Rangga Pecas Ndahe

Januari 15, 2008 § 70 Komentar

Dua orang terkenal dengan cara berbeda. Yang pertama Soeharto, dan kedua Rangga Wardhana. Soeharto, sampean pasti tahu, ngetop karena namanya memang populer dan sekarang di ujung ajal.

Rangga Wardhana? Saya tahu dia dari Detikinet, lalu dari Koaa dan Media Jateng. Rangga alias S-X207 ini kabarnya [entah benar, entah ngawur] mahasiswa Kedokteran, Universitas Jenderal Sudirman, Purwokerto.

Meski bukan seleb blogger, namanya mendadak kondang karena situsnya ditutup Google. Lah kenapa dia?

Kabarnya sih, si Rangga ini menayangkan di blognya daftar nomor kartu kredit curian yang bisa merugikan pemiliknya. Karena itu, Google yang dilapori oleh News First Investigates lantas menutup blog Rangga di Blogspot.

Buat saya, dua kasus ini semakin menegaskan teori bahwa seseorang bisa menjadi seleb blogger terkenal di ranah blog lewat dua cara: namanya memang sudah populer dulu lalu muncul di blog atau bikin ulah di blog yang akan membuat namanya ngetop.

Ki Sanak, sampean juga bisa terkenal dengan cara itu. Pilih saja salah satu. Tapi, sebenarnya apa kita perlu ngetop?

Saya ndak tahu. Tapi, saya ingat Paklik Isnogud pernah bercerita tentang kemasyhuran.

“Kemasyhuran itu pembeku, Mas, seperti ditulis oleh Jerry Rubin, orang Amerika, tokoh gerakan anti-perang Vietnam pada 1960-an.

‘Masalah yang timbul dengan kemasyhuran ialah kita jadi beku di dalam satu kerangka. Seorang yang termasyhur harus mau menukar kehidupan pribadinya dengan terpeliharanya gambaran dirinya menurut publik. Ia menghabiskan waktunya berjam-jam mencemaskan image-nya sendiri.’

Dengan menjadi terkenal itu berarti orang berharap kita lebih dari manusia biasa. Kita jadi lambang bagi beribu-ribu orang lain. Itu satu hal yang menyenangkan, tapi juga makin lama makin meresahkan.

Saya ndak mau hidup dalam kecemasan seperti itu, Mas. Saya ingin hidup tenang saja seperti yang saya inginkan, bukan seperti yang dimaui orang lain. Saya mau jadi diri saya sendiri. Apa adanya. Mungkin karena itu pula saya ndak pernah mau jadi orang terkenal atau menjadi masyhur, berapa pun murah harganya …”

Saya ingat, setelah Paklik mengucapkan kata-katanya itu, saya mencium tangannya.

Iklan

§ 70 Responses to Rangga Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Rangga Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: