Kemelaratan Pecas Ndahe

Maret 28, 2008 § 22 Komentar

Hidup rupanya kian bikin lisut pinggang — dan absurd. Bacalah berita-berita dalam satu bulan terakhir ini, ibu-ibu membunuh anak kandungnya sendiri di Bekasi, Jawa Barat, dan Pekalongan, Jawa Tengah. Kasus serupa terjadi di Malang, Jawa Timur.

Ekonomi yang sulit, kemelaratan, kabarnya telah menjadi momok yang paling mencekam hingga membuat ibu-ibu itu mata gelap. Harga beras, minyak tanah, sembako, meroket. Penghasilan merosot tajam. Pengangguran keleleran di mana-mana. Para suami meninggalkan istri. Anak-anak teraniaya dalam belitan kemiskinan.

Ibu-ibu hidup penuh tekanan. Ketika pintu penahan tekanan jebol, akibatnya tak tertanggungkan lagi.

Lalu di manakah negara? Pemerintah? Dan kita? Bagaimana sebetulnya kita harus memberantas kemiskinan dan tekanan hidup? Perlukah kaum paria dilindungi?

Paklik Isnogud cuma geleng-geleng kepala ketika saya mengajaknya memikirkan soal ini. Berkali-kali ia mendesahkan napas panjangnya. Wajahnya keruh. Matanya redup.

“Si miskin adalah tokoh sejarah dengan riwayat yang sangat panjang, Mas,” kata Paklik mulai mengudar wejangan. “Mungkin terlalu panjang. Ia ada sebelum para raja dinobatkan, dan ia tetap ada di zaman ini, sesudah para raja (kecuali di Arab Saudi dan di kartu bridge) berhenti berfungsi.

Si miskin lahir, anehnya, bersamaan dengan lahirnya si kaya. Di masyarakat yang masih terbatas gerak naik-turunnya, di kalangan puak yang belum mengenal uang yang dimiliki sendiri dan barang yang diperjual-belikan, si miskin adalah tokoh cerita yang ganjil.

Tapi justru karena si miskin bermula bersama dengan si kaya itulah kegelisahan timbul. Tiba-tiba tampak ada orang yang menderita, tertekan, dan bahkan tertindas di satu pihak, dan ada yang punya banyak previlese di lain pihak. Entah karena apa, simpati dan rasa belas kasih selalu dijuruskan kepada yang pertama, sejak dari zaman yang paling kuno.

Syahdan ada seorang raja Sumeria bernama Urukagina. Pemimpin dari dari sebuah peradaban 3.000 tahun Sebelum Masehi ini mungkin contoh tertua tentang compassion seorang manusia kepada si miskin.

Dalam satu maklumatnya, ia tak memperbolehkan para pendeta agung memasuki kebun seorang ibu yang papa dan mengambil kayu dari sana, atau memetik buah dari sana.

Sikap melindungi semacam itu biasanya memang datang dari yang berkuasa. Sikap lain, yang memihak kepada si miskin, adalah cercaan kepada pihak yang punya previlese.

Sebelum Masehi, ada Nabi Amos di negeri Judea. Ia datang, dari dusun, ke pintu gerbang Kota Yerusalem. Suaranya menyeru. Kalimatnya penuh amarah kepada mereka, yang ‘hendak membeli orang lemah dengan sekian perak, orang miskin seharga sepasang kasut’.

Pidatonya penuh getar. Ia menyerang yang ‘menindas orang yang jujur’, yang ‘menerima uang sogok’, dan ‘mendesak orang miskin di pintu gerbang’.

Untungnya, Amos tak pernah disensor dan kata-katanya dapat dibaca di Perjanjian Lama, biarpun bagaikan api. Tapi, sejarah tak cuma mencatat api jika manusia berbicara tentang si miskin. Simpati kadang-kadang bisa turun lebih sejuk: ia berkembang jadi sikap menyatukan diri kepada pihak yang membangkitkan simpati.

Begitu riwayat kita di ranah perekonomian, Mas. Seluruh sejarah perekonomian adalah denyut jantung yang pelan dari tubuh organisme sosial. Ada systole dan diastole, berganti-ganti: sekali waktu kekayaan terpusat di satu kalangan, pada saat berikutnya kekayaan itu tersebar pecah lagi.

Begitulah seterusnya. Terkadang, meletup suatu revolusi. Tentu, revolusi sering gagal atau sia-sia. Si miskin tak juga punah. Tapi adakah itu berarti simpati kepadanya hanya seuntai petai kosong, Mas?”

“Saya kira kita saya tahu apa jawabnya, Paklik.”

“Ah, pintar … ” kata Paklik sambil menepuk-nepuk pundak saya.

Di atas pabrik, awan hitam menggantung. Sebentar lagi gerimis mungkin akan turun, atau hujan jatuh dengan deras …

§ 22 Responses to Kemelaratan Pecas Ndahe

  • kw berkata:

    mestinya kalau tidak sanggup membiayai anak, jangan punya anak, karena negara ( dan atau pemerintah ya) tak mengurus orang miskin di negeri ini. 🙂

  • pema berkata:

    hehhehehe…….absurd…..

  • xgn berkata:

    klo pejabat ada yg bunuh diri ga?

    yo’ opo iki…katanya gemah ripah mosok harga cabe rawit aja sekilo 35 ribu, belon harga2 yg laennya..

  • galih berkata:

    ah, saya suka antiklimaks-nya.. awan hitam menggantung. penambahan efek dramatis yang sangat menarik.

  • Hedi berkata:

    awan hitam di hati yang sedang gelisah….inget lagu Chrisye dan Berliana Hutauruk

  • ika jogja berkata:

    Ah..jadi merenung dan menarik nafas!!
    Sesak!!

  • didi berkata:

    selalu harus menunggu negara yang bertindak?

  • mastogog berkata:

    mau mberantas kemiskinan gampang ndoro, berantas saja yg kaya pasti kemiskinan g ada lg

  • Wazeen berkata:

    dan di tengah awan gelap itu masihkah sang saka berkibar untuk kaum papa yang tak punya tempat bernaung?

  • detnot berkata:

    60 tahun merdeka melaratnya kok gak rampung2 ya?

  • Gito berkata:

    Kita semua yang berada di negara ini ikut berdosa atas tragedi ini. Ayo jangan hanya berdiam diri, termenung, dan bersedih. Berikan bantuan pada saudara-saudara kita yang membutuhkan.
    Lengserkan pejabat yang tidak berperikemanusiaan, memakan harta korupsi, bermegah-megah di atas penderitaan rakyat.

  • i'm red&sexy berkata:

    Ah, sebenarnya sebagan besar masyarakat kita sebenarnya sudah tidak percaya lagi sama pemerintah dan negara. Coba ditelisik lagi apa sih fungsi mereka yang benar2 nyata dan berarti???
    Masyarakat juga pada akhirnya tanpa disadari mandiri dan mengurus segalanya sendiri, menanggung semuanya sendiri,,,
    Dimana kita?!? Kita dijebak dalam siklus ‘pemenuhan kebutuhan hidup’, dipaksa untuk menanggalkan kemanusiaan dan moralitas kita untuk nominal sehingga yang lain terabaikan…

    Selamat Jumat sore yang sendu…

  • Nazieb berkata:

    Tak akan ada si kaya tanpa adanya si miskin..
    🙄

  • GuM berkata:

    ah, kemiskinan kan trademark bangsa ini. mungkin memang sudah ditakdirkan seperti itu. berapa kali pergantian kabinetpun nggak akan pernah merubah hal ini.

    pesimis? ndak. saya cuma berusaha beradaptasi dengan realita.

    *nyumet kopi, sruput rokok*

  • yok berkata:

    UPC lagi ngusulin moratorium penggusuran ke legislatif…coba kita liat

  • Okta Sihotang berkata:

    intinya, orang2 ingin hidup yang enak, minimal berkecukupan..janganlah dulu berlebihan, memang life is struggle, namun setidaknya pikir2 dalam ngebuat suatu kondisi..contohnya..buat anak banyak..eh..ekonomi minim..
    *geleng – geleng kepala sambil merenungi keadaan indonesia 🙂 *

  • dobelden berkata:

    orang miskin tidak pernah hilang tapi berganti rupa… 😐

  • ika berkata:

    herannya,makin banyak aja warga tak mampu yang memiliki banyak anak,.,emak saya juga bilang kayak yang komen paling atas: hare gene makin susah, ngapain punya anak banyak…

    hhhh gak heran ibuku cuman punya satu anak,,padahal dia jg bukan orang susah.. 😛

  • Abihaha berkata:

    Jadi tetap tanpa solusi ya ndoro?

  • munyuk elek berkata:

    lha merga wong miskin ra nduwe duit kanggo golek hiburan, hiburan satu2nya yo kur gawe anak kuwi…

  • stey berkata:

    sementara saya disini menikmati makanan yang ada, disana masih saja ada kelaparan..sedih..

  • […] Ndoro Kakung Pecas Ndahe: tentang dunia yang semakin tua dan hidup yang penuh kejutan Dari kematangan berfikir Ndoro Kakung seringkali lahir tulisan2 yang penuh kejutan. Ndoro Kakung juga menyadarkan kita bahwa dunia memang makin tua dan lapuk. […]

Tinggalkan Balasan ke detnot Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kemelaratan Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: