Suramadu Pecas Ndahe

Juni 17, 2009 § 115 Komentar

Baru satu minggu diresmikan, lampu-lampu penerangan Jembatan Suramadu hilang dicuri orang. Benarkah masyarakat kita tak mampu menghargai fasilitas publik?

Ini cerita tentang Suramadu, jembatan yang baru diresmikan pada 10 Juni 2009 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dibangun dengan dana lebih dari Rp 4 triliun, jembatan tersebut menghubungkan Pulau Jawa dan Madura.

Dengan panjang 5,4 kilometer, Suramadu menorehkan rekor sebagai jembatan terpanjang di Indonesia bahkan di Asia tenggara. Ia tercatat sebagai salah satu megaproyek yang pernah dibangun Indonesia setelah Stadion Utama Senaya dan Satelit Palapa.

Mulai dibangun pada pertengahan 2002 dengan 3.500 tenaga kerja Indonesia dan Cina, proyek Suramadu menghabiskan 28 ribu ton baja, serta 600 ribu ton campuran baja. Jembatan ini dirancang sanggup bertahan sekitar 100 tahun.

Satu abad? Mungkin tidak. Kenapa?

Belum sepekan diresmikan, Suramadu telah dipreteli tangan jahil. Sebanyak 42 lampu di bagian bentang utama (main span) telah hilang. Beberapa mur pagar besi di pinggir jembatan yang berfungsi sebagai pelindung motor juga hilang — menurut Koran Tempo. Pengelola jembatan bahkan telah menemukan beberapa goresan pisau di sekujur kabel penahan dua pilar utama jembatan. Goresan ini menandakan adanya upaya pemotongan kabel.

Mengerikan? Tentu saja.

Kita tahu bahwa Suramadu merupakan fasilitas publik yang didirikan untuk melayani kebutuhan masyarakat. Tempat penyeberangan, jalur lalu lintas orang dan kendaraan, sarana ekonomi, dan sebagainya. Pendeknya, bangunan itu sangat penting bagi kemaslahatan orang banyak. Jika fasilitas yang maha penting ini dicuri komponennya, dan mengancam fungsinya, kita tahu siapa yang dirugikan.

Bayangkan saja akibatnya bila kabel yang putus itu membuat jembatan tiba-tiba ambruk, sementara lalu lintas tengah mencapai puncaknya. Bagaimana seandainya lampu penerangan yang hilang itu membuat seorang pengemudi kehilangan arah dan menabrak kendaraan di depannya?

Suramadu memang bukan satu-satunya fasilitas publik yang rawan aksi pengrusakan dan pencurian. Banyak fasilitas lain di sekitar kita yang mengalami nasib sama. Sebut saja sebagai contoh gardu telepon umum, halte bus, rumput-rumput taman kota, papan petunjuk lalu lintas, dan sebagainya.

Pemerintah memang berkewajiban menjaga dan merawat semua fasilitas publik. Tapi masyarakat mestinya juga ikut bertanggung jawab.

Saya paham benar bahwa hidup kian sulit. Orang harus mencari segala macam kiat untuk bertahan hidup. Tapi mencuri jelas bukan solusi, apalagi sasarannya adalah milik umum. Apakah kita memang bukan bangsa perawat? Apakah kita memang tergolong orang yang tak peduli pada fasilitas umum?

>> Selamat hari Rabu, Ki Sanak. Apakah sampean masih bisa menemukan bangunan publik yang utuh?

Iklan

Tagged: , , , ,

§ 115 Responses to Suramadu Pecas Ndahe

  • Thomas Arie berkata:

    Itu soal keamanan fasilitas gimana toh itu nDor pengaturannya? Patroli? CCTV? Atau gimana? Kayaknya bisa jadi lebih marak lagi disana… Lha nyatanya “bisa” dicuri gitu kok…

    Siapa menyusul?

    • Ndoro Kakung berkata:

      kayaknya soal kecekatan juga, tom. biar dikasih cctv, malingnya tetep lebih pinter. kamera dan kabelnya diembat juga.

      • Thomas Arie berkata:

        Iya, maling selalu lebih didepan (halahhh, bahasane…)
        Tertarik untuk baca berita lanjutannya… sukur-sukur sampai apa yang terjadi dengan si maling.

        Lha sepertinya yang dirimu bilang, ini jadi bahaya banget toh… Hukuman maling kabel/baut yang di jembatan brapa lama sih?

        • Miftahur berkata:

          Orang-orang yg mreteli, merusak, mencuri fasilitas umum itu katrok’s banget ya! masak sih ga’ bisa diajak maju. Baru liat jembatan bagus aja udah berbuat kayak gitu. Emang, katrok’s bener2 katrok…

  • ariawan berkata:

    keliatannya ini bukan dilakukan oleh orang indonesia ndoro.. orang indonesia itu tertib semua kok… :p
    mungkin komponen2 suramadu ini juga dicuri oleh tetangga yang klepto itu yang akhir akhir ini lagi senengnya ganggu2in kita.. hehehe..

    j/k

  • kunderemp berkata:

    Kaaccaawwwww…….
    Kayaknya, untuk pencurian, kalau fasilitas publik, mendingan dihukum mati saja biar jera.. 😦

  • Pozan berkata:

    Gila. Derita kemiskinan tak penting buat keselamatan.

  • bangsari berkata:

    sepertinya yang ngembat tukang loak besi tuh.

  • Saya rasa ini masalah budaya. Budaya tidak beretika kita sudah sedemikian mendarah daging. Kira-kira bagaimana cara mengubahnya y? Fokus pada solusi!

  • mbakDos berkata:

    kepemilikan pribadi masih menang jauh di atas kepemilikan bersama (di mana si pribadi ini sebenarnya juga termasuk di dalamnya) 😦

  • Wah sungguh mengerikan. Mental sebagian masyarakat Indonesia memang sangat menyedihkan Ndoro.
    Tapi tidak dapat dipungkiri bahwa demi bisa makan, bisa nyambung hidup orang akan melakukan apa saja.
    Menurut saya kasus yang paling parah itu yang nyuri rel, ora mikir blas pelakune πŸ˜†
    Ah iya, sepertinya kurang bisa dipercaya apabila Suramadu bisa bertahan 1 abad.

  • warm berkata:

    pasti yg nyolong gak pernah “makan sekolahan”

  • Chic berkata:

    wooogh jadi inget pas melintas di jalan thamrin kapan tau itu Ndoro. Saya melihat beberapa petugas sedang memasang pot-pot tanaman gantung di halte-halte bus di sekitar jalan tersebut. setengah bercanda saya berucap pada teman saya bahwa paling dua tiga hari lagi pot-pot tersebut sudah lenyap.. πŸ˜†

    eh tadi pagi saya melintas di jalan itu lagi, ternyata benar!! beberapa halte tampak sudah tidak ada lagi pot tanaman menggantung, beberapa halte tinggal satu dua pot yang masih terlihat πŸ˜†

    ah itu lah endonesah… :mrgreen:

  • pensiun kaya berkata:

    itulah the TRUE INDONESIA…:-)
    jadi ngeri juga ya…bangsa Vandalis…

  • masoglek berkata:

    beginilah endonesa. wong yang anggota DPR aja suka nyuri apalagi rakyatnya

  • Wazeen berkata:

    Dini, pembangunan jembatan tersebut terlalu dini, memang saya akui pembangunan jembatan tersebut akan memudahkan saya untuk berlalu lalang kampung halaman saya di Madura, tapi jujur pembangunan Jembatan tersebut tidak diiringi dengan analisa sosial masyarakat Madura secara menyeluruh, dan saya sama sekali tidak sepakat jika ketika ada pengrusakan fasilitas umum yang ada kaitannya dengan besi [dan sate?] selalu dihubungkan dengan kebiasaan yang menjual besi.

    Lalu kenapa Suramadu? Bukankah Jembatan Madura lebih gagah?

    Maaf saya kurang sepakat dengan penamaan Suramadu, mengapa harus Suramadu? saya haqqul yakin ini berasal dari kebiasaan bangsa kita yang sukanya yang simpel simpel saja dan main singkat begitu saja, tanpa melihat dua unsur di penggabungan nama tersebut, Surabaya (nama kota) Madura (pulau), mengapa tidak dinamai Jembatan Madurajawa saja? atau Jembatan Madura? bukankah lebih gagah? seperti Stamford Bridge, London Bridge, atau Penang Bridge; however, it’s Madura Bridge.

    Maafkan saya Ndoro, darah Madura saya bergejolak.. πŸ˜‰ …

    • Well, cak Wazeen, penamaan Suramadu adalah penggabungan nama kota dan nama pulau. Menurut saya, sudah tepat penamaan tersebut. Kenapa? Sebab jembatan tersebut menyambungkan kota Surabaya dan daerah Kamal (kab. Bangkalan). Surabaya yang notabene adalah kota besar sudah pasti dimasukkan namanya, tapi lihat daerah Madura kota besarnya apa? Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Kita tidak mungkin menamainya jembatan Bangkalan karena itu jauh dari daerah Kamal. Sedangkan daerah Perak yang menjadi sisi jembatan untuk Surabaya dekat dengan Surabaya Kota itu sendiri. Jadi menurut saya, tidak salah penamaan tersebut. Correct me if I wrong.

  • indon berkata:

    sebenarnya gak semua perbuatan itu karena desakan ekonomi…mungkin ada yang mempreteli karena menganggap benda-benda di jembatan suramadu bagus sebagai koleksi…

    aku punya teman yang kamarnya dipenuhi berbagai rambu lalulintas (asli) yang diambil dari jalan raya….hehe….

  • bodrox berkata:

    kalo rakyat Indonesia udah bisa nyiram di WC umum sehabis kencing, mungkin barulah cerita yang kayak gini gak ada lagi di negri ini Om…

  • jarwadi berkata:

    hmm indonesia ku

  • Eyang berkata:

    membangun pribadi mulia lebih sulit daripada membangun jembatan mercusuar gini ya ndoro?

  • fekhi berkata:

    Pemerintah memang berkewajiban menjaga dan merawat semua fasilitas publik. Tapi masyarakat mestinya juga ikut bertanggung jawab.

    Saya paham benar bahwa hidup kian sulit. Orang harus mencari segala macam kiat untuk bertahan hidup. Tapi mencuri jelas bukan solusi, apalagi sasarannya adalah milik umum. Apakah kita memang bukan bangsa perawat? Apakah kita memang tergolong orang yang tak peduli pada fasilitas umum?

    Hmmm… kalau maling bisa baca blog, mungkin ndak jadi nyolong??
    Moga-moga semua penduduk Indonesia jadi blogger biar ndak colongan πŸ˜€

    Mental seperti ini menular, menurun. Alias dari strata atas yang nyolong dengan gaya elit, dan ditiru sama yang bawah dengan gaya kasar. Toh orang atas nggak perduli, mungkin itu pikir mereka. Toh kalau mereka nyolong, pemerintah bisa order lagi dan maintenance lagi (alias : keluar budget lagi, masuk kantong lagi). Toh dengan nyolong, buruh bangunan bisa kerja lagi, mungkin itu pikir mereka. Jadi mental ini harus diberantas dari mana? Karena setiap pembangunan yang terlibat nyolong bukan hanya mereka yang masyarakat tetapi juga pemrakarsa pembangunan itu sendiri.

    Saya tidak memaklumi kalangan masyarakat biasa, mereka bisa seperti itu karena siapa? Menjadi anarkis adalah suatu proses panjang yang berakibat ketidakperdulian terhadap nasib seseorang sehingga orangpun akan membalas dengan tindakan yang sama. Itulah efek lingkaran setan mental \’nyolong\’ yang tertanam dari semua lapisan.

    Sarana jalan pun demikian. Dibuat untuk dirusak, itu yang biasa kami katakan. Sengaja bahannya tidak sempurna biar tiap tahun ada pemeliharaan. Truk tonase tidak layak lewat dibiarkan saja sama aparat kalau sudah \’bayar\’, tidak apa-apa karena mendukung perbaikan jalan agar lancar uang ke kantong pribadi. Jadi?? Apakah mental masyarakat yang disalahkan?? Saya ragu… jangan-jangan memang mereka sudah dilatih untuk mempertebal kantong atasan, dilatih dengan imbalan πŸ™‚
    Nasib bangsaku… Mudah-mudahan ini hanya proses suatu bangsa yang akan maju.

  • Mas Gaptek berkata:

    Jadi ingat waktu tugas ke kalimantan, pas saya datang di kota Palangka raya ternyata sudah seminggu mengalami power outtage. Tanya punya tanya ternyata ada tower SUTET yg rubuh karena besi tiangnya dicuri orang. Yang diambil si maling mungkin cuma sebatang besi (kabarnya besi itu digergaji), tapi akibatnya tower segede gitu jadi rubuh/ambruk dan karena diatasnya terpasang kabel listrik diameter besar, maka efek dominonya si tower yang rubuh ikut menarik tower-tower lain di sebelahnya dan ikut rubuh juga.

    Semoga utk yang kali ini cepat diambil tindakan, jangan sampai kasus memalukan terus menerus terulang lagi.

  • Tiket Pesawat berkata:

    Kejadian yang patut disayangkan. Baru saja diresmikan udah mulai dirusak.

    Apakah hal ini disebabkan karena kondisi perekonomian yang semakin parah atau latar belakang yang lain. Namun perusakan jembatan yang membentang di atas selat madura ini akan berakibat fatal jika tidak segera ditangani dengan baik.

    Seluruh instansi yang terkait memang harus segera mencari solusinya. Bukan hanya mencari siapa yang salah atau menuding sana-sini, namun solusi untuk menangani hal ini dan mencegah hal ini terulang kembali haruslah segera ditemukan dan diaplikasikan.

  • mas stein berkata:

    kadang saya bingung mikir orang indonesia ini ndoro, kelakuannya berkebalikan dari yang diajarkan ki hajar dewantoro.

    ing ngarso sung tulodho, tapi pemimpin kita yang di depan ngasih contohnya juga sering yang bener,

    ing madyo mangun karso, kerjaan kita ini kalo di tengah seringnya obong-obong, memprovokasi, sering melempar isu yang ndak membangun

    tut wuri handayani, kelakuan kita di belakang juga sama saja, bukannya mbantu ndorong malah nggandholi, mberat-mberati.

  • senenkliwon berkata:

    Itu terjadi karena kemarin dibuka untuk umum, namun tidak ada patroli keamanan. Mungkin juga keluguan dari tenaga proyeknya yang menganggap penghuni Indonesia ini jujur semua, sehingga baut tidak di las, atau dikuni. Lampu juga tidak dipasang pengaman.

    salam

  • adis berkata:

    Wah malu dong sama \”tetangga\” kita

  • kolojenking berkata:

    Parah ndoro…. πŸ™‚

    Kalo cuma mur baut, mungkin rupiahnya gak seberapa ndoro. Tapi mungkin buat kenang-kenangan aja yang kemarin ikut photo-photo di suramadu. He.he.

    Tapi kalo dibiarin, lama-lama besi bajanya bisa habis ndoro. Tinggal nunggu ambrukny aja… 😦 😦

    *garuk-garuk kepala, mikir tapi gak nyampe* hi.hi.

  • dony berkata:

    *ngelus dada*
    spikles

  • andie berkata:

    iya tuh ndoro.
    orang Indonesia ga pandai menghargai fasilitas umum yang diberikan negara.
    bagus-bagus dibuat, dihancurin.
    ckckc.
    emang payah.
    πŸ˜€

  • riska berkata:

    ini pelajaran untuk kita semua untuk berhati hati dimana saja,
    ingat! kejahatan terjadi bukan karena niat si pelaku saja tapi karena adanya kesempatan . waspadalah , waspadalah . hehe

  • winy berkata:

    klo mikirin ini…. pecas ndahe…..

  • ada 2 pihak yang mungkin bisa dicurigai
    1. pihak transportasi laut
    2. pihak ….??? siapa yah belum terpikir ndoro πŸ™‚

  • oscar berkata:

    emang belom tau ya jembatan suramadu deket markas besarnya TRD…team rombeng demak…huahahaha…

    • Mumu berkata:

      @oscar :
      Hahaha..
      Demak sebentar lagi akan digusur cak..!!!

      Bagi kawan yang tidak mengerti, Jalan Demak dikenal sebagai daerah penadahan dan penjualan segala jenis onderdil kendaraan curian di surabaya. Rahasia umum penduduk surabaya.
      Menyediakan onderdil sekecil-kecilnya (detail), bahkan yang tidak dijual di toko resmi.
      Jadi kalau suatu saat anda kecurian kendaraan saat sedang ada di surabaya, langsung saja ke Jalan Demak.
      Ada kemungkinan sedang “dipreteli” di dalam salah satu toko.
      Hahaha..

      Dan satu lagi, Jalan Demak adalah daerah pusat penjualan besi bekas. =)
      Beng rombeng.. Rombeng..!!!

      Regards,
      Mumu

  • kangtris berkata:

    weh..weh…kayaknya lebih baik bikin “lampu anti maling” ya…

  • hanny berkata:

    hiiii, bayangkanlah, semua fasilitas umum yang bagus dan masih bertahan sampai kini seperti stasiun dan jalanan itu juga kan warisan kolonial, ya… lalu ingat kereta hibah Jepang yang di sini jadi kereta eksklusif Pakuan Ekspress. lihatlah nasibnya sekarang, kotor, tak terawat, gantungan kereta copot-copot… iya, mungkin sebagian dari kita memang bukan bangsa perawat.

    tapi ini seperti keadaan ketika kita berada di tempat yang kotor, kita tidak terlalu merasa bersalah membuang sampah sembangaran *toh, sudah kotor*. tapi kalau tempatnya bersiiih banget dan kinclong, misalnya di hotel berbintang gitu, kita juga jadi sungkan buang sampah sembarangan. *random komennya*

  • Robertfel berkata:

    sudah ditebak…..ternyata kejadian juga….memang susah kl sudah menjadi budaya (buruk) yang mengakar…Seharusnya hal ini sudah dipertimbangkan oleh pihak keamanan…

    Ngeri euy kl pas lwt tiba2 ambruk gara2 mur pada ilang πŸ˜€

  • meneerjulie berkata:

    Ruwet memang. Tapi untuk memulai mungkin bisa dibuat satu peraturan perundangan yang tegas untuk melindungi fasilitas publik.

    Pengawasan dengan kamera sepertinya memang layak dipertimbangkan. Mahal sih. Tapi saya pikir tetap perlu diupayakan.

    Di negara lain, setau saya, infrastruktur publik semacam ini (jembatan, terowongan, jalan raya, dan lain-lain) dilindungi dengan sungguh-sungguh oleh pemerintah. Ancaman hukuman pidana bagi perusak pun tidak main-main, Ndoro. Hampir semua jembatan dan tunnel yang ada di Belanda, contohnya, diamati 24 jam oleh sirkuit kamera tertutup multi-fungsi, selain untuk kendali lalu-lintas sekalian untuk kontrol keamanan fisik.

    Dan memang ada satu faktor lain yang juga penting, Ndoro, yaitu mental warga dan pengguna infrastruktur tersebut yang sudah sangat sadar akan kepentingan bersama. Mereka dengan suka cita menjaga infrastruktur itu. Sadar bahwa keselamatan bersama, keselamatan orang banyak sangat bergantung kepada niat kita untuk menjaga milik bersama.

    Sedih ya, Ndoro.

  • Tampah berkata:

    …jadi sinyalemen itu benar adanya ya

  • CSDW berkata:

    Waw, sungguh memilukan dan memprihatinkan ya, Aku yang dulu sering ke Madura dari Solo juga pernah mendengar kabar ini, banyak ditentang para orang yang menganggap kyainya orang Madura, agar tidak dibangun jembatan itu, sebab mereka tidak ingin bumi/warga Madura dipengaruhi banyak budaya asing. Kenyataannya sekarang jembatannya malah begitu. Apakah ini ada kaitannya dengan do’a para kyai itu ya? πŸ™„ Salam kenyal ndoro Kakung…

  • Kyai slamet berkata:

    Setelah Suramadu selesai, akankah gang dolly buka cabang di Sampang, Pamekasan, Sumenep atau Bangkalan?

  • mahasiswastan berkata:

    ya ampun….Gimana neh kok malah pada dicuri.
    Kapan kita mau menghargai kerja keras bangsa kita…

  • nomercy berkata:

    harusnya yang dibangun itu manusianya terlebih dahulu … ya akhlaknya, moral dan apalagi soal kemakmuran … bagaimana nggak ngiler kalau ada kesempatan buat ganjal perut … aplagi kalau akhlaknya dah morat-marit … duh …

  • dykapede berkata:

    untung masih 46 yang hilang ndoro..coba semuanya..bakal jadi jembatan suremen…^_^..V

  • Embun berkata:

    *longok-longok mencari SNIPER*

  • kombor berkata:

    Bandul besi di Jembatan Ampera di Palembang yang beratnya ton-tonan saja hilang dicuri sehingga bagian tengah jembatan Ampera itu tidak bisa diangkat lagi, apalagi mur!

    Tindakan seperti itu bukan tindakan kriminal biasa. Sebaiknya digolongkan sebagai tindakan subversif saja.

  • gagahput3ra berkata:

    Hahahah, speechless deh ngomentarinnya, gak ngerti sama mindset malingnya. πŸ˜€

  • DV berkata:

    Saya jadi bertanya, butuh berapa triliun tulisan seperti ini hingga masyarakat kita menjadi masyarakat yang “sehat” ya?
    Kadang saya kasihan sama sampeyan, seperti bicara di tengah padang gurun, yg mendengarkan ya cuma pasir2…

  • Soal CPNS 2009 berkata:

    Iya baru bentar di resmiin udah pada ilang mur2 n bautnya, di colong orang mlulu tuh

  • mesin kasir berkata:

    salah satu kelemahan pembangunan kita adalah mengutamakan pembangunan secara fisik saja tanpa di iringi pembangunan mental manusianya, jadi dikasih barang yang canggih-cangih dan bagus yo akhire dirusak, vandalisme ini sudah umum di alami semua fasilitas umum. susah dijak maju.
    baut dah hilang 78 lebih, lampu di embat, abis ini tali juga rangka baja nya di kilo, buyar wes, he he he
    lha wong kapal sandar aja di selat madura itu ada yang di protoli dan di kilo besine koq. semoga vandalisme ini segera berakhir dengan pencerahan pikiran serta mental. jangan bangaun fisik aja.

  • mesin kasir berkata:

    kasih masukan ndoro, suramadu bukan terpanjang di asia tenggara, cuman 5 kiloan lebih, masih panjang jembatan penang 13 kilo lebih di mal***sia πŸ™‚

  • umam berkata:

    kok indonesia kayak gini ya

  • Kyai slamet berkata:

    Ada satu pertanyaan besar, baut dan lampu itu dicuri atau belum dipasang? Bukankah jembatan itu belum selesai ketika diresmikan. Meksa ndaaaa…..

  • omiyan berkata:

    hahahaha ini mencerminkan bahwa masih ada rakyat yang tidak merasa memiliki akan fasilitas yang udah ada….. semata mata mereka cuman nyari duit … tapi ngorbanis orang lain…duh susah ngomongnya gimana ya yang jelas bikin malu banget dah

  • Ndoro Seten berkata:

    lha soale talipe kelalangen pak de….

  • seno berkata:

    Cuma di Indonesia.

  • sukab berkata:

    kayaknya ini masalah yang dari dulu ada di negeri ini yaitu “maling”, pertama ini terjadi karena soal perut, kalau mau gak ada maling lagi di negeri ini, beri kenyang dulu perut penduduk di negeri ini, kedua maling merupakan masalah kebiasaan, kalau mau merubah kebiasaan maling, beri pendidikan yang bagus dan murah bagi penduduk negeri ini.

  • achmad irsan berkata:

    Salahnya Pak Harto yang berkuasa terlalu lama yang gak membangun kualitas manusianya . . . jadinya gini, manusia Indonesia apa adanya . . . sulit banget klu mw jadinegara maju . . .

  • Tukang Ketik berkata:

    huahahaha…
    ternyata stereotip terhadap suku tertentu itu benar adanya…

  • faridwajdiarsya berkata:

    artinya kita harus memberantas kemiskinan dulu kali yak pak?? baru yang lainnya… tapi susah juga sih.. ah pusing!!

  • Indah Sitepu berkata:

    Bikin malu…. 😦

  • si siwipekok bilang, sejak masa pembangunannya, onderdilnya memang sering dicuri, kok, ndoro. makanya proyek yang wacananya saya tau sejak kelas 2 esde ini rampungnya jadi lama banget.

    solusi? saya ndak tau. apa masih ada solusi praktis untuk bangsa ini? solusi mungkin ada, tapi kayaknya nggak bakal bisa jalan dengan singkat. ini mungkin proyek selama 20-an tahun yang harus mulai didoktrinkan sejak sekarang πŸ˜€

  • si siwipekok bilang, sejak masa pembangunannya, onderdilnya memang sering dicuri, kok, ndoro. makanya proyek yang wacananya saya tau sejak kelas 2 esde ini rampungnya jadi lama banget.

    solusi? saya ndak tau. apa masih ada solusi praktis untuk bangsa ini? solusi mungkin ada, tapi kayaknya nggak bakal bisa jalan dengan singkat. ini mungkin proyek selama 20-an tahun yang harus mulai didoktrinkan sejak sekarang πŸ˜€

  • Asyiro berkata:

    waduuuuh, ndoro….. prihatin deh bangsa kita…. lama-lama jembatannya diangkat!

  • rambut berkata:

    lha dha lah, mas-mas yg lg berkomentar and ndorokakung also,menurut sy akar masalahnya bukan kepada bagaimana mengawasi sang jembatan agar tidak dicuri orang, karena yg mencuri itu tdk tahu akibat tangannya yg jahil, akan lebih gampang apabila kita bisa memandaikan mereka shg mereka tahu, seperti kita2 yg berkomen ini nah klo sdh begitu nanti kita bangun fasum apa-apa yg laen juga aman. monggo !

  • popon berkata:

    Negaraq tersayang………. sampai kapan masyarakatmu seperti ini……….

  • jatmiko berkata:

    bagus bgt brow…jembatanya…….top bgt skl

  • Luluk berkata:

    hemm, mungkin dijembatan itu belum ada tulisan: DILARANG MENCURI LAMPU, MUR, BAUT, KABEL DAN SEMUANYA YANG BISA DICURI!!!

    hehehe,,,

  • eko magelang berkata:

    iso ilang ?
    gendeng mangan semir tenan maling kuwi !!

  • koestoer berkata:

    Saya ada akal… pasangin kamera wireless (nirkabel)…

    lha gak ada kabelnya gimana mau dicuri kabelnya ? gak bisa toh…

    kameranya pasti gak dicuri sama maling, krn dia sdh punya kamera, kalo gak punya, gimana dia tau kalo penjaganya dateng… tuh kan.-

    Sahabat… pada mampir ya di blogku http://koestoer.wordpress.com/ terutama buat yg suka sama pendidikan dan wirausaha.-

  • AngelNdutz berkata:

    padahal Ndutz lum sempat sambang ke sonoh [-(

  • arief berkata:

    hahaha kalo orang indonesia sadar dan cinta ma bangsanya indonsia pasti cepet maju…pemerintah ga akan segan bangun fasilitas kalau rakyatnya mau peduli dan menjaga apa yang udah dibangun. dewasa aja.

  • Admin berkata:

    munkin kalo ketemu besi.. langsung ngiler….*(tes… tes…

  • ndahe berkata:

    Benar jg yg nganggep kejahatan dilebihkan setingkat oleh kebaikan.
    hihihi

  • Wazeen berkata:

    Mur-nya belum dipasang.

  • eviwidi berkata:

    Perawat adalah perempuan yang bisa merawat, peramal adalah perempuan yang ada di Mall ..*loh kok malah lari ke lagunya Project P*..?..hehe

    Waduh, saya yang warga jawa timur belum lihat dan merasakan nyebrang dari Surabaya ke Madura kok sudah ada berita kabel dan mur jembatan Suramadu dipretheli, piye to iki..?

    Tapi beberapa fasilitas umum yang saya temui seperti telepon umum,Halte, sering parah banget keadaannya. Aksi Vandalisme belum bisa dihilangkan dari bangsa kita…

    Sebaiknya memang harus ada kontrol dari pihak pemkot secara kontinyu untuk masalah ini, selain himbauan yang terus menerus kepada khalayak untuk menjaga fasilitas umum.

    Percuma kalau tidak dijaga, sudah habis bermiliar-miliar lalu rusak gara-gara pencuri. Seperti badan, akan lebih baik dijaga saat sehat, daripada harus diobati karena sakit.

  • Ph!duT berkata:

    waduh gimana itu kalo ga ada mur nya ??? bisa2 pengendara yg lewat situ semua pada nyebur ke selat madura ckckck…*geleng2 kepala*

  • djaka berkata:

    Menjawab bbrp komentar yg mengaitkan jembatan, pencurian, dan budaya madura: Orang Madura kapan mau mentransformasi budayanya? Mau terus2-an dilecehkan etnis2 lain? Engga to?

  • ricohsanusi berkata:

    mudah2an ini kemudian bukan adn tidak menjadi isu sara di republik ini….
    *turut prihatin

  • Admin berkata:

    Maklum oreng medure …..

    salam

  • ariel berkata:

    memang selalu saja ada kejadian seperti itu terulang dimana2, entah kenapa pengawasan selalu saja lalai menjalankan tugas atau memang bangsa kita tidak bisa menghargai keindahan kota kita sendiri? entahlah….

  • dudulzhc berkata:

    Wohoooo***

    jangan2 ada aksi2 politik dibalik semua ini . πŸ˜›
    kenapa yyiiaa kLu bandara YG diresmikan pak JK kuug ndak papa sampai saat ini??
    tapi begitu Suramadu yang notabene diresmikan pak Presiden SBY langsung diuteg-uteg??

  • om ipit berkata:

    jalan yang cepat berlubang
    tabung elpiji yang tipis dan gampang bocor
    jembatan yang … ?? jangan lagi!

  • dan-di berkata:

    memprihatinkan. jembatan yang dibangun susah payah pun diembat …….

  • hendito berkata:

    tangan-tangan iseng yang perlu ditertibkan

    soale semua ada kesempatan dan niat dari pelakunya ..

  • phandaka berkata:

    yang saya masih bingun…kenapa dibangun jembatan disitu dengan biaya trillunan lagi… itung-itungan bisnisnya gimana ya…kalau dianggap 20 tahun balik modal.. aku gak yakin…terus apakah bener bisa meningkatkan tingkat ekonomi Madura.. jangan-jangan gak sampai 5 tahun jembatannya tiba-tiba lenyap…. lha wong diprotolin tiap hari..hehe..

  • faried wijdan berkata:

    Zaman makin sulit, Ndor…Wong cilik semakin ngenes nasibnya.
    Untuk mempertahankan hidup, biar tak lungkrah, setelah dana BLT dari pemerintah habis total, mereka menempuh jalan singkat.. Lumayan kata mereka:” besi bekas, lampu bekas, skrup bekas (meski barangnya masih baru dan kinclong) laku dan bernilai rupiah lumayan….dan harganya lebih besar dari jumlah uang BLT yang kata para pengamat duit dari hasil utang ituhhhhhhhhhhhhhhhhh

  • papan bunga berkata:

    iya.
    saya dari medan
    mungkin juga, semua karena tingkat kesejahteraan rakyat yang nga bagus
    di medan juga begitu. semua musti di jaga.

  • wah, ngeri… turut berduka cita. tak pikir dulu hanya guyonan, ternyata jadi kenyataan. saya tadi sedih, miris, tapi (maaf) campur meringis waktu baca di kompas.
    mari deh kita arek suroboyo dan meduro berdoa saja semoga keadaan tambah apik. suramadu memang nikmat buat kita, tapi dalam nikmat ada juga ujian :D.

  • nDor, kok poto saya jadi lucu dan menggilani gitu… hiiiiiii… ternyata rame jg blog ini πŸ˜€ hihihihi… sahaya tahunya dari jawa pos kalo ada blog serame ini… hihihihihi… kayaknya sahaya telat sekali ya nDor, monggo mampir2 ke rumah saya nDor… ada tempe goreng dan teh mbois di sana

  • KangBoed berkata:

    iya rame buangeeeeet yaaaaaaa.. seramai suramadu…

  • Udin Petot berkata:

    naruh besi kok dΓ©k madura,yo tak kilo’no cak

  • sikem berkata:

    adat ketimuran identik dengan bangsa yang kita cintai ini, tapi apakah sekarang adat ketimuran ini masih melekat dengan bangsa kita ini…atau kah sekarang sudah berbelok haluannya..pengrusakan, pencurian sudah tidak sesuai dengan adat ketimuran itu sendiri..bukan begitu bukan ???

  • adib berkata:

    weleh, terjadi juga ternyata. itu kekhawatiran saya jauh-jauh hari… berat nih kalo aparat keamanan nggak cepat tanggap.

  • dobelden berkata:

    smoga aja ga tinggal sparo jembatan… πŸ˜€

  • sam berkata:

    setahu saya di jakarta, yang sering nyolong kabel, besi dan sejenisnya tergolong orang kaya loh. Di depan rumah memang penuh dengan sampah dan rongsokan tapi liat saja di belakang rumahnya. Anda akan kaget setengah mati, 3 mobil keluaran terbaru parkir di garasi.

    saya kira, bukan kesulitan hidup yang membuat manusia kemudian bertahan dengan cara yang tidak patut, tapi ketamakan dan ketidakmampuan untuk bersyukur. semakin tamak, semakin tidak masuk akal perilakunya untuk terus mencuri dan mencuri..

  • hahahaha..
    assalamualaikum Pak..
    saya juga banyak mendengar tentang umur jembatan tersebut…
    banyak orang jahilnya…
    hehehe..
    dasar…
    toh, pada akhirnya mereka sendiri juga akan merasakan dampak dari perbuatan mereka sendiri…
    sebelumnya saya mengucapkan terimakasih banyak atas berbagai saran yang ada dalam buku karangan Mr. Ndorokakung…
    Ngeblog dengan hati..
    saya sangat kagum…
    wah…
    banyak hal baru yang saya temukan..
    terima kasih,,,
    mohon kritik blog saya..
    saya tunggu..

  • priscillamu berkata:

    buset deh…. sedih dengernya =( gmn c rakyat kita, bukannya bangga n ngerawat, ini malah dicolong. nanti kl roboh/rusak jembatannya salahin pemerintah lagi, kasihan jg pemerintah…
    pemerintah kudu waspada jg yah, tambah petugas keamanaan dan sanksi yang jelas supaya mereka-mereka yang nakal jera

  • Investasi berkata:

    lah orang madura tahu sendiri kan gimana ya sory kalo terlalu jujur

  • edratna berkata:

    Memang keterlaluan kok, rasanya memang perlu dijaga atau di las aja ya biar mreteli nya susah.
    Dan lampu2 diambil itu, mungkin agar kalau mau maling tak ketahuan.

  • se7en_pearl berkata:

    gk nyangka ya…
    pencuri nya udh gk pny oak kale ya,
    ato udh gk bs jalan otak nya dgn bnr…
    kok bisa”nya c ngelakuin hal kyk gene…
    ane pgn tggu kelanjutan nya gmn..
    ketangkep apa kgk pencuri nya..

  • Dalius berkata:

    indonesia negara dengan angka kemiskinan dan pengangguran serta kurang pendidikan tergolong masih besar merupakan satu faktor baut itu hilang,menurut saya :
    1. coba kalau manusia yang ada di indonesia ini cerdas (tidak kurang pendidikan) mereka akan tau betapa pentingnya setiap komponen yang melekat pada jembatan itu,dan bila dalam keadaan kurang akan membahayakan keselamatan semua orang yang melintas.
    2.coba kalau manusia indonesia tidak miskin (sejahtera) maka tidak mungkin mereka mau menjual baut baut itu untuk menjadikan jalan mendapatkan uang dengan cepat dan cukup besar keuntungannya.
    solusi :- bentuk dan tugaskan tim pengontrol setiap harinya
    – pemerintah ciptakan lapangan pekerjaan yang layak untuk kesejahteraan umat di indonesia
    – untuk orang yang kurang mampu sudah sapatutnya mendapat pendidikan gratis seperti yang sudah di canangkan pemerintah serta adanya upaya peningkatan mutu pendidikan.

  • qeren berkata:

    3 faktor komponen suramadu di prenteli :
    1.kurang pengawasan/pengontrolan petugas
    2.kemiskinan karna kurangnya lapangan kerja = kalu rakyat kita sejahtera tidak akan mencari uang dengan cara mencuri,karna kalau tidak begitu mereka tidak makan .
    3.kebodohan : coba berpendidikan tinggi ,mereka tau dan mengerti tidak mementingkan kepentingan mereka sendiri,melainkan keselamatan umat manusia lebih penting.
    tapi antara cerdas dan hidup sejahtera harus ada pada manusia .jika dia pintar tapi hidupnya melarat ,ya tetap saja kemungkinan besar jg mau mencuri demi makan sehari hari dan sebaliknya . kita kembali lagi pada pemerintahan . ciptakan lap pekerjaan ,sekolah gratis ,buat tim pemantau khusus .

  • slut berkata:

    mang satu mur beratnnya brp kilo JOY?dibanding ma dosa loo!!!!!!

  • andy1988 berkata:

    waaah..gimana ni…masak fasilitas publik terus dirusak, hewmph..itu ulah sebagian oknum..dasar oknum2 kurang kerjaan…atau kurang dosa kali yah?

  • kampung berkata:

    wah… hebat sekali blog ini, memfasilitasi penghinaan thdp suku tertentu…

  • wowo berkata:

    Kayaknya masih butuh 1 abad lagi buat endonesah ini tuk maju dan cerdasss…

  • mbah suro dulure boyo berkata:

    saya sedikit ga setuju klo suramadu didirikan…
    saya setuju klo dibangun surali (surabaya bali) atau suralia (surabaya australia) hahahahhhaaa….
    mendingan yang nyolong tobat dech….
    apa ga mampu ya beli mur sama lampu….???
    sebelum terjadi penyesalan di dunia akhirat tobatlah mulai sekarang….

    pzz,,,,

  • Ahmad berkata:

    Semoga, saya masih bisa menikmatinya. Sebentar lagi, kami mau mudik.

  • Bisnis berkata:

    Waduh Kok jadi begitu ya.
    Saya baru tau.

    Padahal itu khan aset indonesia yang patut dibanggakan.

    Seharusnya pemerintah terutama POLRI harus bertindak tegas menangkap pelaku. Khan bisa membahayakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Suramadu Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: