Percakapan Pecas Ndahe

Mei 27, 2008 § 41 Komentar

Tadi pagi, di ruang tunggu sebuah kantor. Saya sedang menunggu giliran dipanggil ke depan meja layanan. Para tamu, sekitar sepuluh orang termasuk saya, sabar menanti di kursi.

Saya duduk persis di belakang sepasang (tampaknya sih) suami-istri berseragam sebuah departemen. Saya taksir usia mereka pertengahan 40-an. Suasana tak terlalu ramai sehingga saya bisa mendengarkan percakapan suami-istri dengan jelas. Dan, tanpa sengaja saya ikut menguping.

Begini petikan obrolan mereka …

Istri : Pak, pak, tahu nggak Pak? Ibu kan sering ngambil uang Bapak di dompet? Tadi aja ngambil seratus ribu.

Suami (menoleh kaget) : Oh ya? Kenapa? Uang belanja kurang?

Istri: Nggak juga sih, Pak. Tapi, ibu kan kadang-kadang butuh uang tambahan untuk beli ini dan itu. Misalnya tadi pas ada tukang jualan lewat. Terus si bungsu tiba-tiba minta dibeliin sandal. Berhubung duit belanja udah kepake buat yang lain, ya udah ibu ambil uang di dompet bapak aja. Bapak kan masih tidur.

Suami (tersenyum): Oh ya udah, nggak apa-apalah, Bu. Yang ngambil kan Ibu, buat anak-anak lagi.

Istri : Bener nih, Pak? Ikhlas?

Suami : Iya, ikhlaslah. Aku kerja kan buat ibu dan anak-anak juga. Uangnya buat apa? Ya buat ibu dan anak-anak kan?

Istri: Tapi aku heran, Pak. Sekarang kan tanggal tua. Kenapa isi dompet Bapak masih banyak ya? Ratusan ribu semua pula. Biasanya kan gaji Bapak udah abis. Baru dapet proyek?

Suami (sambil buang muka) : Eh, eng … iya. Anu kemarin bos ngasih uang lemburan.

Istri: Lemburan? Perasaan Bapak nggak pernah nglembur deh.

Suami : Ngelemburnya pas hari kerja Bu, eh jam kerja maksud Bapak …

Istri (mukanya kenceng): Mosok lembur kok jam kerja sih? Mana ada, Pak? Hayo, duit itu dari mana Pak? Kok nggak pernah cerita? Bapak pasti …

Ting-tong … “Nomor 36”. Tiba-tiba terdengar suara petugas berteriak kencang memanggil nomor antrean saya. Karena buru-buru, saya terpaksa meninggalkan drama satu babak yang seru itu. Saya tak tahu lagi bagaimana kelanjutan interogasi si ibu itu. Moga-moga happy ending.

***

Moral cerita: tanggal tua, belum gajian, dompet berisi duit meteran ratusan ribu berlembar-lembar bisa menimbulkan syakwasangka, terutama kalau sampean adalah karyawan kantoran yang hanya beroleh gaji pas-pasan setiap bulan.

Iklan

§ 41 Responses to Percakapan Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Percakapan Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: