Dangdut Pecas Ndahe

Agustus 3, 2008 § 137 Komentar

Sebagai blogger, sebetulnya apa sih, peran sampean, Ndoro?

Begitu seseorang pernah bertanya. Saat itu, malam sedang memeluk Jakarta. Selimut gelapnya membungkus sempurna wajah-wajah yang semula terang benderang.

Saya tersenyum sebelum menjawab pertanyaan itu. “Peran? Hmmm … Sebagai blogger, kadang saya merasa seperti musikus,” jawab saya sekenanya.

Maksudnya?

“Ya pemain musik, dari pop hingga klasik. Kadang saya memainkan lagu-lagu klasik yang ndak jelas nada dan maksudnya. Mungkin hanya bisa dicerna dengan roso.

Sesekali saya mainkan musik jazz yang penuh improvisasi, keluar dari pakem-pakem irama yang biasa dimainkan musikus lain.

Tak jarang pula saya juga melagukan musik dangdut — musik yang disukai banyak orang itu.

Memang ada sebagian yang menyebutnya musik kampungan, musik rakyat jelata. Tapi, biar saja. Saya ndak munafik. Saya memang sering ikut goyang bila mendengar irama dangdut.”

Meskipun goyangan sampean menyenggol teman yang sedang berjoged di sebelah ya, Ndoro?

“Lah itu risiko joged di tengah kawasan yang padat. Sampean ndak cuma akan kesenggol, kadang bisa terinjak juga.”

Woh, berarti peran sampean mengerikan juga ya, Ndoro? Saya ndak mau dekat-dekat sampean ah.

“Memang. Jadi ya terserah sampean, mau jauh dari saya atau tidak. Saya toh ndak pernah memaksa. Ini ranah yang demokratis.

Tolong dicamkan saja satu hal: Tidak ada niatan buruk dalam lubuk hati yang terdalam dan sanubari saya ketika bermain musik. Saya bukan hendak mengotori kuping sampean dengan suara sampah ini dan itu.

Tujuan saya berjoged dangdut hanya untuk menghibur sampean. Bahwa sampean ndak merasa terhibur itu urusan sampean, bukan urusan saya.

Silakan ikut joged di sini, kalau sampean suka. Bila ndak senang, silakan cari gelanggang yang lain. Pindah kanal, cari acara yang lebih menarik.

Saya ini penyanyi, pemusik, tukang gosip, atau terserah apa saja sampean menyebutnya. Yang jelas saya bukan pendeta, kiai, atau ulama yang mengeluarkan fatwa ini dan itu. Saya juga bukan polisi atau jaksa yang tugasnya menyelidiki perkara ini dan itu.”

Pewarta bukan?

“Mungkin semacam itulah. Tapi, pewarta macam apa pula saya ini kalau warta yang saya kabarkan ndak pernah saya yakini juga kebenarannya. Sebab, fakta, juga kebenaran, itu relatif. Kadang justru ada di tempat-tempat yang tak kita sukai atau duga sebelumnya. But the truth is out there …”

Kalau sampean belum yakin, kenapa diwartakan, dikabarkan, ke delapan penjuru angin?

“Loh memangnya ada yang bisa menjamin warta saya itu seratus persen benar atau sebaliknya seratus persen salah? Bukankah yang selalu muncul hanya klaim, menganggap yang itu benar dan itu salah?

Justru dalam ketidakyakinan itu sebaiknya kita bersama-sama mencari dan mendapatkannya. Jangan bebankan semuanya ke saya. Toh saya punya keterbatasan.

Dalam keterbatasan, saya mengajak sampean semua untuk ikut menemukan kebenaran lebih lanjut. Mencari kebenaran mungkin seperti mengupas kulit bawang, harus selembar demi selembar. Setiap lembar kulit kebenaran yang terbuka bisa membuat pedih mata kita. Memang ini upaya yang ndak mudah. Tapi, apa salahnya berikhtiar?”

Meski itu menelan korban?

“Apa sih sebetulnya korban? Apakah dia sekadar angka statistik? Tentu bukan. Dari kacamata siapa seseorang digolongkan sebagai korban? Jangan-jangan kita semua ini sesungguhnya adalah korban? Korban dari apa? Korban dari sengkarut yang sesungguhnya tak kita ketahui sepenuhnya.”

Atau jangan-jangan sampean cuma mau cari sensasi dan kemasyhuran?

Untuk apa? Popularitas itu membelenggu. Ia cuma menjadi sebuah perli sesaat. Sedangkan sejarah ranah blog mungkin mirip sejarah kembang api.

Seseorang dengan cepat terlontar bercahaya ke angkasa, bak bintang luncur dengan suara riuh. Tapi tak lama kemudian, ia tak tampak. Ia malah mungkin jatuh sebagai arang yang getas.

Barangkali juga sejarah blog itu tak selalu hanya sejarah kembang api. Kita bahkan bisa membacanya sebagai petualangan antariksa dalam kisah Star Trek yang belum pernah ditulis: penjelajahan mendapatkan Ratu Adil di belantara semesta yang tak tepermanai.

Kita yakin kita akan menemuinya, seraya berusaha mengerti kenapa Kafka berkata, Sang Juru Selamat hanya akan datang ketika ia tak dibutuhkan lagi.

Dan saya, bukan juru selamat siapa-siapa.”

>> Selamat hari Ahad, Ki Sanak. Hari ini sampean mau menyelamatkan siapa?

Iklan

Tagged: , , , , ,

§ 137 Responses to Dangdut Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Dangdut Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: