Sumpah Pemuda Pecas Ndahe
Oktober 28, 2009 § 55 Komentar
Untuk memperingati Sumpah Pemuda … tentang harapan yang tertumpah pada negeri ini. Tentang mimpi-mimpi yang digantungkan negeri ini. Ini tentang pluralisme, tentang menjadi Indonesia.
Semoga sampean terhibur dan selalu ingat untuk merekatkan kembali pigura perbedaan yang kerap retak itu.
Tumpeng Pecas Ndahe
Oktober 28, 2009 § 67 Komentar
Tumpeng nasi kuning menandai acara peringatan Hari Blogger Nasional di angkringan Wetiga, Langsat, Jakarta, tadi malam. Ada sekitar 30-an narablog yang berkumpul menghangatkan acara sederhana di kedai milik Juragan Gembul itu.
Meski tak semelimpah ruah pengunjung Pesta Blogger 2009 Sabtu lalu, narablog yang datang di Wetiga mewakili beragam komunitas. Ada Enda Nasution sebagai tuan rumah yang didampingi Manusia Kursi PB 2009 Iman Brotoseno. Lalu ada para “pemain lama” seperti Nukman Lutfie, Pitra Satvika, dan Epat. Pendatang baru diwakili oleh Tongki yang masih duduk di bangku SMA.
Beberapa komunitas yang hadir, di antaranya, Kopdar Jakarta yang diwakili pasangan Joey-Chichi, Dilla Kepik Cantik, Dita Peri Gigi, Si Manis Oelpha, juru video Goenrock, dan Taufik. Lalu ada Miss Maharrani dari Curipandang. Ada pula Donny BU dan Arief dari ICT Watch yang mampir sebentar. Ada Nopi dari TPC Surabaya. Rara dan Ina Purpleholic dari AngingMammiri, Makassar. Zamroni, Sita, dan Tikabanget dari komunitas Cah Andong, tiga kawan dari Kampung Gadjah aka ID-Gmail, serta beberapa kawan narablog lain yang saya lupa namanya. Maaf.
Apa yang saya dapat malam itu selain tumpeng nasi kuning? « Read the rest of this entry »
Reriungan Pecas Ndahe
Oktober 26, 2009 § 110 Komentar
Pesta Blogger 2009 akhirnya berlangsung Sabtu yang lalu. Sebuah reriungan yang seru. Wajah-wajah baru muncul. Tapi yang lama pun tak mau ketinggalan.

Sesi foto setelah bubaran Pesta Blogger (Foto Pitra Satvika)
Acara yang ditunggu-tunggu itu akhirnya datang juga: Pesta Blogger 2009 di gedung Smesco Indonesia, Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Saya sampai di lokasi sekitar pukul 09.15 WIB. Matahari masih sepenggelah, tapi antusiasme para narablog menghadiri perhelatan akbar tahunan itu begitu tinggi.
Begitu sampai di halaman depan gedung, saya melihat kerumunan mulai terjadi di tangga pintu masuk. Terus terang saya agak kaget. Banyak wajah yang tak saya kenal. Narablog baru? Pengunjung iseng? « Read the rest of this entry »
Sabtu Pecas Ndahe
Oktober 21, 2009 § 86 Komentar
Tak terasa, acara puncak Pesta Blogger 2009 tinggal menghitung hari. Sabtu, 24 Oktober, sudah di depan mata. Tak sabar rasanya menanti detik berganti menit, menit berubah jadi jam, lalu hari.
Ada apa gerangan di perhelatan tahunan yang akan diadakan di gedung Smesco, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, itu? Adakah yang baru? Mengapa dia layak ditunggu?
Well, kita mulai dari perkembangan terbaru ya. Setelah menyelesaikan rangkaian acara Blogshop di Yogyakarta yang bergemuruh itu, panitia kembali ke tenggelam dalam kesibukan menyiapkan acara puncak Pesta Blogger 2009.
Pertama, membuka registrasi dan online voting. Dari pantauan sementara, registrasi tak memicu masalah berarti. Para narablog tak kesulitan mendaftar.
Hanya saja, sistem voting secara daring ternyata menyimpan bom waktu. Ada celah sistem yang dimanfaatkan oleh orang-orang yang terlalu antusias ingin berpartisipasi. Kegairahan yang meletup-letup itu baik sahaja. Itu namanya sinyal kepedulian. Tapi, orang bisa terganggu dan merasa tak nyaman. Walhasil, perlu dilakukan perbaikan. Minimal agar angin tak menjelma badai.
Toh tetap saja belum sempurna. Bolong-bolong kecil masih ada di sana-sini. Tapi lumayanlah. Yang penting niatnya. Dan kearifan kita semua menerima kekurangan untuk tujuan yang lebih besar bukan? « Read the rest of this entry »
Audisi Pecas Ndahe
Oktober 19, 2009 § 69 Komentar

Di panggung Puri Cikeas itulah sebuah pertunjukkan berlangsung. Para aktor dan aktris berjalan terbungkuk-bungkuk manis sekaligus takzim. Paras sumringah. Senyum cerah. Lalu tangan yang melambai pada para juru foto. Lampu kilat menyala. Kamera televisi menyorot.
Dan sebuah teater pun dimulai. Tapi ada pula yang menyebutnya sebagai sinetron kejar tayang.
Entah mana yang benar. Saya hanya jadi teringat pada novel Milan Kundera pada 1990. Novel itu dalam bahasa Ceko disebut Nesmrtelnost dan dalam bahasa Inggris disebut Immortality. Di novel itu, Kundera memperkenalkan sebuah istilah baru: “imagologi”.
Kata ini merangkum banyak hal yang sebenarnya sama: kegiatan biro iklan, manajer kampanye politik, ahli desain, penata rambut, dan tentu saja para bintang pertunjukkan. Sebuah pencitraan. Imaji yang dipoles-poles.
Adalah layar televisi yang menasbihkan pencitraan itu menjadi sebuah drama. Tanpa air mata. Yang penting mencuri perhatian orang. Meski lama-lama banyak yang muak juga. « Read the rest of this entry »