Blogger Pecas Ndahe

Oktober 4, 2007 § 16 Komentar

Ki Sanak, saya mau mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada sampean semua yang sudah mendaftar ke sini untuk diusulkan sebagai blogger yang diundang dalam acara Pesta Blogger 2007.

Ada kemungkinan tidak semua pendaftar akan langsung diundang karena panitia akan menyeleksi semua blog berdasarkan keragaman, keunikan, kekhasan, dan sebagainya. « Read the rest of this entry »

Burma Pecas Ndahe

Oktober 4, 2007 § 20 Komentar

Ketika tentara junta militer Burma menyiramkan peluru dan mengayunkan pentungan ke arah warga dan para biksu yang turun ke jalan, apa yang sesungguhnya terjadi di negeri Pagoda itu?

Kelaliman atau justru sebuah perlawanan?

“Itu keberanian yang menular, Mas,” kata Paklik Isnogud. “Suu Kyilah yang menularkannya.”

Maksud Paklik? « Read the rest of this entry »

Pengumuman Pecas Ndahe

Oktober 4, 2007 § 34 Komentar

Baru Agustus lalu saya bikin posting soal stiker PLN ini.

Eh, pagi tadi saya menemukan stiker pemberitahuan dari PLN ini di wadah pelindung meteran setrum rumah saya.

Heran. PLN tuh maksudnya pigimana, seh? Bikin aturan kok mencla-mencle. Plin-plan. Ngeselin bener. Wis jan, pecas ndahe tenan …

Jangan-jangan PLN itu singkatan dari Pabrik Loenpia Negara?

Ubud Pecas Ndahe

Oktober 3, 2007 § 9 Komentar

Terus terang saya memang ndak punya kemewahan waktu sebanyak perempuan kemayu itu. Dia mengaku punya seminggu penuh untuk ikut reriungan di Ubud itu. Saya tidak.

Ndak apa-apa. Ini cuma soal quality of time. Yang penting, sebagai penulis blog kelas abal-abal, saya juga beroleh kaos ini. Dia malah belum tentu punya.

Hohoho … Tuhan memang Maha Adil.

[PS: ada salam dari penghuni Petulu Gunung buat kamu, Nduk!]

Godaan Pecas Ndahe

Oktober 3, 2007 § 48 Komentar

Pada sebuah motel di pinggir selatan Jakarta. Malam belum terlalu tua. Baru juga pukul 21.00. Sepasang lelaki dan perempuan tergolek telanjang di atas ranjang yang kusut masai. Baju mereka berceceran di lantai. Botol-botol air mineral kosong berserakan di atas meja. Sebuah asbak bundar dari beling nyaris penuh puntung.

Si lelaki terpejam. Si perempuan menatap wajah lelaki paruh baya itu nyaris tak berkedip. Keringat mengalir pelan dari dahi si lelaki, turun ke leher. AC di dinding berkekuatan 1 PK itu tampaknya tak kuasa mendinginkan ruangan.

Si perempuan mengusap pelan butir-butir keringat itu, khawatir sang lelaki terbangun. Ia tak mau kenikmatannya menatap telaga yang teduh dan tak setiap hari ada di depannya itu terganggu. Begitu tenang, begitu nyaman. Hangat. Menenangkan.

“Are you staring at me, dear?” lelaki itu tiba-tiba terjaga dan bertanya. “Something wrong?” « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently viewing the archives for Oktober, 2007 at Ndoro Kakung.