Mei 21, 2009 9:09 pm
Apa hubungan antara santri dan Facebook? Bertanyalah pada para peserta forum Bahtsul Masail di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Dalam acara yang membahas tema-tema sosial itu, para santri membicarakan media sosial daring yang sedang naik daun itu.
Saya membaca berita perihal itu di sini. Menurut berita tersebut, peserta juga membahas soal pencalonan perempuan menjadi caleg, hukum mempercayai khasiat batu dukun cilik Ponari.
Mengapa Facebook ikut dibicarakan?
Kepada wartawan Tempo, Juru bicara Pondok Pesantren Lirboyo Nabil Haroen mengatakan interaksi di dunia maya dinilai merupakan salah satu pemicu hubungan negatif dengan lawan jenis. Sebab semua materi percakapan tersebut nyaris tak terkontrol dan berlangsung bebas.
“Beberapa anak muda menggunakannya untuk mojok dan berbicara maksiat.” — Nabil kepada Tempo.
Karena itulah, forum Bahtsul Masail menganggap hukum penggunaan jejaring sosial tersebut, seperti halnya handphone dan Friendster, perlu ditetapkan.
Yang menarik, Wakil Gubernur Jawa Timur Syaifullah Yusuf ikut memberi komentar terhadap rencana pembuatan hukum pemakaian Facebook di kalangan para santri.
Ia meminta para peserta forum Bahtsul Masail berhati-hati sebelum memutuskan hukum soal teknologi jejaring sosial Facebook.
Gus Ipul — nama panggilan untuk Syaifullah Yusuf — mengatakan diperlukan pemahaman yang mendalam tentang Facebook sebelum memutuskan halal atau haramnya. Kecanggihan teknologi selalu membawa dampak manfaat dan mudharat sekaligus.
“Jangan sampai yang memutuskan itu tidak pernah membuka facebook.” — Gus Ipul.
Gus Ipul juga berharap apa pun keputusan yang akan diambil forum tersebut bukan sesuatu bersifat instan dan populis semata, seperti halnya keputusan para ulama saat mengeluarkan fatwa haram rokok.
Hmmm … menarik. Popularitas Facebook ternyata menembus dinding-dinding pesantren. Para santri tak hanya membuka lembaran-lembaran kitab suci Alquran, tapi juga mengklik halaman-halaman digital Facebook.
Jamaah tarekat Al Fesbukiyah telah bertambah begitu rupa. Saya ndak tahu apakah fenomena ini layak disyukuri atau justru dikeluhkan.
Bagaimanapun, tak semua orang siap menghadapi gelombang teknologi yang menghumbalang seluruh dunia ini. Sebagian merasa asyik-asyik saja, tapi ada pula yang kagok. Pengasuh pondok, misalnya, menganggap Facebook hanyalah tempat untuk mojok dan berbuat maksiat. Lalu yang kikuk merasa harus merumuskan sesuatu.
Ah, hidup begitu berwarna di Indonesia. Begitu pula segala isinya. Satu notkah di langit bisa dikira potongan meteor yang jatuh. Padahal mungkin hanya selembar daun yang luruh…
>> Selama hari Kamis, Ki Sanak. Apakah sampean pernah mojok dan berbuat maksiat di Facebook?
Diposkan oleh: Ndoro Kakung
Kategori: Indonesiana
Tag: facebook, kediri, lirboyo, maksiat, pondok
Mobile Site | Full Site
Get a free blog at WordPress.com Theme: WordPress Mobile Edition by Alex King.
ndoro….kurang T
By ikam on Mei 21, 2009 pada 9:15 pm
eh, apanya yang kurang T?
By Ndoro Kakung on Mei 21, 2009 pada 9:18 pm
wah mas / mbak ikam ndoro sampe pusing tuh nyari kurangnya “T”
salam indonesia dari mas Nawi
http://wywee.wordpress.com
By anawia on Mei 22, 2009 pada 5:50 pm
Bukannya salah tempat T dan K?
By mariskova on Mei 24, 2009 pada 9:39 pm
iya, noktah, bukan notkah 😀
By ladybugfreak on Mei 30, 2009 pada 9:20 am
Facebook justru situs jejaring sosial dunia yg paling sedikit ditemukan terjadinya hal2 senonoh. Unsur pengawasannya cukup ketat. Hihi, lucu aja kalau ini tiba2 ditentukan haram. Yang selalu menjadi kambing hitam selalu medianya, dan bukan bagaimana user memanfaatkan secara positif media itu.
