Max Pecas Ndahe

Mei 21, 2008 § 39 Komentar

Max Moein. Nama itu tiba-tiba jatuh dari udara ke pangkuan saya pada sebuah siang yang lengas. Jangan tanyakan bagaimana prosesnya sebab saya pun tak tahu — dan ndak terlalu peduli.

Mungkin tak banyak di antara sampean yang mengenal Max Moein, politikus dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini, karena kamera televisi jarang menampilkan wajahnya.

Meski lama berkarier di Senayan, sosoknya memang kalah pamor ketimbang, misalnya, Megawati Soekarnoputri atau Pramono Anung, Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal partai berlambang banteng hitam dalam lingkaran merah itu.

Max Moein pernah menjadi Ketua Komisi IX DPR RI periode 1999-2004. Beberapa anggota Komisi yang dipimpin Max ini disebut-sebut media massa menerima aliran dana dari Bank Indonesia. Kasus aliran dana ini masih ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi.

Sejauh ini, kasus aliran dana itu belum tuntas diungkap. KPK baru menetapkan tiga tersangka dari kalangan Bank Sentral dan dua dari DPR, yakni Antony Zeidra Abidin dan Hamka Yamdu.

Tapi, Max membantah Komisi tersebut menerima aliran dana Bank Indonesia. Menurut dia, tuduhan itu tidak logis karena Komisi itu justru membatasi wewenang BI.

Sekarang Max adalah Wakil Ketua Komisi XI (Keuangan dan Perbankan) DPR RI. Komisi ini ramai dibicarakan media massa ketika bersilang pendapat dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengenai calon gubernur Bank Indonesia.

Beberapa saat sebelum Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Boediono akhirnya terpilih sebagai Gubernur Bank Sentral yang baru menggantikan Burhanuddin Abdullah, Maxlah salah satu wakil rakyat yang terang-terangan menolaknya.

Menurut Max Moein, partainya akan menolak jika Boediono dicalonkan. Ia mengakui Boediono memiliki kemampuan moneter yang mumpuni dan dikenal luas di dunia internasional.

Tapi, menurut Max, Boediono lebih pas di posisinya sekarang. Ia lalu secara blak-blakan meminta Presiden mengusulkan minimal satu nama calon dari internal BI.

Siapakah calon pilihan Max?

Dia terang-terangan menyebut Miranda Goeltom, yang saat ini menjabat Deputi Gubernur Senior BI, sebagai kandidat yang paling layak dicalonkan.

Kita tahu akhir cerita itu. Boedionolah yang akhirnya terpilih sebagai Gubernur Bank Indonesia lewat voting dengan perolehan suara mutlak.

Dari 46 anggota Komisi yang hadir dan memberikan suara, hanya satu suara yang menolak Boediono. Max? Bukan!

Drajad Wibowo dari Partai Amanat Nasional adalah satu-satunya anggota Komisi yang menolak Boediono.

Lantas, mengapa sekarang Max ditulis di sini? Apakah ada hubungannya dengan posting sebelumnya? Kalau iya, terus yang satunya lagi siapa dong?

Hush, hush … ssssssssssttt … sudah, sudah … Jangan melebar ke mana-mana. Itu memang pertanyaan yang bagus. Tapi, maaf, saya ndak punya jawaban yang bagus, hehehe …

Saya hanya ingin mengajak sampean melakukan tamasya politik. Max, bagaimanapun perannya, adalah sepotong puzzle dalam lanskap politik Indonesia — tak peduli besar atau kecil perannya.

Ia bagian kecil dari sebuah peristiwa besar yang sejatinya saling bersambungan. Kita tahu, tak ada satu pun peristiwa politik yang berdiri sendiri. Sebuah peristiwa selalu berkaitan dengan peristiwa lainnya.

Saya bukan hendak mengajari sampean tentang ilmu politik, melainkan hanya ingin menunjukkan bahwa politik punya banyak wajah. Kita bahkan bisa melihatnya dari pelbagai sisi.

Seperti sebuah prisma, politik memantulkan beragam sinar dalam pelbagai spektrum warna. Dengan mengenali sosok politik yang seperti itu, barangkali kita jadi bisa lebih arif memahami setiap gelora dan dinamikanya.

Salam pencerahan.

Iklan

Tagged: , , , , , , , , ,

§ 39 Responses to Max Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Max Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: