lha melu serik nek MUI dikata-katain gitu. Lha sing muslim ning emoh ro MUI yo keplok saiki (suk nangis. insya Allah). lha nek sing ora muslim ngono gimana lagi. sorri lho, ra apik postingan iki. makasih.

  • Panji berkata:

    Hati-gati posting ndoro, jangan menyinggung SARA. Soalnya sensitif. Nanti jadi perang opini yang negatif. Toh, kutukan MUI tak bisa “dieksekusi”, kan? Hanya sebatas himbauan semata.

  • iwak kutuk berkata:

    “kreatip” piye? lha wong jelas-jelas pentas di lingkungan kampus, yang main orang kampus, yang nonton orang kampus. kalo itu dianggap melanggar etika ya memang. kalo mau melakukan adegan itu ya diluar saja sana ato di kamar masing-masing biar lebih bebas. gumun………………

  • AmruL berkata:

    Kadang kalo kita terlalu kreatip ampe pake ciuman di depan umum….
    Tukang kutuk jg gak mo ketinggalan dunk…..
    Ntar mereka dianggap jg gak kreatip …..
    Maka keluar lah Kutukan kreatip ala MUI….

  • Abu Hakeem berkata:

    aku nunggu sutradara bikin adengan dia ama bininya di atas pentas. aku jamin, aku ga akan kutuk deh… sumpeeeeeee……

    tapi kalau sang sutradara hebat itu ga berani, aku jamin ga berani dia… paling dia akan suruh aktor murahan dia untuk memperagakan adengan itu… yah, aku sumpeeee dia akan aku kutuk…

    huahahaha….

  • Iwak Kutuk berkata:

    Abu Hakeem:
    Tul ya…kuwi bener banget….sing melakukan adegan gituan di atas pentas teater mang aktor murahan…kampungan…tapi kok ngakunya mahasiswa ya? apa mahasiswa itu mang kayak gitu? gak tho?

  • Dimas berkata:

    Beda primitf dan tidak adalah kl primitif tidak ada aturan sehingga berbuat sesuatu seenaknya tanpa batasan terutama norma agama, sedang yang tidak primitif sebaliknya.

    Tinggal sampeyan milih jadi kembali ke primitif sebelum ada agama atau jadi orang yang beragama yang tidak lagi primitif.

    Peace

  • sabdo berkata:

    nggak melu comment, wong jarene wong-wong aku ki ustadz je…

  • Tikno berkata:

    Nggih nDoro, kadose mboten sae postingan meniko. Jarene gajah mada mbiyen, sing penting opo sing iso diraupno kanggo ngapiki negoro, duduk njendul MUI koyo ngene iki… ngapunten nDoro, taksih kathah kreatif sing mboten nambah nesune Gusti Kang Murbeng Jagad, pangapunten nDoro…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading MUI Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: