Melayu Pecas Ndahe

Mei 11, 2009 § 67 Komentar

Band-band beraliran Melayu membuat gerah sebagian musisi. Lalu kabarnya ada gerakan menolak band-band Melayu segala. Ini soal bisnis atau selera yang menolak diseragamkan?

Saya bukan pengarang lagu, pemain band, atau konduktor orkestra. Saya bahkan ndak bisa memainkan satu alat musik pun. Pendeknya saya bukan musikus. Soal musik, saya nol besar. Pengetahuan musik saya payah. Begitu pula suara saya. Lah wong kentut saja fales, apalagi menyanyi. Saya tak bisa membaca not balok, membedakan tanda kres dan mol, maupun tanda birama. Jadi jangan tanya pula soal cresendo maupun pianisimo segala.

Tapi saya tahu bagaimana mendengarkan musik. Saya tahu mana musik yang enak dan cocok di kuping atau yang bikin saya senewen. Saya mampu membedakan jenis musik rock, jazz, R&B, Ska, dangdut, atau keroncong. Saya pun tahu lagu apa yang sedang populer atau masuk chart. Kalaupun lupa, saya tahu di mana harus mencari informasinya.

Lantas apa masalahnya? Kenapa tiba-tiba saya menulis soal musik?

Jadi begini, Ki Sanak. Saya ini sedang terheran-heran, ndak habis pikir kenapa tiba-tiba ada isu tentang band Melayu, kritik terhadap maraknya lagu-lagu Melayu, dan sebangsanya. Isu itu berseliweran di media infotainment, situs media hiburan, dan di warung-warung.

Saya menduga asal-muasal gegeran ini dari pernyataan seorang musikus yang menyindir maraknya band-band yang bernapaskan irama musik Melayu.

“Alhamdulillah. Ini Anugerah Musik Indonesia kan, bukan Anugerah Musik Melayu.” — Yovie Widiyanto di acara Anugerah Musik Indonesia 2009, Balai Sarbini, Jakarta, 24 April 2009.

Pernyataan itu entah kenapa lalu bergulir menjadi polemik. Sejumlah musikus memberi tanggapan. Penyanyi Ussy Sulistiawaty, misalnya, tak merasa banjirnya musik bernuansa Melayu sekarang ini sebagai suatu masalah. Malah kata Ussy, mereka yang tidak suka jenis musik tersebut hanya karena termakan gengsi.

Tere, penyanyi, mengatakan, “Menurut saya musik Melayu sah-sah saja. Tapi asal jangan seragam.”

Seragam? Maksudnya? Entah …

Ada yang mencoba netral, seperti yang saya baca di sini.

“Saya tidak ingin memihak, tetapi secara obyektif, menurut saya, orang mau ngeband kemudian ada unsur Melayu atau unsur lain seperti rock, jazz, samba itu hal yang wajar dan biasa saja.” — pengamat musik Bens Leo kepada Tempo Interaktif.

Saya jadi terheran-heran. Sebenarnya ada apa sih?

Ada yang mengatakan ini semata-mata soal bisnis. Gara-gara band Melayu sedang populer, angka penjualan albumnya rata-rata tinggi, para produser rekaman ogah memproduksi album non Melayu. Akibatnya, band-band yang non Melayu mengeluh sepi order. Kambing hitam dicari. Yang Melayu itu harus disingkirkan.

Tentu saja sinyalemen ini belum tentu benar. Belum tentu ini melulu urusan bisnis. Barangkali ada sebab-sebab lain yang kita belum tahu.

“Tampaknya ada sesuatu yang senantiasa terjadi pada musik dan jatuhnya di dalam hidup sehari-hari. Musik memiliki warna-warni prestise,” kata Paklik Isnogud dengan suaranya yang melodius itu.

“Barangkali itulah sebabnya Mas, di Indonesia, entah dari mana asal muasalnya, dulu ada jenis lagu yang disebut ‘seriosa’ dan ada yang ‘hiburan’. Yang pertama disebarkan luas oleh RRI Jakarta 50 tahun yang lalu dengan nama yang seakan-akan datang dari Italia. Umumnya, musik ini ditandai oleh keangkeran, warna suara tinggi, langkahnya lambat, suaranya syahdu, tak sembarangan, pendeknya dari hati yang gawat. Sebenarnya tak banyak bedanya jenis lagu-lagu ini dengan musicante yang dinyanyikan orang di Venezia buat para turis. Tapi di Indonesia, ia memperoleh kelas tersendiri.”

“Adakah sebab lain, Paklik?”

“Barangkali juga karena pada dasarnya kita menghormati keseriusan. Mungkin kita ini kelompok yang mengutamakan segala sesuatu yang serius. Kita sekumpulan orang terpilih. Prestisius. Elit. Kita hanya menghargai dan bisa menikmati musik-musik yang ‘tinggi’. Sensasi, gerak, celoteh, main-main, seperti yang melekat pada lagu-lagu pop itu dianggap bisa dilakukan setiap orang. Bahkan seorang presiden pun bisa melagukan Kemesraan. Karena itulah, lagu yang populer sering dianggap bukan lagu yang punya prestise.

Apa boleh buat, musik ‘tinggi’, prestisius, memang menghendaki bakat yang khusus, visi yang luar biasa, latihan yang tak main-main. Tapi dengan demikian memang akan banyak orang yang terasing dari proses kehidupan yang ‘tinggi’ itu.

Musik para jenius bukanlah musik untuk orang ramai. Ia musik ‘elitis’. Dalam banyak hal ia juga mahal. Bukankah menambang berlian juga memerlukan waktu, kecakapan, dan perlengkapan khusus?

Hanya lingkungan yang cocok dan sumber kekayaan yang besar yang dapat melahirkan seniman besar buat orkes besar dan sebuah gedung seperti Sydney Opera House.

Meski begitu, kita tak perlu menjadi orang yang snob, lantas mencemooh orang lain yang kita anggap sebagai kere unyik. Toh semangat populisme masa kini tak mampu mengganyang ‘musik tinggi’ itu. Begitu juga sebaliknya, kalangan elit tak bakal sanggup meringkus musik pasaran itu lalu membuangnya ke comberan. Soal selera, kita tak bisa diseragamkan, bukan?”

>> Selamat hari Senin, Ki Sanak. Apakah sampean menyukai lagu-lagu ST12?

Iklan

Tagged: , , ,

§ 67 Responses to Melayu Pecas Ndahe

  • Fa lho... berkata:

    iya Ndoro, saya suka lagunya ST12! *err… lagunya yg kayak mana ya?*

  • Fa lho... berkata:

    OMG!
    saya pertamax di blog ini?
    *apakah kiamat sudah dekat?*
    😀

  • meneerjulie berkata:

    Saya percaya semua musik itu ‘innocent’, ndoro. Semua dosa dan kesalahan ada pada para pendengarnya yang memberikan segala jenis atribut kepada musik.

  • cah cepu berkata:

    semakin banyak band2 indo lahir, semakin banyak pula yg tidak bermutu
    “makan tu tema musik cinta” 🙂

  • epat berkata:

    tinggal bilang, “masalah lu apa?” hahaha

  • widi hermansyah berkata:

    Selera orang beda2. Jangan yang satu merasa lebih tinggi dari yang lain.

  • lindaleenk berkata:

    terlalu banyak band2 baru yang muncul sekali lalu tenggelam begitu saja 😀
    *membosankan* 😀

  • heri berkata:

    saya ndak bs bilang ndak suka,wong tak jarang baek scara sadar atau enggak,krn sering denger,jd ikutan bersenandung.
    Lagipula ini cm urusan selera dan musim aja,kalau udh pd bosen nanti jg bakal berganti ke jenis yg laennya.

  • -GoenRock- berkata:

    Ya begitulah industri musik kita, cuman bisa ikut-ikutan biar laku. Kalau saya mah tetep suka Progressive Rock & Waljinah! *ini serius*

  • petra berkata:

    saia senang dengar lagu melayu ^_^

  • masoglek berkata:

    Ndor ada koreksi dikin nih
    itu comotan kata2 Yovie kok tanggal 24 Mei 2009 nggak salah tuh 😀

  • Rusa Bawean™ berkata:

    sebelumnya saya tersentak melihat Yovie ngomong kek gitu di AMI award waktu lalu
    berani banget ya ngomong kek git??? salut deh

    saya suka lagu2nya ST12

  • mikow berkata:

    kenapa musik melayu yg disalahkan? gimana kalo ada orang2 yg bikin pernyataan “katakan tidak pada musik campursari or musik jawa?”

  • anggis berkata:

    biarlah mengalir, tar kalo ada berita yg lebih populer pasti ilang juga masalah ini 🙂

  • saylow berkata:

    Saya pikir (*jarang mikir), ini adalah Trend Sesaat™. Pada akhirnya seleksi alam bakalan jalan. Masih ingat bagaimana waktu music ska begitu di gandrungi di negeri ini, band-band barupun banyak yang beraliran ska. Sekarang hanya beberapa saja yang masih bertahan walupun di jalur Indie.

    Kalau sekarang music dengan “cengkok” ini menjadi trend ya karena pasarnya ada tentu saja pihak produser lebih “in to the money”. Kemudahan untuk menikmati musik luar dengan cara membajak di negeri ini-pun tidak membuat pendengar menjadi kehilangan selera asal, bercenkok.

    Kita secara nggak sadar jadi ikutan tahu liriknya kok walupun nggak suka lagunya, lawong diputar terus di radio, tv, mall, warung makan. Oh ya jadi inget kemarin makan di “Warung Italia” di Seminyak mereka putar lagu “Kamu… kamu… kamu…” hahaha

  • nadia berkata:

    ndoro, saya kuper nih.
    Maksudnya musik melayu tuh dangdut ya ndoro, model2 jaman dulu yg Wulan Merindu itu?
    Memangnya sedang masalah ya di indonesia.. rasanya oke2 aja kan yah, musik melayu.

    • Ndoro Kakung berkata:

      err … bukan yang itu nadia. coba cari lagu-lagu ST 12 di Google deh.

      • dee berkata:

        saya juga mikirnya sambil baca musik melayu = musik sejenis Wulan Merindu, Fatwa Pujangga, yah karya jadul Said effendi gitu.. saya suka malahan..tapi kalo yang dimaksud sejenis st12 ya mbuh juga ya..beda sih sama musik melayu yang saya ingat..
        kata2nya nih ndor, musik melayu/dangdut kan = country music di Amerika sono.. yah dangdut is the music of our country gitu loh..hehehe..

  • GiE berkata:

    Saya nggak terlalu memperhatikan musik Indonesia. Soalnya terlalu banyak lagu yang mendayu-dayu sih. Jadi jenuh deh, ndor…

    Kecuali lagu-lagu yang idealis macam ERK, baru saya suka. 😆

    • wahyu hidayat berkata:

      sama kaya GIE *sama-sama suka ERK*
      btw..kaya nya musti dibedakan deh ndoro, antara musik melayu dan yang ke melayu-melayu an..kalo musik melayu macam mashabi dll itu mas enak sekali..tapi kalo ST 12..ya mbuh ndor…

  • Toni @ NavinoT berkata:

    Hmm, saya rasa kok bukan sekedar cari kambing hitam ya. Kalau dari segi musisi, akan wajar bertanya karena penghargaannya adalah musik terbaik dan bukan terlaris atau nomer satu pilihan pendengar. Blackbox penjurian membuat mereka penasaran.

    Dari sisi pendengar, pun ada yang mengkritik popularitas musik melayu, yang jadi masalah adalah terjadinya pemaksaan cita rasa. Mereka tahu ada banyak musik lain dan dimana menemukannya. Akibatnya tentu saja sebuah ungkapan frustrasi akibat dijebak dalam dunia satu rasa.

    Begitu kira2 analisa kere saya 😛

  • Daus berkata:

    Apapun, pernyataan Yovie itu jelas kekanak-kanakan.

  • Nazieb berkata:

    Soal musik itu memang personal taste, Ndoro..

    Kalau memang banyak yang suka, kenapa harus disingkirkan? Apa karena iri musik “Indonesia” kalah laku?

  • yoyok berkata:

    Ibu-ibu bapak-bapak
    Siapa yang punya anak
    Bilang aku
    aku yang tengah malu
    Sama teman-temanku
    karena cuma diriku yang tak laku-laku

    wakakakak…mungkin yg mbikin lagu ini .dapet pahala karena bisa bikin saya ketawa

  • DV berkata:

    Soal jeans dan musik, saya sangat membatasi Ndoro.
    Saya pengagum Levis dan Nudie Jeans, dan soal musik entah saya harus lahir berapa kali untuk berencana membeli keping cd grup2 melayu itu.
    Tp kalau sampai disoundingkan ke ranah publik kok ngga etis juga ya…:)

  • Ojat berkata:

    yahh itu yang mencemooh ya tinggal terus ngebuktiin aja kalo mereka bisa membuat karya2 yang lebih bagus dari melayu, ga usah sampe ngemeng2 gitu di depan publik. ga etis rasanya. jazz, pop, rok, melayu, dangdut, apa aja lah, asal enak didenger 😛

  • hedi berkata:

    emang memprihatinkan sih, tapi pelaku industri ga salah total, wong publiknya seneng kok. mirip dgn sinetron

  • mesin kasir berkata:

    aliran melayu kan buanyak tuh jamannya panbers, sampe daur ulang lagi lagu melayu lama jaman sekarang, kalo aliran sih warna dan karakter, kebebasan berekspresi harus didukung jangan dibatasi karena akan mematikan kreatifitas

  • sandynata berkata:

    issssabeelllaaa aaaadaaaalllaaaaaaahhhhh…….

  • yah.. ini kan cuman tren sesaat,, sama kaya’ waktu jaman 80-an dulu yang ada ami search-nya..
    *emang udah tau?* 😀

  • mbakDos berkata:

    lantaran si pemusik datang dari ‘kalangan bawah’ atau bukan dari kota metropolis, jadi yaaa mungkin dianggap kampungan. mungkin reaksi kekhawatiran aja sih, sebenernya 😉

  • dobelden berkata:

    klo menurut aku karena yovie dan ridho slank itu sedang sepi order jadinya senewen ma musik melayu :hammer:

    katanya kreatif tapi kalah saing komennya jadi gak kreatif 👿

  • kafein berkata:

    kita dengarkan yang enak aja soal orang lain tidak suka ya sudah kita dengarkan sendirian saja hehe.. musik kan hiburan

  • Dimas berkata:

    ST 12 itu yang mana ya Ndoro? *sambil ngelirik rekaman video mas goen waktu daku nyanyi Cari Pacar Lagi bareng imam di inulvista*

  • freezwords berkata:

    Setiap orang bebas berekpresi dengan jenis musik pilihannya, tapi kalau musikalitasnya ‘gitu doang’ ya ga enak juga di kuping

  • borsalino berkata:

    biar ku putuskan saja
    ku tak mau hatiku terluka
    lebih baik ku cukupkan saja
    ku tak mau batinku tersiksa

    jangan kau selalu merasa
    yg bisa main musik bukan dirimu saja
    lebih baik ku putuskan saja
    ayo nyanyi lagi …

  • sofwan.kalipaksi berkata:

    Ah…ndoro bisa saja. Ngakunya nol besar dalam musik, tapi kok ngerti: not balok, tanda kres dan mol, tanda birama. cresendo dan pianisimo segala.

    🙂

  • mukelu berkata:

    Kalo buat sayah nining meida ama doel sumbang teteup nomer satu !!
    darso juga boleh

  • Abdul Ghofur berkata:

    Boso jowone melayu itu lari ndoro..
    Jadi musiknya pada lari..

  • Zam berkata:

    masalah situ apa???

  • refanidea berkata:

    saya juga jengah sama lagu-lagu melayu yang memaksa jadi populer.
    ST 12, Kangen Band, lalu muncul lagi sekarang band-band yang nggak jelas konsepnya.

    jelas saya gerah musik Indonesia begitu-begitu aja. kuping saya memang rada apatis sama band-band dengan musik sejenis mereka tadi. kalau dengar di radio langsung saya ganti. kalau temen muter lagu itu, saya pergi. saya mungkin nggak kuasa menyebut mereka “kampungan” seperti istilah yang digunakan teman saya. tapi tolonglah majukan musik Indonesia dengan musik yang berbobot.

    kalau dunia pertelivisian sudah makin menggelikan dengan sinetron2 kejar tayang, mengapa musik Indonesia juga harus menyerah pada: melayu melulu..

    pada prinsipnya saya nggak setuju musik dikotak-kotakkan menjadi elit dan tidak elit. paling-paling yang akan disebut sebagai musik elit adalah Jazz, Bossanova, atau musik klasik.

    ndak perlu jadi elit, saya telah menjadi suka pada jazz, bossanova, alternative rock, melodic punk, dan dangdutnya Arrafiq.

    saya dulu juga tergila-gila pada lagu Issabella-nya Search.. tapi kan kalau melayu mengisi atmosphere musik Indonesia berbulan-bulan tanpa henti, apa bedanya tv yang penuh sesak dengan tayangan sinetron yang tak mendidik..?

  • putri berkata:

    saya sih sepakat kalau maraknya musik melayu disebabkan oleh industri (record label) yang merasa bisa meraup banyak keuntungan dari situ dengan menerapkan satu strategi marketing yang berusaha memunculkan false consciousness terhadap publik.
    putar dan tayangkan terus setiap hari dan dimana saja, maka khalayak akan jatuh cinta. witing tresno jalaran soko kulino.

    klo saya pribadi sekarang sedang rindu rindu nya dengan musik era tahun 90an yang sangat beragam, seperti boyband ala Trio Libels atau ME, band berbeda aliran seperti Dewa 19, Protonema, Voodoo, Slank, Gigi, Sheila on 7, Padi sampai yang etnik macamnya Kahitna, atau penyanyi solo seperti Andre Hehanusa, Yana Julio, Tito Soemarsono, and the list goes on.

    ngerasa ajah ketika itu kita masih bebas dan belum sepenuhnya didikte oleh industri. jadi sekarang kita lihat saja apakah group group melayu itu nanti akan menjadi legend dan mampu mempunyai fan base yang kuat dan solid seperti Slank, atau cuma sekedar numpang lewat dalam ranah hiburan dan hanya mampu mencetak one hits wonder..

  • andrias ekoyuono berkata:

    Bukannya itu masalah tren dan selera aja ? Ada masa-masa dimana suatu jenis lagu menjadi bagian perkembangan trend musik. Sebelum ini, semua lagu rasanya mirip peterpan dan ungu 🙂 Jadi saya rasa ya bentar lagi juga akan berganti. Makanya musisi yang bisa survive di pasar atau di panggung dalam rentang waktu panjang seperti Slank, Gigi, dan Dewa (a.k.a Ahmad Dhani) adalah musisi yang cerdas mengawinkan selera musik pribadi dan selera musik pasar.
    ps : apapun itu, ST 12 kayaknya jadi lagu wajib karaoke 🙂

  • antown berkata:

    suka kuburan, lucu2. mengobati stres 🙂

  • sulistia berkata:

    Saya hanya menikmati musik ndoro… apapun alirannya asal pas ditelinga saya..

  • ekaria27 berkata:

    Lho musik itu soal selera !
    Tak perlu disragamkan apalagi dikucilkan krn kepopulerannya…
    Ndoro kita denger musik yooooks

  • zam.web.id berkata:

    biar pendengar yg menentukan

  • mayssari berkata:

    Weeeeeeeeeeeee Denmas Ndoro kalah dalam hal statistik dunk…

    met hari Jum’at Ndoro, sudah Jum’atan belum?

  • Herman Riadi berkata:

    Salam kenal Ndoro. Dah sering baca blog Ndoro, baru kali ini isi reply.
    Kalo saya pribadi ga terlalu masalah Ndoro, selama itu original bukan plagiat. Lagian jug abiar ga BOCEN denger musik yg genre-nya itu2 terus

  • Ginatri berkata:

    ironisnya yang ngomong itu Yovie… musiknya dia kan enggak bagus2 amat juga… hehehe… *menurut gue lho :))*

  • aribowo berkata:

    Sorry Yov, kayaknya music luh paling bagus aja, gue juga nggak suka2 amat, Dibandingin ama KLA, Padi nggak kul klul…..sah saja orang mau bikin apa selama isinya tidak menyalahi etika.

  • Hendrawan berkata:

    nggak perlu diperdebatkan dan dipermasalahkan, itu kan malah menambah alternatif pendengaran kita, bagus itu..

  • duth berkata:

    salut dgn web nya noro kakung…

  • hongleicc berkata:

    上海泓雷实业有限公司是最大的扎带生产企业之一,专业生产尼龙扎带,环保扎带,能够以最快的速度,优惠的价格,最信赖的质量服务每一位客户. 尼龙扎带.

  • Ariesusduabelas berkata:

    betul!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Melayu Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: