Pulau Pecas Ndahe

Desember 11, 2007 § 43 Komentar

Ayo, ayo … dipilih … dipilih … yang sayang anak, sayang istri … pacar … Jual murah lo! Ini pulau bagus bak surgawi …

Sampean ndak usah takut meskipun Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33 ayat 3 menyebutkan:

“Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.”

Bukankah ini “sangat Indonesia”? Dan sampean bukan rakyat, Ki Sanak. Maaf …

UPDATE: « Read the rest of this entry »

Hukuman Pecas Ndahe

Desember 11, 2007 § 40 Komentar

Perhatikan kata-kata dalam lingkaran putih.

Apakah pembuatnya belum lulus SD?

Saya mendapatkan kiriman foto ini dari Mas Gandrik kemarin. Saya ndak tahu apakah foto yang sama pernah beredar sebelumnya. Mohon maaf kalau “basbang” … hehehe …

Pria Pecas Ndahe

Desember 10, 2007 § 46 Komentar

Benarkah?

Tolong berceritalah sampean — para pria urban dan non urban — di sini. Siapa tahu kita semua beroleh manfaat dari cerita sampean.

Dan, sampean yang perempuan juga dipersilakan mengutarakan komentar …

Menanti Pecas Ndahe

Desember 10, 2007 § 17 Komentar

Kepada bayangan senja yang bersembunyi di balik cahaya. Yang bersahaja seperti nyanyi. Terima kasihku kepadamu yang telah menanti …

dalam pekatnya selimut malam
dalam dekapan angin yang berhembus hangat
bersama para bidadari yang menari di balik rerimbunan bintang
dalam belitan beban yang menindih pundakmu yang kian kuyu
bersama matahari yang meletek setiap pagi
di tengah pikuknya kehidupan yang membiru
di pinggir jalanan yang terus berlari tanpa henti …

Aku tahu, sungguh bukan pilihan yang mudah menanti seseorang yang bahkan tak pernah kau kenangkan dalam mimpi. Aku mengerti. « Read the rest of this entry »

Fuad Pecas Ndahe

Desember 9, 2007 § 21 Komentar

Fuad Hassan adalah seorang guru dengan jejak panjang.
Ia wafat pada usia 78 tahun, Jumat dua hari yang lalu.

Pagi itu, saya lihat Paklik Isnogud sedang memegang selembar koran di depan pabrik. Matanya menatap lekat-lekat pada larik-larik kalimat yang mengabarkan perginya salah satu tokoh besar yang pernah kita punya: Fuad Hassan.

Sebentar kemudian, Paklik meletakkan koran itu. Matanya ganti melihat saya, lalu ke atas, memandang langit. Ia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya seraya mendesah perlahan … « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently viewing the archives for Desember, 2007 at Ndoro Kakung.