Puzzle Pecas Ndahe

Mei 14, 2008 § 20 Komentar

Di pinggir-pinggir jalanan Jakarta, pohon-pohon muda mencoba bertahan dari cuaca. Dahan pada pokok-pokok tua masih tegak, memang, dan daun-daunnya melanjutkan suasana teduh.

Tapi kota metropolitan yang bulan depan berumur 481 tahun itu, yang terdiri dari gedung-gedung jangkung dan gubug-gubug reyot, tiap kali harus menghadapi apa yang telah banyak mengikis peninggalan leluhur: iklim.

Di atas Jakarta, udara lembap, matahari terik. Dan kemudian ada polusi — tanda perubahan hari ini. Apa sebenarnya yang harus dipertahankan jika ada yang harus dipertahankan di antara tembok-tembok menjulang itu?

Mungkin kenang-kenangan, sesuatu yang rupanya begitu penting. Tentang amuk dan kerusuhan. Penjarahan. Tentang tangis dan kesedihan. Tentang jasad-jasad gosong. Tentang perempuan-perempuan yang diperkosa.

Manusia adalah makhluk khusus: ia mengingat-ingat. Di hadapannya, kematian menjadi sebuah paradoks: ajal berarti jalan ke keabadian, tapi sekaligus juga ancaman akan ambruknya kenangan.

Sementara itu, kita tak mau lupa. Kita tak mau dilupakan. Sejarah ditulis.

Di Macondo, kota khayali dalam novel Gabriel Garcia Marquez, Seratus Tahun Kesendirian, orang pernah terlalu sibuk bekerja. Begitu sibuknya mereka hingga tak tidur, dan — setelah wabah tak bisa tidur itu menyebar — suatu gejala lain pun kemudian timbul: orang mulai kehilangan ingatan.

Mereka bahkan lupa pada nama benda dan realitas. Akhirnya mereka pun hidup dengan “dunia kenyataan yang imajiner”, di mana “seorang ayah diingat samar-samar sebagai lelaki berkulit gelap yang tiba di awal April, dan seorang ibu diingat hanya sebagai wanita hitam yang mengenakan sebentuk cincin emas di tangan kiri”.

Betapa menyedihkannya.

Maka, kita tak ingin tinggal di Macondo dan menderita amnesia. Dalam Seratus Tahun Kesendirian, Jose Arcadio Buendia juga mencoba melawan amnesia itu. Ia menuliskan nama benda-benda, sebagaimana kita menulis tambo.

Sejarah, bagaimanapun juga, memang suatu ikhtiar melawan lupa. Yang jarang kita sadari ialah bahwa sejarah adalah sebuah ikhtiar yang lemah, terbatas, dan tak lengkap.

Apa, misalnya, yang kita ketahui ihwal kerusuhan Mei sepuluh tahun yang lalu? Adakah dalangnya? Apakah ia sesuatu yang spontan?

Kita tak tahu bagaimana orang bisa begitu beringas dan menindas orang lain. Kita tak tahu bagaimana waktu itu mereka bergerak, membabat, menjarah.

Saya tak tahu. Ingatan, juga pengetahuan, saya tak lengkap. Masih banyak keping puzzle yang hilang dalam lembaran sejarah yang kelam itu.

Siang ini, sepuluh tahun setelah hari yang mencekam itu, langit Jakarta masih seperti dulu. Panas. Lembap.

Iklan

§ 20 Responses to Puzzle Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Puzzle Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: