Firefox Pecas Ndahe

Juni 25, 2008 § 33 Komentar

Peluncuran perdana mesin peramban Firefox 3 pada 17 Juni lalu menghebohkan ranah Internet. Jutaan pecinta produk berlogo rubah api ini langsung mengunduhnya dalam aksi spektakuler yang konon memecahkan rekor dunia.

dagdigdug di firefox indonesia

Sebagai blogger “kemarin sore” dan bukan orang yang tergolong “pakar” teknologi, tentu saja saya tak ikut arus gegap gempita peluncuran Firefox 3. Saya bahkan belum memperbarui peramban saya dengan versi terbaru itu. Mungkin nanti-nanti saja. « Read the rest of this entry »

Pernikahan Pecas Ndahe

Juni 25, 2008 § 61 Komentar

Akhirnya, hari yang berbahagia itu datang menghampiri. Setelah berhari-hari tanya kanan dan kiri, rekan kita Zamroni memberanikan diri meminang sang putri: Nona Dita sendiri.

Saya terima undangan mereka tadi pagi lewat Tiki (titipan teka-teki) dengan hati-hati, antara menahan haru dan geli. Kok ya masih ada yang berani memperistri gadis model begini, hihihihi …

undangan zamandita

Dan ternyata undangan itu dilengkapi foto-foto berseri, pre wedding photography kata orang luar negeri. Silakan lihat di bawah ini. « Read the rest of this entry »

Kantuk Pecas Ndahe

Juni 24, 2008 § 24 Komentar

Bila kantuk sudah tak tertahankan, meja kerja pun jadi peraduan. Beginilah secuil romantika mburuh di pabrik saya. Yang tidur ini seorang penjaga gawang kabar dari Euro 2008, temannya Cya, mantan pujaan Zam.

tidur di meja

Setelah begadang menunggu berita dari ujung dunia, teman saya ini pun melepas pulas seadanya. Ah, seandainya orang tua, istri, kakak, adek, atau teman-temannya melihat, pasti trenyuh, duuuh …

>> Selamat hari Selasa, Ki Sanak. Apakah sampean cukup tidur tadi malam?

ePaper Pecas Ndahe

Juni 23, 2008 § 39 Komentar

epaper koran tempo

Wah, apa ini? Silakan baca informasinya di sini dan jangan lupa tolong beri masukan demi pengembangan ePaper.

Sepeda Pecas Ndahe

Juni 23, 2008 § 31 Komentar

Pada sebuah malam yang jenaka, Pak Tua Demokrasi naik sepeda. Jalannya pelan, sedikit terseok. Lalu lintas ramai, kendaraan hilir-mudik.

Di perempatan, Pak Tua Demokrasi belok kiri. Kiri? Kenapa kiri [dengan “k” kecil]? Mengapa ia tak memilih kanan atau lurus saja?

Barangkali Pak Tua Demokrasi lebih suka belok kiri karena ia merasa lebih susah ke depan atau ke kanan. Dengan kayuhan sepeda yang perlahan seperti itu, wajar saja jika dia takut terlanggar kendaraan yang bersicepat dari depan atau kanan.

Belok kiri lebih gampang lantaran dia tinggal mengikuti jalan dan tak perlu berpapasan atau bersilangan dengan prahoto dari arah berlawanan. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently viewing the archives for Juni, 2008 at Ndoro Kakung.