Pacar Pecas Ndahe

Februari 1, 2012 § 93 Komentar

Laki-laki itu tiba-tiba menyebut akun Twitter saya di linimasa. Tidak hanya itu. Ia juga menggamit nama seorang penyiar televisi perempuan ternama dan memaki-makinya. Lelaki itu bahkan menyebut sang penyiar dengan julukan yang tak senonoh.

Saya kaget, tak menyangka ada orang yang dengan kasarnya mencemooh perempuan secara terbuka di ruang publik. Dan aksi itu dilakukannya beberapa kali. Dengan pesan yang kurang lebih sama: menjelek-jelekkan perempuan itu.

Saya diam saja, tak bereaksi membalas pesan lewat Twitter. Saya hanya membatin, pasti ada sebabnya lelaki itu menuliskan pesan yang tak pantas itu.

Dugaan saya terjawab kemudian. Perempuan itu mengirimkan DM. Ia meminta maaf dan menjelaskan siapa lelaki itu. Rupanya mereka pernah menjalin ikatan suami-istri. Biduk rumah tangga mereka ternyata berhenti di tengah jalan.

Akhirnya mereka bercerai. Sang suami tampaknya tak menerima keputusan pisah itu. Ia berang. Lalu menyerang mantan istrinya secara terbuka di linimasa. Serangan itu berlangsung terus-menerus, nyaris tanpa henti.

Dan saya jadi korban, ikut terseret mengetahui masalah orang lain yang sebenarnya tak perlu saya ketahui. « Read the rest of this entry »

Layanan Pecas Ndahe

Juni 23, 2009 § 67 Komentar

Dewan Perwakilan Rakyat hari ini mengesahkan Rancangan Undang-Undang Pelayanan Publik. Pejabat atau petugas yang tak memberikan layanan sesuai standar bisa dikenai sanksi.

Seorang teman menuturkan pengalamannya ketika hendak membuka kafe baru di sebuah jalan yang ramai, persis di jantung Jakarta. Tentu saja bukan pengalaman yang menyenangkan, tapi malah agak sedikit menjengkelkan.

Semua dia membayangkan bahwa sebagai pengusaha yang hendak membuka tempat usaha baru, niatnya bakal didukung oleh pejabat di lingkungannya. Apalagi jenis bisnisnya sah dan halal. Ia tak pernah membayangkan bila usaha yang akan memberi pemasukan daerah itu malah dihambat.

Benarkah begitu? Kenyataan rupanya tak sesuai harapan. Kawan saya itu diminta membuat 17 surat izin. Ya, tujuh belas! Itu artinya ia harus mendapatkan 17 cap dari lembaga-lembaga pemberi izin. Sampean bisa bayangkan, untuk mendapat satu cap saja, kawan saya itu harus melewati beberapa meja. Dan di setiap meja ia harus merogoh kantong agak dalam.

Tak adakah jalan pintas? « Read the rest of this entry »

Suramadu Pecas Ndahe

Juni 17, 2009 § 115 Komentar

Baru satu minggu diresmikan, lampu-lampu penerangan Jembatan Suramadu hilang dicuri orang. Benarkah masyarakat kita tak mampu menghargai fasilitas publik?

Ini cerita tentang Suramadu, jembatan yang baru diresmikan pada 10 Juni 2009 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dibangun dengan dana lebih dari Rp 4 triliun, jembatan tersebut menghubungkan Pulau Jawa dan Madura.

Dengan panjang 5,4 kilometer, Suramadu menorehkan rekor sebagai jembatan terpanjang di Indonesia bahkan di Asia tenggara. Ia tercatat sebagai salah satu megaproyek yang pernah dibangun Indonesia setelah Stadion Utama Senaya dan Satelit Palapa.

Mulai dibangun pada pertengahan 2002 dengan 3.500 tenaga kerja Indonesia dan Cina, proyek Suramadu menghabiskan 28 ribu ton baja, serta 600 ribu ton campuran baja. Jembatan ini dirancang sanggup bertahan sekitar 100 tahun.

Satu abad? Mungkin tidak. Kenapa? « Read the rest of this entry »

Trotoar Pecas Ndahe

Maret 2, 2009 § 101 Komentar

Komunitas blogger Bundaran Hotel Indonesia (BHI) terancam pindah tempat nongkrong. Kalau terpaksa pindah markas, lantas apakah nama mereka harus berubah?

Sinyal buruk itu sebenarnya sudah saya dengar sejak pekan lalu lewat milis BHI. Tapi baru Ahad kemarin mendapatkan semacam konfirmasi melalui sebuah tulisan pendek di Kompas Minggu dengan judul menohok: JANGAN GUSUR KAMI.

anak-anak bhi ngumpul

Sekilas aktivitas blogger komunitas BHI. (Foto minjem entah punya siapa).

Apakah gerangan penyebabnya? « Read the rest of this entry »

Keran Pecas Ndahe

Agustus 27, 2008 § 61 Komentar

Ada keran air minum gratis di dua halte bus Transjakarta mulai hari ini. Warga dan calon penumpang busway yang mendadak kehausan bisa langsung menyesapnya. Tinggal pencet, air mancur, lalu sodorkan mulut sampean. Dijamin segar, katanya.

keran air

Asyik sih, seperti di negara-negara maju itu. Tapi, saya jadi mikir, berapa lama fasilitas publik ini mampu bertahan? Rasanya sih ndak sampai setahun sudah rusak. Berani taruhan?

>> Selamat hari Rabu, Ki Sanak. Apakah hari ini sampean sudah mencoba keran air minum gratis itu?

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with publik at Ndoro Kakung.