By Pitra on Mei 21, 2009 pada 9:21 pm
@Pitra, saya mengerti dan mafhum sekali kenapa pihak pesantren membahas ini, soalnya dulu pas waktu jaman saya, maen surat-surat an antara santriwan dan santriwati hukumannya lumayan berat kalau ketahuan, bisa dicukur sampai gundul atau menguras kamar mandi, ya saya sepakat sekali dengan Pitra yang mesti digarap adalah “user” nya dan bukan Facebook nya.
By Wazeen on Mei 22, 2009 pada 1:13 am
Tepat Sekali Mas Pitra, sebenernya yang menjadi pokok perhatian adalah user nya.
Simple kasus aja.. Gula aja yang manis kalo di konsumsi orang yang kena diabetes khan juga gak boleh.. Tapi terus jangan generalisasi kalo gula gak boleh untuk semua orang..
Sekali lagi saya setuju dengan Mas Pitra..
By Endri on Mei 25, 2009 pada 2:34 pm
jangan2 nanti facebook difatwa haram oleh MUI
By masoglek on Mei 21, 2009 pada 9:43 pm
ignore aja MUI,kebanyakan yang di situ kyai-kyai proyek semua.
By Wazeen on Mei 22, 2009 pada 1:09 am
ya ndak semua to mas..
hwe hwe
By zia on November 1, 2009 pada 2:49 pm
Setuju sama Pitra! Coba aja ada yang memanfaatkan Facebook untuk membuat aplikasi yang bermanfaat misalnya, kuis tentang seberapa kamu mengenal Rasulullah atau kuis2 bernuansa religius lainnya, pasti mereka akan bicara lain. Eh, atau udah ada ya? 🙄
By -GoenRock- on Mei 21, 2009 pada 9:43 pm
gimana kalo kita bikin goen… 😉
By dita_disini on Mei 22, 2009 pada 2:44 am
Kan buku ttg Facebook banyak tuh. Saya jg baru selesai buat buku “Marketing with Facebook.” Nah, sekarang kalo mau ada dong yang buat buku “Berdakwah melalui Facebook.” hihihi.. 😀 Kalau ada yg mau, nanti saya bantu cariin penerbitnya deh.
By Pitra on Mei 22, 2009 pada 6:59 am
setuju sama ide iniiihhh 😀
By wahyu am on Mei 23, 2009 pada 7:28 am
ada ada aja.. 🙂
By Cak Uding on Mei 21, 2009 pada 9:50 pm
kalau menurut saya harusnya bukan facebooknya yang langsung di putuskan haram atau tidak, tetapi orang yang akses apakah sudah berpikiran positif atau memang niatnya mau mojok saja.
Seperti kata mbah @pitra, facebook itu control terhadap content negatif-nya cukup ketat, jadi harusnya bisa di-antisipasi..
By podelz on Mei 21, 2009 pada 9:54 pm
menurut saya,malah seharusnya fesbuk ini bs dijadikan sbg sarana untuk bersyiar,berdakwah,mewartakan kebajikan oleh pihak pondok pesantren,seperti penggalangan kegiatan sosial yg slama ini sdh banyak dilakukan melalui media fesbuk. Jgn dikit2 bikin fatwa haram,jgn gegabah.
Br kmaren saya berandai dgn seorang kawan tentang gmana seandainya fesbuk ini sdh ada sejak jaman nabi?
By heri on Mei 21, 2009 pada 10:37 pm
intinya tergantung dari individu masing-masing ^_^
By mirma yudha on Mei 21, 2009 pada 11:10 pm
arep ngguyu gak penak ah…
*ndekep mulut sendiri*
By epat on Mei 21, 2009 pada 11:36 pm
Ha ha ha, jujur saya ngakak baca berita ini di koran sampean itu Ndoro, ini jelas infiltrasi “kelompok yang itu” di tubuh NU, sayang sekarang di NU sendiri masih digerogoti oleh beberapa kyai yang prgamatis, jadinya ya kerjaannya membahas fesbuk seperti ini.
By Wazeen on Mei 22, 2009 pada 12:41 am
inilah globalisasi..
siap2 aja 🙂
By mantan santri on Mei 22, 2009 pada 12:53 am
mungkin yanag harusnya dilarang adalah membuka fesbuk ketika mengaji, ketika ketika belajar, dan sholat (ya iyalah, masa sholat sambil pesbukan)
serta menghukum para santri bila mereka tidak mengerjakan tugas atau hapalan gara2 si pesbuk ini… bukan mengharamkan pesbuknya. kalo begini mah sama aja dgn, ingin menangkap tikus di lumbung, lumbungnya dibakar…
eh salah ya?? hehehehe
By dita_disini on Mei 22, 2009 pada 2:49 am
Facebook memang layak diharamkan mengingat ia buatan orang Zion..:)
By DV on Mei 22, 2009 pada 6:30 am
Hari ini saya baru secara “terpaksa” mendaftar facebook…. 🙂
Ha….
By nusantaraku on Mei 22, 2009 pada 6:55 am
facebooknya apa 😀
By wahyu am on Mei 23, 2009 pada 7:29 am
Jamaah tarekat Al Fesbukiyah telah bertambah begitu rupa. Fenomena yang layak disyukuri ndoro.
By Titis Sinatrya on Mei 22, 2009 pada 7:20 am
facebook hanya media, tergantung siapa memakai untuk apa.
By widi hermansyah on Mei 22, 2009 pada 7:48 am
Ya elah, semuanya jadi haram kalo cuma ngelihat sisi negatifnya :D. Berarti DVD juga haram karena banyak digunakan untuk merekam film xxx. DVD playernya juga haram, televisi juga haram, handphone juga haram. dst.
Pesantren Lirboyo juga nantinya bisa dianggap haram kalau ada kasus, misalnya, perzinahan di tempat itu.
By Daus on Mei 22, 2009 pada 8:00 am
hus hus! yang komen ini nanti juga haram, mas! wekekeke
By Zam on Mei 22, 2009 pada 1:22 pm
Sabar sabar sabar
By Jauhari on Mei 22, 2009 pada 6:28 pm
tuk mas daus jangan sewot duluan lah. kita ngerti kok mana yang boleh. saya rasa haram tidaknya fesbuk tergantung kepada usernya aja. fesbuk itu kan barang mati jadi tidak bisa dihukumi. oke ……
By kang ali on Juni 9, 2009 pada 6:34 pm
BETUL bangetttttt……setuju 100%….
tergantung pemakaian nya donk…
jangan lihat dari sisi negatif nya saja….
By Yulinda Fauziah on September 30, 2009 pada 2:37 pm
baru sebulan maen fesbuk saya sudah mulai bosan…
By wongsimo on Mei 22, 2009 pada 8:22 am
Facebook dan User
Yang perlu di khawatirkan adalah User itu sendiri, sejauh mana mereka dapat memanfaatkan situs jejaring tersebut, sekedar bersilaturahmi, mungkin tidak masalah, namun kadang kala segelintir penyalahgunaan yg salah, membuat User-User yg lain menjadi “latah” dan cepat menyabar, maklumlah namanya jg situs jejaring, yang semua orang dapat mengaksesnya..masalah haram / tidak haram, balik lg ke User itu sendiri…..BERSOSIALISI tidak hanya Mengunakan Facebook.
dari pada pamer foto(narsis), komentarin orang(gosip), cariperhatian(Sekedar sensasi), ikutan kuis yang jelas tingkat akurasinya…..mending ngelakuin yg bermanfaat di dunia nyata……Bukan…..di dunia Maya”dalam hal ini Facebook”.
Menurut saya,
By rere on Mei 22, 2009 pada 8:24 am
Saya jadi ingin ketawa ngakak aja……., kenapa mesti ribut sama facebook? Wong Yahoo Msgr yang lebih mampu bikin orang ke arah zina saja gak pernah diusik koq. Menurut saya yang penting ya si pelakunya, bukan sarananya.
By nutrend-way on Mei 22, 2009 pada 8:43 am
senang banget ma kata “Jemaat Al Fesbukiyah”, kreatif banget… lucu.
By zefka on Mei 22, 2009 pada 8:46 am
suer, saya juga suka istilah ini hehe…:)
By paijos on Mei 22, 2009 pada 10:20 am
sya juga suka….^_^
By Yulinda Fauziah on September 30, 2009 pada 2:42 pm
SAntrine pengin main PESBUK pisan, tapi ora oleh karo kyai ne….
By LuxsMan on Mei 22, 2009 pada 8:47 am
semua merupakan media, alat, atau prasarana. Tergantung subjek yg menggunakannya. Kalo mo digunakan sebagai ajang maksiat … bisa, bahkan untuk dakwah yg berbobot juga … bisa.
By zefka on Mei 22, 2009 pada 8:48 am
tergantung niatnya to maen facebooknya bwt apa 😀
By bangsawan96 on Mei 22, 2009 pada 9:01 am
ah indonesia … bosan saya ndoro
makin gak jelas kita
yang kecil diribution
eh yang besar malah didiemin
sakarepmu lah !
By donyariya on Mei 22, 2009 pada 9:16 am
salam ndoro…
al-hukmu yaduuru ma’al illah wujuudan wa ‘adaman..itu kata ulama. hukum itu dinilai dari fungsinya bukan dari bendanya..contoh: pisau yang sama digunakan untuk menyembelih kurban, di lain waktu digunkana untuk membunuh orang, apakah pisau nya yang harus disalahkan?
mari kita berusaha menjawab pertanyaan ini sendiri 🙂
makasih
By pensiun kaya on Mei 22, 2009 pada 9:25 am
sya 100% setuju……
By Yulinda Fauziah on September 30, 2009 pada 2:44 pm
Ya, kemajuan teknologi memang membuat sebagian orang jadi pontang panting..kekawatiranpun menggumpal.
Sebelum memutuskan, maka para santri itu perlu diajarkan bagaimana etika menggunakan internet, belajar ngeblog, kemudian ikut jejaring sosial. Kita tak bisa begitu saja mengharamkan sesuatu tanpa mengerti keadaan yang sebenarnya.
Disini perlu adanya kepemimpinan yang juga memahami perlunya teknologi.
Saat anakku masih remaja, saya juga kawatir tentang bahaya internet, saat itu saya tak terlalu paham tentang teknologi ini. Namun untuk melarangnya justru kawatir kalau mereka malah sembunyi-sembunyi. Satu2nya jalan, saya ikut belajar dan memasang internet di rumah, yang bisa dipakai 24 jam, bahkan teman2nya boleh pakai, supaya pengawasannya mudah.
By edratna on Mei 22, 2009 pada 10:16 am
aslinya, pak kyai pengen ikut, tapi ngga bisa yo mas?
bener kata temen2 di atas. seharusnya user yang dibenahi. bukan teknologinya yg dilarang.
By paijos on Mei 22, 2009 pada 10:18 am
Gusti Alloh nyuwun ngapunten…
donya makin ruwet aja…
bisa2 poro alim ulama kesruh gara2 menentukan hukum phesbuk…
klo facebook di ganti nama “KITABUL WAJHI”…dengan Lughotul ‘Arobiah…lebih seru tuh kyknya.
By Aoeliya on Mei 22, 2009 pada 10:36 am
hahaha yang ini lucuuuuuuuu *ngakak gulung koming*
By arya on Mei 22, 2009 pada 11:08 pm
hahaha……
ade ade aje……!!!!!!!..^_^
By Yulinda Fauziah on September 30, 2009 pada 2:49 pm
Bagaima kalau diusulkan sistem pengajian Kitab Kuning menggunakan media Facebook? Jadi bisa untuk ganti sistem sorogan dan bandongan gitu…
Semua orang bosa mengakses di halaman facebook mereka, dengan seorang kiyai menjadi pemandunya. Si kiyai juga harus punya account di facebook, Jangkauan dakwah bisa lebih diperluas, membuka ruang dialog dan komunikatif bukan??
Kapan ini bisa terwujud? Kajian Kitab Kuning Online Via Facebook. Aku membayangkan bisa ngaji kitab kifayatul akhyar, subulus salam, alfiyah dengan para jamaah. santriwan-santriwati, dan fesbukiyyun wa fesbukiyyat lainnya…
By faried wijdan on Mei 22, 2009 pada 11:29 am
nice blog…
nice post….
salam kenal 😀
By Sewa mobil di surabaya on Mei 22, 2009 pada 11:31 am
ha? emang bisa ya mojok di facebook? ajarin dong…
jemaat Al-Faysbuuqiya’
By aryo on Mei 22, 2009 pada 11:35 am
saya rasa facebook cukup ketat pengawasannya…. lagipula kembali lagi kepada masalah moralitas… mau ditutup serapat apapun pintu maksiat,,,, jika pada dasarnya moral masih belum bener… pasti pintu tersebut akan jebol…
saran : bagi kalangan pondok, lebih baik tanamkanlah moral dasar kepada ank didiknya. karena dengan terbentuknya moral dasar yang kuat… undang2 pun tidak akan dibutuhkan lagi di belahan dunia bagian manapun….
By ranggagoblog on Mei 22, 2009 pada 11:41 am
emang bisa ya facebook buat mojok???
🙂
By Rusa Bawean™ on Mei 22, 2009 pada 12:38 pm
Heeem….
saya punya teman mengajar di ponpres… (terkenal bgt di Indo)
satu fenomena yang membuat saya miris adalah Friendster (wktu itu belum booming FB) di banned untuk santri2nya tapi ustad dan ustadzah bisa bebas memakainya.
Standart ganda diterapkan.
Anw smua jejaring sosial itu antara mufakat dan mudaratnya (bener gak nich kata mudarat ini saya gunakan disini) berpulang lagi kepada diri sendiri. Jika pondasi hidup kuat, mau kek apa itu jejaring ya gak masuk negatifnya. Justru kita mampu menyaring sisi positifnya dari jejaring…
Salam, EKA
By Eka Situmorang-Sir on Mei 22, 2009 pada 12:39 pm
@Eka, ponpres? pondok presiden 😀
By Wazeen on Mei 24, 2009 pada 1:41 am
setuju dengan dakwah itu..
kan banyak juga tuh grup2 dakwah di fesbuk, malahan menurut saya jadi lebih ngena ke setiap orang,jadi dakwahnya lebih trendy n up to date gituh..
Tapi kalo mojok di fesbuk?aduh ndoro bisa aja…emang ada pojokannya di fesbuk?saya nggak pernah nyampe pojok tuh.:P
By atetamom on Mei 22, 2009 pada 12:41 pm
>> Selama hari Kamis, Ki Sanak. Apakah sampean pernah mojok dan berbuat maksiat di Facebook?
Selama Hari Kamis ga buka FB Ndoro….. Mati lampu seharian… Wekekeke….
BTW, setuju… maksud saya, setuju yang ini: Jangan Sampe yang memutuskan yang Ga pernah Buka FB.
Menurut saya Fb sih cuma alat ndoro… Jangan sampai juga Nanti “Pisau” juga diharamkan, dengan alasan para preman pake pisau buat nodong. … Trs klu di bilang, ya bedaaaaaaaaa pisau sama FB, klu pisau banyak gunanya, klu FB? FB, klu yang ga pernah pake ya ga ada gunanya….
Jangan sampai nanti santri jadi bulan2an di FB , trs santri ga berani buka gara-gara haram… piye jal? Inget waktu Pemilu kemarin yang di FB heboh, Say No to M*ga…???
Kembalikan saja pada niatnya. Kalau memang harus diharamkan, buatlah penelitian integral tentang hal ini…. Bikin Survey yang valid. Umumkan ke masyarakat…. Saya rasa, gerakan moral lebih penting dari pada sekedar fatwa haram atau halal…
http://ekojuli.wordpress.com/
By ekojuli on Mei 22, 2009 pada 12:56 pm
yen gur mengharamkan fesbuk yo wis kedhisikan kantorku hahahaha…
By guntur on Mei 22, 2009 pada 1:08 pm
lha nek kuwi kan tergantung “user” nya mas….hehehehehe….
nang kene mbuka fesbuk liwat IE haram…tp liwat ff halal heheheh…
By rondo royal on Mei 22, 2009 pada 3:01 pm
serba haram hoho.. tapi klo haram kan urusan Agama yeh ? yang penting jangan sampai buka Facebook kena PIDANA saja hehe..
By kafein on Mei 22, 2009 pada 3:23 pm
Gonjang-ganjing Fesbuk…masih berlanjut toh..
Sekarang yang geger kalangan pondok pesantren…bukannya gonjang-ganjing ini udah lama, kok mereka baru sekarang ributnya…:P
By eviwidi on Mei 22, 2009 pada 3:28 pm
bagus juga kalo para kyai mengikuti perkembangan, mereka kan penuntun umat. semoga keputusan yang dibuat memang bermanfaat (dan juga berefek), ndak mbingungi kayak fatwa rokok kemaren
By mas stein on Mei 22, 2009 pada 3:38 pm
nojok di pesbuk? errgghhhh… saya seriiiiiiiiiiiing…… *mojok lagi* =))
By ichanx on Mei 22, 2009 pada 3:55 pm
ya elaahhhhhhhh cape dech…kalo ini mah tergantung orangnya kaleeeeee….. *nepok jidat*
By Ph!duT on Mei 22, 2009 pada 4:27 pm
Gus Ipul pastilah meminta berhati-hati jika ulama hendak memutuskan soal pisbuk. lha wong Ny Ipul juga aktivis eh anggota pisbuk, je. Hehehehehe
By juniantosetyadi on Mei 22, 2009 pada 5:59 pm
opo meneh iki kaum sarungan, facebook koq haram
haramkan saja mereka yang pergi haji pake pesawat. toh di pesawat juga pernah ada kasus mesum antara pilot dan pramugarinya.
nah lho, mau pake getek ke mekkahnya kiyai???
salam,
kaum abangan
bakudara.com
By annas on Mei 22, 2009 pada 6:13 pm
benar2 facebook begitu fenomenal…. ga kalah sama ponari
By abusyafiq on Mei 22, 2009 pada 6:16 pm
Wah, beritane ngawur, Ndoro, liat disini http://news.okezone.com/read/2009/05/22/1/222213/pengasuh-ponpes-lirboyo-bantah-bahas-facebook
Kabar para ulama Jawa Timur akan membahas fatwa Facebook ternyata tidak benar. Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, KH Idris Marzuki membantah pernyataan tersebut.
Bahkan Kiai Idris membantah kenal dengan orang yang mengatasnamakan juru bicara Ponpes Lirboyo, Nabil Haroen yang sebelumnya menyatakan akan ada fatwa untuk Facebook. “Tidak ada itu, saya bahkan tidak kenal dengan Nabil,” ujarnya saat dihubungi okezone di Jawa Timur, Jumat (22/5/2009).
Kiai Idris mengaku memang ada pertemuan para ulama di Jawa Timur dengan agenda membahas persoalan umat kontemporer. Namun pertemuan itu sama sekali tidak menyinggung tentang hukum Facebook. “Tadi malam pertemuannya selesai. Tapi tidak ada bahas itu,” ungkapnya.
Sebelumnya, Associated Press memberitakan para tokoh muslim di Indonesia akan mengeluarkan fatwa tentang jejaring sosial di dunia maya. Sebab apabila disalahgunakan situs semacam Facebook dapat mengundang birahi. Dalam ajaran Islam hal itu diharamkan.
Dalam berita tersebut AP mengklaim mendapatkan sumber dari juru bicara Ponpes Lirboyo, Kediri, Nabil Haroen. Tapi belakangan pengasuh Ponpes Lirboyo KH Idris Marzuki membantah kenal dengan Nabil.
By wongsimo on Mei 22, 2009 pada 7:33 pm
email juga harom krn dijadikan alat buat bercabul2. google juga haram krn dijadikan alat buat bercabul2. detik, tempointeraktif, kompas, juga cabul. *halah*
By arya on Mei 22, 2009 pada 11:06 pm
Eh, embuh ndoro. lha wong benda mati kok diributin hukumnya.lha yang paling berhak nyandang hukuman itu kan ya cuma manusia . jadi ya tinggal manusianya yang menggunakan to ndoro kakung. kalu mau maksiat pake facebook , notebook atau gembook kah ya pemakainya to yang dihukumi.
By mr.Dab on Mei 22, 2009 pada 11:39 pm
Wah, serba sliwar-sliwer semuanya. Yang benar yang mana ? Isue ? Atau usaha pendeskreditan ?
FREEDOWNLOAD YANG BEJAD-BEJAD DISINI
By elexyoben on Mei 23, 2009 pada 12:09 am
Santri juga manusia. Maksudnya, santri juga butuh mesbuk. Kasihan toh kalau ditanya, “Punya facebook nggak?” santri itu menjawab, “Oh, punya tiga. Kemarin Kyai bagi-bagi facebook setelah ada kunjungan calon presiden ke pesanten saya.”
Apa kali facebook yang dimaksud santri itu… Saya juga bingung.
By Kombor on Mei 23, 2009 pada 12:41 am
jadi ingat cerita awalnya teknologi telpon masuk ke arab. Pada awalnya telpon difatwa dan dianggap alat berteknologi setan karena bisa mengantarkan suara berkilo2 kilometer, dan karena karena itu pihak otoritas sono tidak mau memakainya. Alhasil pihak penjual (amrik punya) ternyata punya akal jitu buat meyakinkan pihak pembeli, yaitu dengan cara membacakan ayat-ayat Quran dan doa2 di telpon dan sebelah sana didengarkan oleh sang calon pembeli. Dan akhirnya setelah dianggap bahwa setan tidak mungkin “membaca” dan menyampaikan doa2 tersebut pihak otoritas pun dengan lega hati mau juga membeli peralatan “setan” tersebut. Itulah adaptasi teknologi yang agak aneh…
By oksigenhitam on Mei 23, 2009 pada 8:57 am
alhamdulillah,bukan termasuk jamaah al fezbukiyah….
biar ndeso,pokoke tetep katro’…
aman…..
By lekdjie on Mei 23, 2009 pada 2:35 pm
Jamaah tarekat Al Fesbukiyah waah ini jamaahnya semua orang besar kecil hampir mengikutinya, . . . . . baiatnya bisa lewat mbah Gugel & yahooo atau yang lainnya
By Al dingkliki on Mei 23, 2009 pada 5:49 pm
ho..ho..ho…
sering ndor mojok mah…
secara PC-ku di pojok ruangan jeee…
By m42h31 on Mei 23, 2009 pada 6:29 pm
Ukhuwah Fesbukiyah… telah menembus pesantren…
By Wongbagoes on Mei 24, 2009 pada 12:47 am
soalnya, kiai jadi kurang jam tayang… jamaah al-fesbukiyah cari dalil di google. hahahaha. gini aja pak kiai, sampeyan haramkan juga pos kamling, mall, parkiran, taman kota, alun-alun. karena semuanya sering dipake mojok dan maksiat. hahahaha….
By wandi on Mei 24, 2009 pada 12:57 pm
Hahahaha..
By Mygos on Mei 24, 2009 pada 2:17 pm
pisau kalu di buat bunuh orang yo duso, ning di gawe masak ya manfoat, sami kados ngonten toh
By mesin kasir on Mei 24, 2009 pada 3:59 pm
kulo nderek facebook nembe sekedap sampun jeleh..
By ponco on Mei 24, 2009 pada 7:02 pm
hua ha.. mau mesum-mesum aja….
tak ada fb juga bisa kok jalan terus….
jadi pesantren yang identik dengan konvensional itu benar ya?
😦
By kw on Mei 24, 2009 pada 8:11 pm
Kamu suka.Saya suka blog ini.sangat bahik sekali.Selamat datang ya.
By Lasting Lyrics on Mei 25, 2009 pada 12:12 am
harapan ku sebagai wong alit sih semoga aja,
ini bukan karena iri,
iri kepada mereka yang masih muda, cantik, pinter dlll yang bisa mojok di pacebuk,
atau diem-diem mereka juga pada nyoba ngutak-utik pacebuknya…hehehehe
By pecinta indonesia on Mei 25, 2009 pada 1:23 pm
*bingung*
By ricohsanusi on Mei 25, 2009 pada 3:51 pm
[…] pengharaman facebook ini pertama kali saya ketahui setelah membaca sebuah tulisan di blog milik ndorokakung. Saya pun penasaran dan tak berapa lama saya googling dengan kata kunci […]
By Facebook Haram! | Generasi Patah Hati on Mei 25, 2009 pada 6:50 pm
kalo fesbuk ditutup, orang akan kembali ngeblo lagi hehe. emang bener blogger berkurang pemicunya gara2 fesbuk?
By antown on Mei 25, 2009 pada 7:03 pm
cultureshock biasa
By zam.web.id on Mei 25, 2009 pada 10:09 pm
Daftar facebook sejak setahun yang lalu. Bosan dengan facebook sejak dua bulan yang lalu.
Menurut saya, facebook cuma masalah kecil yang dibesar-besarkan.
By pushandaka on Mei 25, 2009 pada 10:57 pm
Salam
Gimana mo mojok Ndoro, akun fesbuknya lom punya he..he.. lom tertarik siy, eh fesbukmah kek pisau yang tajem atuh, mo dipake motong sayuran buat masak atau dipake multilasi orang, jd yg salah bukan pisaunya kali ya 😀
By nenyok on Mei 26, 2009 pada 12:20 am
sebenernya simple, sesuatu yg berlebihan itu ndak baik. ah, jadi teringat guru ngajiku pas smp:|
By nicowijaya on Mei 26, 2009 pada 12:39 am
Semuanya itu memang tergantung pada pemakai dan niat penggunanya…… kalo hanya cari tambahan teman shi, okey2 ajah, namun kalo niatnya sudah negatiup itu yg perlu di pertanyakan. teknology sebenarnya bukan untuk di permasalahkna, namun untuk di kembangkan ke arah yg lebih baek 😀
By Qie on Mei 26, 2009 pada 7:26 am
Cyber world sebetulnya sama saja seperti dunia nyata, tergantung kita mau ke mana..
Kalau santri Lirboyo diminta mengatar tamu berwisata ke Surabaya, apa langsung diajak blusukan ke Dolly ? Tentu tidak, kan banyak tempat lain yang lebih bermanfaat, misalnya ke museum kapal selam, perpustakaan, kebun binatang, monumen Yos Sudarso, jembatan Suramadu, mesjid Ampel, Unair, ITS, dsb.
Pada FB kita bisa ikut forum diskusi yg sangat banyak pilihannya, mulai dari topik yg ringan2 saja sampai topik yg mikir negoro, bahkan mikir swargo (surga)
Memang ada sebagian yg memanfaatkan utk kencan, prostitusi, bisnis ‘haram’ sampai judi..
Pesantren Lirboyo juga bisa memanfaatkan utk dakwah, diskusi ke-Islam-an, dsb.
Kalau pernah terjadi kasus pembunuhan dgn pisau dapur, apa semua pisau dapur menjadi haram..?
Kasus group “Say No To Mega” yang terkena ‘banned’ oleh FB, karena ada orang yg sengaja upload gambar porno, membuktikan bahwa FB cukup aman.
Akhirnya semua kembali ke pribadi kita masing-2.. mau ke mana kita..?
By bambang waspodo on Mei 26, 2009 pada 9:08 am
wong blm prenah megang mouse kok mengharamkan fesbuk
By hanya suporter on Mei 26, 2009 pada 9:31 am
[…] bias juga lihat disini https://ndorokakung.com/2009/05/21/lirboy… […]
By Kawan atau Lawan : hanya seorang suporter on Mei 26, 2009 pada 9:44 am
wah,wah..masuk pesantren pula toh si fesbuk ini..hehhe.. ya udah daripada pusing-pusing mending diblokir aja akses fesbuk di pesantrennya, kayak di kampus saya..hoho..urusan selesai tanpa harus memikirkan haram atau halalnya..hehehe.. 🙂
By si sapi on Mei 26, 2009 pada 3:16 pm
nok nok…saya terlempar ke ruang ini dari dee..the power of networking
By cupandme on Mei 26, 2009 pada 8:21 pm
Klo menurut pendapat pribadi saya ?
ada beberapa kondisi dimana Facebook tidak boleh dan dibolehkan.
tidak boleh apabila :
Pada saat jam kantor kita facebookan, kinerja jadi menurun, padahal waktu yang kita gunakan dikantor itu dibayar, masa kita makan gaji buta, menurut saya itu haram namanya, kecuali jika jam istirahat atau usai jam kerja.
Menjadi boleh apabila :
jika jejaring sosial ini berfungsi positif, menjaga jarak atau hubungan dengan teman-teman kita, dan digunakan untuk tindakan positif yang lainnya!
By ciput mardianto on Mei 27, 2009 pada 9:22 pm
user facebook
faceook >< user
By Mobile Tutorial Blog on Mei 28, 2009 pada 12:39 am
[…] anda?” kebebasan sebuah media menjadi sebuah ancaman bagi siapapun, maka usul face book haram itu juga mungkin bisa di “benar”kan dalam sudut tertentu. ketika acara kenduri cinta di […]
By generasi yang hilang : hanya seorang suporter on Mei 28, 2009 pada 11:11 am
[…] saya mbaca di blognya ndoro kakung, di situ ndoro antara lain nulis […]
By Lirboyo Tidak Mengharamkan Facebook « Mas Stein on Mei 28, 2009 pada 1:21 pm
Coba saja kalau akun FB itu semuanya berasal dari golongan muslim-muslimat, pasti ngga ada kasus yg seperti ini. Coba jaman dulu apa nggak dilarang tuh chatting via miRc? Padahal banyak room yang saru. Baru-baru ini situs C*****g juga…
By mawi wijna on Mei 28, 2009 pada 3:27 pm
ya sebaiknya kita gunakan sewajarnya karena bila berlebihan atau hal negatif apapun itu teknologinya ga akan bawa manfaat malah mudharatnya lebih gede…
salahs atu yang terbukti adalah ketika orang mengupload fhoto yang (maaf) sexi akhirnya digunakan oelhs ebagian oknum untuk menampilkannya disitus forno jadinya fitnah dan kebohonganlah yang timbul
By omiyan on Mei 28, 2009 pada 4:19 pm
mengutip KH Hasyim Muzadi; Facebook itu kaya pisau, kalau buat masak ndak masalah dan lain soal kalo buat bunuh orang.
By Jenk on Mei 29, 2009 pada 2:07 am
kapa ndak internet ae yang di haramin kan lebih banyak gambar seronok di dalam nya
By roman on Juni 7, 2009 pada 9:46 am
kite akhiri aja ribut-ribut masalah fesbuk. yo kite ngebahas yang lain yang lebih bermanfaat tuk hari esok kite. tuk semua jamaah fesbukiyah rasanya lebih baik kite ngitung seberapa banyak kite telah ngegunakan fesbuk tuk hal-hal positip
By abuya akmal on Juni 10, 2009 pada 1:28 pm
Begitualah PESANTREN, bak laboratorium. Mengkaji yang sudah ada, dan mengkaji hal yang baru da ada. Bijak bukan! Mencari hal terbaik dari yang telah ada!
SLAM PEMUDA
Ass.
By AIDS memanggilmu "REMAJA" on November 1, 2009 pada 2:31 pm
ya intix, te2p aja, innamal a’malu binniat.
di facebook jg banyak hal2 yg berbau dakwah.
klo ada yg merasa trganggu dg hal2 yg berbau negatif, tinggal laporin ja ke adminx.
Klo memang dirasa tuch facebook isix negatif, pasti langsung di blokir kok.
se7 ma mas Prita.
Pengawasan facebook juga cukuop ketat ^^
By KDNC on Februari 3, 2010 pada 2:52 pm
itulah….tekgnologi dan perkembangan dunia, tidak bisa dipungkiri lagi…segala sesuatu itu selalu ingin yang berkembang..sama halnya dengan perkmbangan ilmu dan tekhnologi yang selalu beriringan dalam perjalanannya..untuk menaklukkan dunia…
By maryam ramli on Februari 8, 2010 pada 8:00 am
biar ngak gaptek………..
By erickvand on Agustus 7, 2011 pada 12:27 am
Wow such a change! I’m sure it had been a lot of work but an excellent learning tool also…neat to find out!
By sewa elf surabaya on November 30, 2015 pada 2:02 pm