Salemba Pecas Ndahe
April 21, 2008 § 35 Komentar
Pada suatu hari di Kampus Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta Pusat. Suasana hening menyelimuti sebuah ruangan. Aktivis pers kampus berkumpul memandangi sepucuk surat dari Departemen Penerangan.
Salemba, koran mahasiswa tengah bulanan itu tampaknya sudah lama membuat risi Departemen Penerangan. Berita dan karikaturnya sering dianggap kelewat pedas.
Sudah dua kali pula Deppen memberi peringatan resmi kepada Surat Kabar Kampus (SKK) Salemba, Universitas Indonesia. Peringatan lisan pun sudah pernah disampaikan lewat Prof. Mahar Mardjono, Rektor UI waktu itu.
Akhirnya vonis jatuh juga. Sejak 6 Mei 1980, Salemba dilarang terbit — Surat Tanda Terdaftarnya dicabut.
Pengasuhnya maupun Prof. Mahar kaget. Sebab menurut Prof. Mahar, ia sudah meminta kepada Sukarno SH, Direktur Jenderal Pembinaan Pers dan G!afika, agar jangan dulu menindak Salemba.
“Saya sedang melakukan penataan ke dalam, dan ini butuh waktu,” kata Prof. Mahar mengulang ucapannya pada Sukarno. « Read the rest of this entry »
Ghulam Pecas Ndahe
April 19, 2008 § 25 Komentar
Sesuai janji saya kemarin, hari ini posting tentang Ahmadiyah dilanjutkan kembali. Bahan posting ini diambil dari salah satu tumpukan dokumen di pabrik saya.
Moga-moga, dengan semakin banyak bacaan mengenai Ahmadiyah, pengetahuan sampean bakal bertambah. Sampean juga akan lebih memahami sosok kelompok yang hari-hari ini menghadapi situasi yang ternyata tak pernah berubah dari dulu.
Ada kemungkinan, posting ini juga akan berlanjut. Besok, lusa, atau entah kapan. Tergantung situasi, juga kemampuan saya mencari bahan.
Selamat membaca, dan jangan kaget kalau posting ini juga akan sangat panjang. « Read the rest of this entry »
Demit Pecas Ndahe
April 18, 2008 § 19 Komentar
Blog Paman dijahilin demit? Moga-moga saja tidak …
![]()
Tapi, kenapa tampilan halaman depannya kayak gitu ya? Adakah yang bisa membantu?
Preview Pecas Ndahe
April 18, 2008 § 8 Komentar
Posting tentang Ahmadiyah ternyata mendapat komentar beragam dari beberapa kawan. Sebagian di antaranya bahkan mengusulkan agar dibuat posting lanjutan.
“Agar kami, anak-anak muda ini, lebih mengenal sejarah dan tidak menjadi generasi instant. Kami ingin mengetahui proses, Mas, bukan hasil,” begitu kata salah satu dari mereka.
Tentu saja saya terkejut. Saya tak pernah menyangka posting itu, meskipun sangat-sangat panjang, ternyata memberikan semacam pemahaman baru di antara kawan-kawan.
Padahal semula saya mengira topik itu sudah sangat basi. Saya bahkan nyaris batal menayangkannya karena khawatir posting tentang Ahmadiyah itu akan sangat menjemukan dan membuat sampean tertidur. Ternyata reaksi sampean semua sungguh tak terduga.
Karena itu, demi memenuhi permintaan sampean semua — meski dengan mengorbankan waktu dan tenaga [halah] — dengan senang hati saya hendak membuat lanjutan posting itu.
Saya berharap posting lanjutan ini menjadi semacam tambahan ilmu dan pengetahuan mengenai Ahmadiyah — kelompok yang hari-hari ini memicu kontroversi di negeri ini.
Bahan posting ini dicuplik dari sana-sini, sebagian besar dari lembaran arsip yang tersimpan di lemari pabrik saya yang sudah kusam dan berdebu.
Tapi, harap bersabar. Karena bahannya begitu banyak, posting lanjutan ini baru bisa saya tayangan besok, Sabtu, 19 April 2007. Siapkan saja waktu dan energi untuk membacanya.
Salam dan sampai jumpa besok, di sini.
Superhero Pecas Ndahe
April 18, 2008 § 43 Komentar
Kenapa Superhero menolak masuk Indonesia? Begitulah judul sebuah lelucon yang beredar dari milis ke milis.
Saya ndak tahu siapa pembuat lelucon itu karena saya pun memperolehnya dari sebuah milis. Sampean mungkin juga sudah pernah membacanya.
Mohon maaf kepada siapa pun pengarang asli lelucon ini karena saya sudah lacang tanpa izin menulis ulang dan menerbitkannya di sini. Saya cuma ingin berbagi dengan sampean yang belum pernah membacanya.
Lelucon ini dimulai dari kabar tentang tingginya tingkat kriminalitas di Indonesia dewasa ini. Untuk memberantas kriminalitas, konon pemerintah lalu mengirimkan proposal kepada sejumlah superhero dari manca negara. « Read the rest of this entry »