Pahlawan Pecas Ndahe

Juli 27, 2007 § 15 Komentar

Seorang perempuan pernah bertanya, “Apakah semua lelaki begitu ingin tampil menjadi pahlawan bagi seorang perempuan?”

Suaranya menggeletar. Matanya basah.

Saya tahu, ia sedang kecewa, mungkin juga cemburu, karena mengetahui bahwa lelaki terdekatnya tiba-tiba memutuskan untuk menikahi seorang perempuan yang bahkan belum pernah ditemuinya. Seorang perempuan yang mengidap penyakit gawat dan umurnya mungkin tinggal sebentar lagi …

“Saya sudah lama mendengar cerita ini. Tapi saya tetap tak habis pikir ketika dia memberitahu saya mengenai keputusannya menikahi perempuan itu,” katanya.

“Benarkah lelaki selalu mau jadi pahlawan bagi perempuan?” ia mengulang pertanyaan.

Saya diam, teringat pada para pria yang selalu sigap membuka pintu, menahan lift, membawakan tas belanja, menggandeng tangan sewaktu mau menyeberang …

Adakah lelaki itu memang pahlawan bagi perempuan?

Paklik Isnogud seperti biasa cuma tersenyum ketika mendengar pertanyaan itu. Parasnya menunjukkan kearifannya, sebuah telaga yang tenang tanpa gelombang.

“Cerita tentang seorang pahlawan memang tak pernah mati, Mas,” katanya ringan. “Kita selalu kepingin mendengarnya kembali. Sayangnya, orang terkadang ingin menghentikannya tanpa tahu apa yang dilakukannya: orang tak sadar bahwa pahlawan mati untuk kedua kalinya — dan tak akan hidup lagi — ketika ia jadi orang keramat.

Menjadi orang keramat, bagi si pahlawan, adalah sebuah proses yang mudah meskipun sebenarnya ganjil. Bahkan kian lama sering kian kabur apakah makam Bung A (dia pahlawan) tidak berbeda dengan makam Kiai A (dia keramat).

Pengeramatan terjadi dengan mudah, ketika kita, seraya memandang kagum sang pahlawan, kehilangan kepekaan terhadap tragedi. Di masa lampau, ketika “pahlawan” tak sekadar sejenis gelar kedinasan — dengan diberi surat dengan nomor dan dimakamkan berderet di sebuah kuburan khusus kepahlawanan selalu mengandung satu tragedi.

Tragedi adalah sesuatu yang mengalahkan manusia tapi sekaligus menempatkannya di medan kebesaran.

Bayangannya adalah Bhisma yang gugur bersandar pada puluhan anak panah yang mencoblosi tubuhnya. Monginsidi yang ditembak mati. Kartini yang remuk berbenturan dengan struktur sosial Jawa di masa kolonial abad ke-19.

Kita memang umumnya tergetar oleh gugurnya Bhisma, kematian Monginsidi, dan penderitaan Kartini, tapi kita sering lebih terpesona oleh keperwiraan di sana. Kita lupa akan rasa sakit yang menyengat dalam luka dan kekalahan.

Dengan segera, tokoh besar itu pun jadi tokoh keramat. Tragedinya cuma jadi latar belakang bukan justru sesuatu yang esensial untuk menentukan sejauh mana tindakan seseorang benar-benar heroik, sejauh mana pula itu sekadar sebuah bravado.

Tapi, tidakkah kita lupa bahwa seorang keramat sebenarnya kebal terhadap tragedi? Bahkan seorang yang di luar tragedi: tak akan terkena kesunyian, kebimbangan, ketakutan, dan rasa sakit pada tubuh? Bahwa semua tetek bengek itu — pada saat menggempur dirinya — hanya ibarat angin lalu.

Siapa yang memandang tokoh seperti Kartini (atau juga Monginsidi, Pak Dirman, Bung Karno) dengan pandangan itu akan menghentikan semua cerita pahlawan, atau lebih tepat cerita perbuatan kepahlawanan.

Seorang manusia yang begitu gagahnya hingga tidak menanggungkan suatu kesedihan apa pun, atau kebimbangan apa pun, atau bahkan pamrih apa pun, tak bisa disebut pernah berbuat heroik.

Tindakan heorik mengandung pengorbanan diri sendiri yang sangat besar. Tindakan heroik adalah hasil pilihan yang pedih, antara “ya” atau “tidak”. Tanpa pilihan gawat itu, tindakan gagah yang mana pun akan keluar sebagai tindakan biasa saja, tanpa gundah hati, tanpa gelora, cuma otomatis.

Maka, cerita perbuatan kepahlawanan selalu memikat, karena apa yang terjadi bukanlah perbuatan sebuah otomaton yang cuma mengikuti satu gerak yang sudah diprogram. Kisah Kartini, misalnya, menjadi menarik karena, seraya ia menggigit bibir dan menahan tangis mengalahkan dirinya, riwayat hidupnya jadi cerita perjuangan yang tak semudah “perjuangan” dalam kisah-kisah sinetron di TV — dan sekaligus suatu pengungkapan tentang banyak hal yang tak beres dan tak adil.”

Saya berpikir keras untuk mencerna kalimat-kalimat Paklik.

“Sampean juga bisa melihat kisah seorang pahlawan pada diri Jerry Robin,” Paklik meneruskan dongengnya.”

Jerry? Siapa dia?

“Ia tokoh gerakan anti perang Vietnam di tahun 1960-an. Ia lahir di tahun 1938. Ayahnya seorang sopir truk yang agak tersia-sia oleh para ipar. Lelaki yang tak lulus sekolah menengah atas itu mengawini gadis terpelajar dari keluarga yang lebih kaya. Dari perkawinan itu lahir Jerry — yang merasakan perbedaan kelas dengan rasa iri diam-diam.

Jerry dikenal sebagai tukang protes. Yang pertama-tama menggerakkan protesnya ialah Pepsi, bedindenya. Si Pepsi datang tiap hari merawat Jerry dan adiknya Gil, ketika ibu mereka menderita kanker. Bayarannya kecil. Tapi Pepsi selalu senyum, mencintai anak-anak itu, dan akhirnya menyadarkan Jerry akan sesuatu. Yakni bahwa ada yang tak beres dengan masyarakat tempat ia hidup — masyarakat yang mengajar anak-anak berkulit hitam jadi babu.

Pada 1964 Jerry berangkat ke Kuba. Di negeri revolusioner itu dia ketemu Che Guevara. Pejuang revolusi Amerika Latin itu memikat hatinya. Jerry pulang ke Amerika dengan tekad seorang aktivis. Ia pun meninggalkan kuliah. Ia mencurahkan seluruh waktunya untuk “pergerakan”. Ia menjenguk Partai Pemuda Internasional, Youth International Party yang lebih dikenal sebagai yippie.

Klimaks gerakan protes mereka terjadi dalam demonstrasi besar yang termashur di Chicago pada 1968. Namanya kian harum justru ketika ia diadili bersama enam mahasiswa dan pemuda lain yang dijuluki sebagai “Chicago 7”.

Ia dihukum, tapi proses keadilan yang panjang akhirnya menyebabkan ia cuma harus menjalani tinggal di kurungan beberapa bulan. Ketika ia menulis buku Do It! — sebuah petunjuk kaum anarkis, dan laku keras, ternyatalah: Jerry Rubin memang terkenal.

Tapi kemashuran itu adalah juga pembeku. “Masalah yang timbul dengan kemashuran ialah kita jadi beku di dalam satu kerangka,” tulisnya. “Seorang yang termashur harus mau menukar kehidupan pribadinya dengan terpeliharanya gambaran dirinya menurut publik. Ia menghabiskan waktunya berjam-jam mencemaskan citranya sendiri.”

Image Jerry Rubin adalah seorang pemberontak, seorang radikal, mercusuar pergerakan anak-anak muda, seorang pahlawan. Tapi keluhnya: “Kian sukar jadi seorang hero. Orang mengharapkan saya lebih dari manusia biasa. Saya telah jadi lambang bagi beribu anak-anak muda, satu hal yang menyenangkan saya, tapi juga makin lama makin meresahkan.” Apalagi Jerry makin tua: waktu itu umurnya 34.

Ia toh masih datang ke kota Miami, tempat diselenggarakannya Konvensi Partai Republik dan juga Partai Demokrat. Sebelumnya, pada 1968, selama Konvensi Partai Demokrat di Chicago, Jerry berhasil bikin kegaduhan besar. Empat tahun kemudian agaknya ia masih ingin menggertak lagi dan jadi pusat perhatian.

Tapi, di Miami dia tinggal di hotel, bukan tidur di petamanan kota bersama para “pejoang”. Maka pada ulang tahunnya yang ke-34 persis, anak-anak radikal yang lebih muda pun datang ke hotelnya — bersenjatakan kue yang akan mereka lemparkan ke muka Jerry.

Itulah tanda pensiunnya dari pergerakan. Bukankah ia sendiri pernah menyerukan doktrin “Jangan percaya kepada siapa pun yang berumur di atas 30!”

“Aku merasa mati pada umur tiga puluh empat,” tulis Jerry Rubin.

Ia kemudian menempuh jalannya sendiri. Jerry teringat pengakuan seorang kawan seperjuangannya. “Akhirnya aku menerima kenyataan bahwa aku tak akan pernah jadi Che.”

Tak semua memang orang bisa jadi pahlawan. Juga tak semua pahlawan dimaksudkan untuk jadi pahlawan terus menerus.

Untunglah: sejarah terdiri dari pelbagai estafet. Ada masanya kita cenderung percaya kepada tafsiran Marxis, bahwa dialektika sejarah mernbuat tokoh-tokoh besar bukan unsur penting dalam riwayat manusia. Bagi tafsiran ini, revolusi tak pernah dilahirkan oleh pemimpin-pemimpin.

Revolusi muncrat oleh massa yang bergejolak karena kebutuhannya tak terladeni oleh kasta yang memerintah. Pemimpin dan pahlawan hanya produk sampingan.

Pahlawan pada akhirnya hanya lahir sekali-sekali, tak bisa direncanakan. Di panggung yang begitu luas, sang tokoh memang menyolok. Tapi cerita silih berganti. Lakon berbeda-beda. Jika sejarah ibarat drama atau dongeng, peran besar hampir tak akan pernah berulang dalam cerita lain.

Mao Tse-tung pernah konon mengibaratkan dirinya dalam sejarah seperti “seorang rahib, yang berjalan sendirian dalam hujan, dengan payung bobrok.”

Kita tak tahu apa benar maksudnya. Tapi pada taraf terakhir yang kemudian dikenang, ia memang hanya tokoh. Toh kata “sendirian” di sana terasa agak ngilu, agak lucu …

Paklik mengakhiri ceritanya dengan mata memandang ke luar jendela. Siang begitu menyengat di pabrik. Satu dua buruh terlihat sedang berkemas hendak ke masjid …

Iklan

§ 15 Responses to Pahlawan Pecas Ndahe

  • ayamjagobanget berkata:

    whew… panjangg!! ga sempet baca tapi selamat hari pahlawan yaaaaa

    asikkk pertamaaa

  • mbahatemo berkata:

    mas ndoro, sampeyan pahlawan juga ya? 😀

  • kartika berkata:

    lho?? hari pahlawan sudah diganti jadi tanggal ini yaa?

  • venus berkata:

    aduh, bingung *garuk-garuk kepala*

  • triadi berkata:

    risiko menjadi pahlawan, terkenal, nyeleb adalah siap menjadi alien…

  • blanthik_ayu berkata:

    buatku tetep..u are my hero…”wink” 😀 miss u ndoro..

  • copet ganteng berkata:

    wah..sui sui bahasan ne ra ngedongi
    ga da kaitanya,hehe… jdmales baca..
    coba nerusin ceritanya diajeng,pasti coment nya rame…

  • Abi_ha_ha berkata:

    “Pemimpin dan pahlawan hanya produk sampingan”

    lagi-lagi ndoro kaleh paklik bener… kalo makmur toto tentrem, weteng adem turu ayem, siapa butuh pahlawan (juga pemimpin)?

  • mbakDos berkata:

    stuju sama paklik…

    kenapa gelar pahlawan lebih sering diidentikkan dengan menang-kalah?! kalok yang menang itu layak disebut pahlawan karena berhasil mempertaruhkan segala yang dia punya demi sesuatu yang diinginkannya.

    lalu bagaimana dengan yang kalah? apa dia juga tidak layak disebut pahlawan karena berani menerima kekalahannya?! berani menerima rasa sakit sebagai akibatnya?!

    lho jadi… pahlawan itu siapa sih ya sebenernya?! 😛

  • -tikabanget- berkata:

    “Masalah yang timbul dengan kemashuran ialah kita jadi beku di dalam satu kerangka,” tulisnya. “Seorang yang termashur harus mau menukar kehidupan pribadinya dengan terpeliharanya gambaran dirinya menurut publik. Ia menghabiskan waktunya berjam-jam mencemaskan citranya sendiri.”

    begitulah yang terjadi pada sayah.. hahh..

  • mariskova berkata:

    Jadi, apakah benar semua lelaki begitu ingin tampil menjadi pahlawan bagi seorang perempuan, Ndoro?

    Saya sendiri sih lebih mencari partner sesama penenteng bedil, daripada berlutut kagum di depan sang pahlawan 😀

  • Titis Sinatrya berkata:

    Mari mengheningkan cipta untuk para pahlawan sambil menunggu ndoro melanjutkan cerita diajeng, Ndro pasti jadi pahlawan juga kah??? ………………….

  • mayssari berkata:

    Semua orang dapat menjadi pahlawan, tak terbatas waktu tergantung cara pandang dan siapa yang memandang saja…
    I like this entry

  • tito berkata:

    Too few characters out there, flying around like that, saving old girls like me. And Lord knows kids like Henry need a hero. Courages, self-sacrificing people, setting example for all of us.

    Everybody loves a hero. People line up for them, cheer them, scream their names. And years later, they’ll tell how they stood in the rain for hours, just to get a glimpse of the one, who taught them to hold on a second longer.

    I believe there is hero in all of us, that keeps us honest, gives us strength, makes us noble, and finally allows us to die with pride. Eventhough sometimes we have to be steady and give up the things we want the most. Even our dreams.

    -May Parker, spider-man 2

  • tuginem ginak-ginuk berkata:

    ndoro…aku pernah baca cerita JR itu tapi lupa…dimana ya??…ceriat diajengnya mana…wis suwe lho iki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pahlawan Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: