Jalan Pecas Ndahe
Mei 22, 2008 § 28 Komentar
Kepada siapakah kita bertanya ketika jalan di depan tiba-tiba bercabang? Kepada siapakah kita bertanya saat jalan ke kiri dan ke kanan ternyata sama-sama tak kita tahu kebagusan atau keberengsekannya?
“Carilah jawabnya pada telaga yang teduh dalam diri sampean, Mas. Hati nurani. Sebab, manusia toh selalu dihadapkan pada dilema pilihan,” kata Paklik Isnogud dengan suaranya yang melodius itu. “Dan kita tak pernah tahu jalan pilihan yang paling cocok sebelum melewatinya.”
Saya terpana mendengar pitutur Paklik itu. Malam semakin tua. Di atas langit, awan mengiris sedikit wajah rembulan. Hening yang panjang mewarnai pertemuan kami malam itu.
Saya tahu, bahkan Paklik pun tak punya jawaban pasti ketika saya bertanya. Tapi, pernahkah dia punya kepastian, sesuatu yang selalu final?
Seperti biasa, setiap kali saya menghadapi dilema dan bertanya kepadanya, Paklik selalu meminta saya memikirkannya sendiri. Ia hanya menyodorkan perlambang-perlambang yang mesti ditafsir ulang. « Read the rest of this entry »
Max Pecas Ndahe
Mei 21, 2008 § 39 Komentar
Max Moein. Nama itu tiba-tiba jatuh dari udara ke pangkuan saya pada sebuah siang yang lengas. Jangan tanyakan bagaimana prosesnya sebab saya pun tak tahu — dan ndak terlalu peduli.
Mungkin tak banyak di antara sampean yang mengenal Max Moein, politikus dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini, karena kamera televisi jarang menampilkan wajahnya.
Meski lama berkarier di Senayan, sosoknya memang kalah pamor ketimbang, misalnya, Megawati Soekarnoputri atau Pramono Anung, Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal partai berlambang banteng hitam dalam lingkaran merah itu.
Max Moein pernah menjadi Ketua Komisi IX DPR RI periode 1999-2004. Beberapa anggota Komisi yang dipimpin Max ini disebut-sebut media massa menerima aliran dana dari Bank Indonesia. Kasus aliran dana ini masih ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi. « Read the rest of this entry »
Kehilangan Pecas Ndahe
Mei 20, 2008 § 26 Komentar
Tepat di Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei, kita kehilangan dua tokoh besar yang amat besar perannya dalam sejarah, Ali Sadikin dan SK Trimurti.
Mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, atau biasa dipanggil Bang Ali, meninggal di Rumah Sakit Gleneagles, Singapura, pukul 17.30 waktu setempat, setelah dirawat selama sebulan. Bang Ali lahir di Kampung Cangkudu, Sumedang, Jawa Barat, 7 Juli 1926.
Soerastri Karma Trimurti, lahir 11 Mei 1912, atau lebih dikenal dengan SK Trimurti tutup usia di Rumah Sakit Gatot Subroto. Sebelumnya, ia sempat dirawat di Metropolitan Medical Center, Jakarta, karena menderita infeksi paru-paru.
Kita mengenal SK Trimurti sebagai wartawati, penulis, pengajar, dan istri dari Sayuti Melik. Hingga saat-saat terakhirnya, SK Trimurti tinggal di Taman Galaxy, Kalimalang, Bekasi. Di tempat ini ia melewatkan masa tuanya hanya ditemani pembantunya, Sainah, dan Echa, kucing kesayangannya. « Read the rest of this entry »
Kebangkitan Pecas Ndahe
Mei 20, 2008 § 18 Komentar
Hari ini, seratus tahun yang lalu, Dr. Sutomo bersama sejumlah mahasiswa STOVIA mendirikan sebuah perkumpulan yang disebut Budi Utomo. Apa yang membuat perkumpulan ini dibikin?
Setahun sebelumnya, konon, seorang dokter dengan suara yang melodius sengaja datang menemui para mahasiswa STOVIA itu. Ia mengimbau agar para calon dokter bumiputra itu bekerja mengumpulkan dana untuk membantu anak-anak muda Jawa, agar mereka yang cerdas dapat masuk ke lembaga pendidikan Belanda.
Dokter sepuh itu adalah Wahidin Sudirohusodo, seorang priyayi dengan wajah yang damai dan sikap yang arif.
Di kemudian hari, Wahidin, Sutomo, juga Cipto Mangunkusumo dan kakaknya, Gunawan, dikenal sebagai tokoh-tokoh pergerakan Indonesia — lambang kebangkitan nasional.
Seandainya mereka masih hidup sekarang, entah apa yang akan mereka katakan dan lakukan ketika melihat Indonesia yang modern, tapi rakyatnya masih banyak yang miskin dan tingkat pendidikannya belum merata. Banyak gedung sekolah yang reyot, bahkan ambruk, dan muridnya paria.
Hari ini kita mengingat kembali berdirinya Budi Utomo, 100 tahun Kebangkitan Nasional, dengan bangga dan prihatin.
Merdeka!