Pemuda Pecas Ndahe

Oktober 26, 2007 § 22 Komentar

Terus terang, saya gamang juga menghadapi perhelatan akbar Pesta Blogger 2007 Sabtu besok. Soale saya ndak tahu mau ngomong apa di sana.

Untuk menenangkan pikiran yang byar-pet itulah saya sengaja sowan, sekaligus mohon doa restu kepada Paklik Isnogud. Saya ingin mendengar dan mendapat pencerahan dari “telaga yang meneduhkan” itu. Siapa tahu Paklik akan memberi saya sesuatu yang bisa saya bagi ke teman-teman sesama bloger.

Begitulah. Saya pun melangkahkan kaki ke rumah Pakliklah yang asri. Begitu tiba di rumahnya, orang yang saya cari ternyata berada di kebun belakang. Dia sedang berdiri sambil memandang deretan pot-pot anthurium dengan daun-daun ajaibnya. Ada Gelombang Cinta, Jenmani, dan sebagainya.

Ia tersenyum begitu melihat saya datang.

“Wah, tumben sampean datang sore-sore. Ada apa, Mas? Ada masalah di pabrik?”

“Ndak, Paklik. Ndak ada apa-apa kok. Saya cuma pengen mampir saja. Lagi pula sudah lama kita ndak ketemu, kan?” jawab saya sambil menyalami tangan Paklik.

“Oh, iya … ya. Ya sudah. Ayo, ayo … kita duduk di dalam saja,” kata Paklik sambil mengajak saya pindah ke ruangan dalam.

Setelah kami duduk di sofa yang empuk dan Paklik menghidangkan kopi pahit, saya menceritakan secara ringkas maksud kedatangan saya [halah] dan tentang acara Pesta Blogger 2007.

Paklik dengan tekun mendengarkan ocehan saya. Sesekali ia mengangguk dan menyesap cangkir kupinya.

Sebentar kemudian, Paklik tersenyum. Wajahnya terlihat bungah.

“Selain pas karena hampir bersamaan dengan Hari Sumpah Pemuda pada Ahad nanti, acara sampean itu memang sudah waktunya, Mas,” kata Paklik Isnogud.

Saya terpana mendengar jawaban itu. “Maksud, Paklik?”

“Sudah waktunya yang muda bicara, Mas. Sekarang sudah bukan masanya lagi yang belum tua belum boleh bicara. Kenapa? Kali ini memang giliran anak muda yang bersuara.”

Paklik berhenti bicara sejenak, lalu menyenderkan punggungnya ke sofa.

“Anak muda adalah generasi yang menggetarkan, Mas,” Paklik melanjutkan. “Mereka bisa menangis, bisa marah, bisa terluka atau lebih dari itu bukan karena soal-soal biasa.

Bung Karno pun dulu pernah berbicara dengan berapi-api tentang pemuda. Melalui mulutnya, pemuda menjelma dari sekadar suatu batas umur menjadi suatu mitos yang hidup.

Bung Besar itu bisa omong begitu karena ia memang memulai sesuatu — yang kemudian ternyata jadi tonggak sejarah — dalam usia muda. Bung Hatta bahkan belum 30 tahun ketika ia jadi tokoh perjuangan merintis kemerdekaan.

Semaun dalam usia 16 sudah jadi sekretaris cabang Sarekat Islam di Surabaya. Tan Malaka bergerak di awal usia 20-an, sehingga sebelum 30 tahun ia sudah dibuang ke Holland. Hatta dalam usia 23 tahun sudah jadi Ketua Perhimpunan Mahasiswa di Negeri Belanda.

Kartini saja — meski kini disebut “Ibu kita” — meninggal pada usia 24 tahun. Berapa umur pula Muhammad Yamin atau Bahder Djohan atau Wahidin Sudirohusodo ketika menggerakkan para pemuda? Kemudian, di awal abad ini, sejumlah organisasi yang namanya dimulai dengan Jong bermunculan.

Bayangkan Mas, betapa mudanya mereka itu ketika berangkat ke dalam ide-ide besar. Maklum saja Mas, pada masa itu anak muda adalah generasi yang mengagumkan. Bukan saja karena terpelajar, melainkan juga karena mereka bisa memilih jalan hidup yang tak mudah — ketika mereka sebenarnya bisa diam dan hidup enak jadi pegawai pemerintah.

Zaman itu memang zaman yang menggelisahkan. Terutama bagi orang-orang tua. Para priyayi kecil itu telah berkorban begitu banyak untuk menyekolahkan anak mereka, agar dapat posisi penting di gubernemen.

Cuma saya sering merasa ada yang agak aneh dengan semua itu. Mitos tentang pemuda — walaupun didukung dengan kenyataan bahwa pemudalah yang tampil pada saat gawat — sebenarnya agak asing bagi perbendaharaan ajaran kita.

Tema yang terdengar dari buku seperti Wulangreh biasanya adalah, Hai, anak muda … turutlah nasihat orang tua!

Mungkin pada dasarnya bapak-bapak kita seperti Kong Hu Cu juga. Pada umur 15, aku mengamalkan diri untuk belajar kebijaksanaan; pada umur 30 aku tumbuh lebih kuat dalam kebijaksanaan; pada umur 40 aku tak lagi punya rasa ragu; pada umur 60 tak ada suatu pun di atas bumi yang bisa mengguncangku; pada umur 70 aku dapat mengikuti imlak hatiku tanpa mengingkari hukum moral.”

“Sik, sik, Paklik. Jika sekarang waktunya anak muda yang di depan, lah orang-orang tua seperti sampean, dan sebentar lagi saya, ini harus ngapain, Paklik? Kita, terutama saya, hehehe … kan masih punya cukup energi, waktu, tenaga, dan sebagainya?”

“Usia tua memberikan kesempatan untuk kearifan. Begitu ajaran Kong Hu Cu, dan begitu pula hampir setiap masyarakat lama mendasarkan dirinya, Mas.

Orang-orang tua seperti kita mungkin sudah harus minggir dan memberi kesempatan kepada mereka yang lebih muda untuk ke depan, Mas. Bukankah hari pun selalu berubah dari pagi, siang, sore, dan malam?

Matahari dan bulan pun selalu bertukar peran. Saya ini ibaratnya sudah Maghrib Mas, sampean mungkin masih Ashar, dan sebentar lagi pasti akan menuju Isya. Bisa apa kita? Panggung kita sudah lewat … ”

Saya tertegun mendengar kata-kata terakhir Paklik. Tapi, hati saya terasa penuh. Wejangan Paklik benar-benar merasuk dalam sanubari.

Ketika saya akhirnya pamit meninggalkan rumah Paklik, malam sudah turun. Di atas langit, saya lihat selarik sinar bulan yang tipis menyembul dari balik mendung. Kaki saya terasa ringan sekali melangkah … menuju pulang.

Iklan

§ 22 Responses to Pemuda Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pemuda Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: