Khayalan Pecas Ndahe
Februari 20, 2008 § 28 Komentar
Dear khayalan,
Semalam kulihat bintang di kejauhan
Sinarnya redup tertutup awan
Sepertinya ia menangis sendu merawan
Melihat kita hidup dalam kesengkarutan …
:: untuk perempuan yang tersenyum di akhir amarah
Lamunan Pecas Ndahe
Februari 19, 2008 § 45 Komentar
Dear lamunanku,
Tadi pagi kukirim sepucuk rinduku kepadamu
Aku menitipkannya pada Pak Pos yang naik sepeda kring-kring-kring itu
Sengaja tak kupakai SMS atau email seperti anak-anak sekarang
Aku lebih suka cara yang klasik — seperti wajahmu
Aku tak tahu apakah titipan berbungkus amplop biru itu sudah sampai
Pak Pos belum memberi tahu
Mungkin kiriman itu terjebak kemacetan di jalan
Biasa, pagi begini, mana gerimis pula, lalu lintas kan sedang lucu-lucunya
Barangkali juga nyasar ke tetangga sebelah
Coba kau tanyakan saja ke mereka
Moga-moga kamu suka kiriman itu
Meski kutahu hatimu sedang berkelindan resah
Tak banyak yang kutulis
Hanya sebaris rindu dan keinginan bertemu
Kalau kau tak sempat membacanya
Simpanlah saja dulu di salah satu laci hatimu
Siapa tahu kamu mau menjenguknya nanti
Bila gundahmu sudah pergi … jauh
PS: I love you
:: untuk perempuan di persimpangan.
Sandal Pecas Ndahe
Februari 19, 2008 § 37 Komentar
Sandal itu memang ndak sopan. Makanya, sandal dilarang masuk ke gedung Mahkamah Konsitusi.
Mahkamah adalah ruangan resmi. Ada tata cara dan etika yang harus dipatuhi. Kalau sampean nekat melanggar, ya pasti bakal dicegat satpam — minimal sampean diusir dipersilakan keluar.
Nah, bagaimana dengan sandal yang ini? « Read the rest of this entry »


