Lee Pecas Ndahe

Juli 26, 2007 § 12 Komentar

Ia sudah senior. Seorang mentor. Namanya Lee Kuan Yew. Kita tahu siapa dia. Hari-hari ini dia tengah melawat ke Jakarta, bertemu banyak orang. Dan, banyak berkata-kata. Tentang hubungan Indonesia-Singapura, soal politik, ekonomi, dan sebagainya.

Ah, pak tua itu belum pikun juga rupanya …

Paklik Isnogud cuma senyum-senyum ketika saya mengajaknya ngobrol tentang Mr Lee itu. Saya ikut mesem juga. “Ah, sampean pasti mau ngeledek pak tua itu ya, Paklik?”

“Ndak, Mas, Ndak … Saya justru kagum pada Tuan Lee itu,” jawab Paklik.

Kagum? Kenapa?

“Saya ingat sebuah cerita tentang Tuan Lee, Mas. Sampean mau dengar?”

Saya mengangguk.

“Hari itu adalah sebuah hari setelah awal 1985 lewat,” Paklik memulai ceritanya. “Waktu itu, ekonomi Singapura tak tampak lagi tumbuh laju. Orang justru berbicara tentang makin derasnya tingkat pertumbuhan itu merosot.

Cepatnya kemerosotan ini mengingatkan saya kepada seorang penerjun payung yang meloncat dari pesawat dan parasutnya tak terbuka, kata Wakil Perdana Menteri Pertama Goh Chok Tong.

Dengan kata lain, awas: sang penerjun, di tengah proses kejatuhan itu, tak boleh gagal membuka payungnya.

Tapi, Singapura, kemudian, merayakan hari nasionalnya yang ke-21. Sang penerjun ternyata belum membentur darat.

Bendera-bendera dikibarkan di seluruh Republik yang kecil itu. Kembang api meloncer-loncer ke angkasa. Sebuah kue seberat 60 kilo — bergambarkan kepala singa, gaya baru dipotong di ruang dalam Istana. Di siang harinya, parade besar ditampilkan. Dan Perdana Menteri Lee Kuan Yew berpidato bahwa ekonomi Singapura tampak tumbuh sedikit, 0,8% pada kuartal kedua tahun ini.

Tapi, rupanya ada negeri yang digerakkan untuk tidak menjadikan konsep tata tentrem sebagai sebuah ide dalam imajinasi mereka. Malam itu, Lee Kuan Yew menyerukan sebuah seruan “awas” yang lain.

Kepada bangsanya ia berkata, banyak hal masih bisa jadi tidak beres. Ujian yang sebenarnya akan tiba tahun depan. Dan masa jaya pertumbuhan ekonomi yang cepat, seperti dua dasawarsa yang lalu, tak bakal kembali.

“Together Singapore, Singapore!” seru penyanyi Clement Chow di malam kembang api.

Barangkali itulah salah satu resep Lee Kuan Yew untuk menjadikan Singapura bukan cuma sebuah tempat, tapi juga sebuah bangsa. Ia tidak berbicara tentang sebuah masa depan yang adil makmur. Ia tak menjual gagasan tentang masyarakat yang sempurna.

Seorang pragmatis tulen, ia berbicara tentang proses, yang tak henti-hentinya, dan tantangan, yang senantiasa datang. Ilusi tentang ketenteraman itu berbahaya — bahkan Lee terasa menolak konsep ketenteraman itu sendiri.

Ia, untuk meminjam kata-kata sebuah puisi Takdir Alisjahbana, meninggalkan “teluk yang tenang tiada beriak”. Lee Kuan Yew hanya menyongsong gelombang.

Karena itulah Singapura yang diproyeksikannya adalah Singapura yang siaga, dengan mata tak berkedip ke depan — dan juga kepada para tetangga di sekitar. Singapura justru memanfaatkan ukuran geografinya yang terbatas, sebagai pelecut untuk menjadikan diri sejenis Daud di hadapan Goliath: kecil, liat, ramping, cerdik, gagah.

Metafor yang dipergunakan Goh Chok Tong, ketika berbicara tentang kemerosotan tingkat pertumbuhan, agaknya juga mengandung citra diri semacam itu: Singapura sebagai “penerjun payung” — sosok yang soliter, tapi berani, terlatih, dan menentukan nasibnya sendiri.

Dengan kata lain, seluruh situasinya adalah situasi ke arah survival.

Karena itulah sukses ekonomi Singapura terkadang jadi problemnya sendiri. Perdana Menteri Lee, misalnya, menyatakan cemasnya melihat bagaimana anak muda jadi terlampau banyak makan dan terbiasa hidup manja.

Di lain pihak, para pengkritik masyarakat Singapura cemas melihat bagaimana bangsa itu umumnya kini hanya mengenal harga-harga di toko, tapi tak mengenal nilai-nilai dalam persahabatan.

Tapi itulah tandanya bangsa yang tidak suka menjadikan tata tentrem sebagai sesuatu yang mirip adem ayem. Mereka selalu cenderung melihat lebih cepat kekurangan sendiri. Mungkin itulah sebabnya para pemimpin Singapura lebih cepat pula mengoreksi keadaan dan menyiapkan diri menghadapi problem yang akan datang.

Suksesi adalah contohnya. Lee Kuan Yew — yang menjadi perdana menteri selama 31 tahun (1959-1990) — tahu bahwa ia tak akan selama-lamanya di situ. Maka, ia pun menyediakan tempat, dan melatih, para pemimpin baru pada saat mereka muda — sadar bahwa ia sendiri dulu mampu jadi perdana menteri sebelum umurnya 40 tahun.

Itu berarti, kalaupun Singapura tak cukup punya ilmu bumi yang kaya dan sejarah yang lama, dengan masa lalu yang pendek itu ia telah siap dengan masa depan yang panjang.

Singapura itu suatu kebetulan sejarah yang beruntung, kata seorang pensiunan diplomat yang berbahasa Mandarin dengan fasih. Negeri ini kecil dan ia punya seorang Lee Kuan Yew, bukan seorang yang ngawur seperti Mobutu. Lee mungkin bukan seorang demokrat, tapi dengan pemimpin macam dia, orang memang tidak kebelet perlu demokrasi, bukan?

Saya tak bisa begitu saja mengiyakan, Mas. Tapi paling tidak saya sadar betapa bisa berpengaruhnya seorang pemimpin.”

Saya termenung mendengar cerita Paklik Isnogud. Mungkin dia benar, seorang pemimpin bisa sangat berpengaruh. Seperti Lee.

Bener ndak, Ki Sanak?

Iklan

§ 12 Responses to Lee Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Lee Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: