Bungkam Pecas Ndahe

Februari 5, 2008 § 33 Komentar

Kenapa kita bungkam? Mengapa kita menutup dialog? Bukankah sebagai manusia –yang begitu beragam — kita butuh berbicara satu sama lain?

Pernah ada yang mengatakan di balik setiap media, apapun bentuknya, ada sesuatu yang murni yang menyebabkan kita bersedia menembus lingkaran-lingkaran monolog yang tertutup.

Seperti anak yang berjalan malam, kita sering takut kepada suara sendiri yang tak berjawab, kata Paklik Isnogud.

Agaknya itu pulalah sebabnya seorang raja, dalam dongeng di sekitar 300 tahun sebelum Masehi, biasa mengirimkan spion-spionnya ke kalangan penduduk.

Bukan buat memata-matai. Mereka menyusup ke dalam kelompok orang-arang malah untuk menerbitkan debat dan diskusi tentang masalah-masalah kenegaraan.

Pendapat mereka digalakkan, untuk didengar, sebab sang raja tidak ingin memilih kesepian dan kemudian kesalahan. « Read the rest of this entry »

Modeng Pecas Ndahe

Februari 4, 2008 § 22 Komentar

Bukan Paman Tyo namanya kalau ndak baik hati dan duitnya meteran. Begitu melihat saya cuma ndlongop di malam hari, tiba-tiba dia mengangsurkan sebungkus rokok. “Nih, buat kamu,” katanya singkat.


[foto: paman tyo]

Halah. Saya kaget. “Buat aku?”

Dia cuma mengangguk dan bekerja lagi sambil nyemil kacang — yang ini saya ndak diberi.

Matur nuwun juragan. Tapi, kok tumben Paman memberikan apa yang sedang saya butuhkan? Saya lebih kaget lagi setelah melihat bungkus yang menggeletak di atas meja. Rokok Modeng? Huh, merek yang aneh. « Read the rest of this entry »

Dagdigdug Pecas Ndahe

Februari 4, 2008 § 39 Komentar

Jumat pekan lalu saya mengutuk hujan keparat, dan kemacetan yang gila-gilaan. Gara-gara hujan seharian dan banjir di beberapa tempat, saya ndak bisa melaju ke Jakarta.

Padahal malam itu, kawan-kawan blogger ramai-ramai reriungan di Taman Menteng untuk mendengarkan Paman Gombal itu bercerita tentang proyek barunya: dagdigdug.

Apa boleh buat. Meski ikut mengundang teman-teman para blogger, saya minta maaf tak bisa ikut menemani sampean semua melewatkan malam yang syahdu di Taman Menteng. Moga-moga sampean semua ndak kapok dan mengumpat saya. « Read the rest of this entry »

Celeng Pecas Ndahe

Februari 3, 2008 § 32 Komentar

Cengkareng mungkin contoh bagaimana negeri ini dikelola secara karikatural. Bandar udara internasional itu lumpuh pada Jumat pekan lalu. Ratusan penerbangan ditunda. Jalan tol menuju ke sana ditutup karena banjir. Kemacetan terjadi di mana-mana. Dan ribuan calon penumpang pun telantar dalam kebingungan.

Maka, terjadilah karikatur itu: orang Indonesia memang tak efisien, acak-acakan, menggantang asap. Jalannya pelan dan mulutnya berbunyi: Insya Allah, semuanya gampang diatur, tanpa jelas siapa yang mengatur apa. Dan bagaimana.

Seperti layaknya karikatur, gambaran itu agak melebih-lebihkan dan sekaligus mengungkapkan sebuah prasangka. « Read the rest of this entry »

Kesejahteraan Pecas Ndahe

Februari 1, 2008 § 26 Komentar

Pilih mana: “Lapar tapi punya hak” atau “lapar dan tak punya hak”?

Orang lapar yang punya hak dan orang lapar yang tak punya hak jelas bedanya. Tapi, sering kali terdengar kalimat ini: Bapak pemimpin di pucuk kekuasaan negara sedang sibuk mengurusi kemakmuran dan — karena itu — tak punya waktu untuk kemerdekaan.

Tapi tidakkah itu cuma alibi?

Kemerdekaan, tentu saja, bukanlah segala-galanya. Tetapi mengurusi kemakmuran, meningkatkan kekayaan, memeratakan hasil, mengamankan harmoni sosial juga bukan pekerjaan mudah.

Begitu banyak orang terlibat, dan tak satu orang pun — bahkan tak satu kelompok pun — bisa bekerja berhasil sendirian. Lalu orang pun bicara soal partisipasi. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently viewing the archives for Februari, 2008 at Ndoro Kakung.