Infotainment Pecas Ndahe

Desember 21, 2009 § 111 Komentar

Makhluk apakah gerangan infotainment itu? Apa motif yang menggerakkan mereka? Apa nilai-nilai yang mereka anut?

Amerika, 1997. Para jurnalis yang bertugas di pos Washington memperoleh bocoran informasi kelas A1. Sebuah berita panas. Kabar yang berembus dari sebuah sudut di Gedung Putih itu menyebutkan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton menjalin hubungan gelap dengan salah satu staf bernama Monica Lewinsky.

Para jurnalis pun bagaikan tersengat setrum listrik ribuan watt. Ini skandal kakap, Bung! Begitu pikir mereka. Merasa seperti melihat durian runtuh di depan mata, para jurnalis itu pun bergerak cepat. Mereka segera melakukan perburuan informasi sampai ke jantung pemerintahan. Di era Internet, hasil perburuan itu pun langsung dimuat di semua media dalam sekejap.

Semua?

Tidak! Kendati skandal yang dijuluki Monicagate atau Lewinskygate merupakan berita paling panas saat itu, Newsweek memilih menahan diri. Majalah berita ini justru seperti tiga ekor monyet bijaksana yang menutup mata, telinga, dan mulut itu (see no evil, hear no evil, speak no evil).

Mengapa? Apakah Newsweek mempraktekkan swasensor?

Newsweek ternyata tak selamanya menahan pemberitaan yang menggegerkan itu. Mereka hanya menunda. Akhirnya mereka akhirnya juga memuat skandal itu, setelah Monica bersaksi kepada jaksa independen, Kenneth Starr, dan Clinton nyaris dimakzulkan.

Dari kisah itu kita tahu, tak selamanya pers reaktif. Ada yang masih sanggup menahan diri, dan menunda arti. Bahkan ketika era pers bebas dimulai, ada institusi yang begitu konservatif. Salahkah pilihan Newsweek?

Jurnalisme, pada hari-hari itu di Amerika, memang tengah menghadapi ujian. Internet telah merasuk ke dalam ruang-ruang keluarga, membuat semua orang memperoleh informasi dengan gampang dan lekas. Informasi begitu bebas. Para jurnalis dan pers pun memasuki wilayah kompetisi yang sangat ketat.

Lalu terjadilah situasi semacam ini: Seandainya New York Times enggan menerbitkan sebuah kabar, lusinan situs berita daring lainnya bersicepat membuat berita tersebut. Ketika lembaga-lembaga pers tradisional menolak menyebarkan skandal perselingkuhan salah satu tokoh parlemen Amerika Henry Hyde, Salon.com malah melaporkannya secara detail.

Apakah dengan demikian konsep penerapa berita menjadi kredo yang usang? Tidak. Beberapa orang berpendapat bahwa kemunculan Internet tak membuat prinsip jurnalisme menjadi kuno. Kemajuan teknologi justru membuat kebutuhan akan jurnalisme justru semakin besar. Jurnalisme macam apa?

Jurnalisme yang berupaya memberikan informasi yang diperlukan khalayak untuk mengatur diri mereka sendiri.

Teknologi bukannya menggiring munculnya perdebatan tentang pengertian jurnalisme dan fungsinya sebagai pelayan publik yang demokratis. Teknologi hanya mengubah bagaimana wartawan memenuhi fungsi tersebut.

Para wartawan di era jurnalisme baru (journalism 2.0) tak lagi memutuskan apa yang seharusnya diketahui publik. Mereka membantu khalayak mengerti secara runtut apa yang seharusnya mereka ketahui. Tugas pertama wartawan era baru adalah memverifikasi apakah informasinya bisa dipercaya, lantas meruntutkannya sehingga warga bisa memahami secara efisien.

Di masa ketika siapa saja bisa menjadi reporter, komentator, atau penulis blog atawa warga pewarta, maka, “Anda bergerak menuju jurnalisme dua arah,” kata John Seeley Brown, mantan direktur Xerox PARC, lembaga pemikir legendaris di Lembah Silikon, California.

Wartawan, menurut Brown, lebih berperan sebagai pemimpin diskusi atau mediator ketimbang menjadi guru atau pengajar semata. Khalayak bukan hanya menjadi konsumen, melainkan prosumen. Produsen sekaligus konsumen.

Jika publik bermasalah dengan sebuah berita, mereka tahu kepada siapa harus mengirimkan email untuk mengoreksi kesalahan yang telah tercetak atau tertayang. Jenis interaksi dengan memakai teknologi tinggi ini adalah jurnalisme yang menyerupai percakapan.

Tapi, sekali lagi, tidak ada yang berubah. Seperti yang disebut Bill Kovach sebagai 9 elemen jurnalisme: loyalitas pertama jurnalisme kepada warga.

Saya teringat kembali pada kredo itu ketika hari-hari ini saya dibombardir oleh kabar perseteruan antara awak media hiburan (saya lebih suka menyebutnya demikian ketimbang infotainment) dan Luna Maya si mata rembulan itu.

Dari kabar itu saya menangkap beberapa kata kunci: pelanggaran etik, seorang yang meradang di Twitter, kelompok yang tersinggung, pengaduan ke polisi, dan terakhir tentang jurnalisme.

Saya juga menyusuri belantara teks di Internet dan menemukan di Wikipedia mengenai yang dimaksud dengan infotainment:

Infotainment adalah salah satu jenis penggelembungan bahasa yang kemudian menjadi istilah populer untuk berita ringan yang menghibur atau informasi hiburan. Merupakan kependekan dari istilah Inggris information-entertainment. Infotainment di Indonesia identik dengan acara televisi yang menyajikan berita selebritis dan memiliki ciri khas penyampaian yang unik.

Di Wikipedia versi bahasa Inggris, tercantum:

Infotainment is “information-based media content or programming that also includes entertainment content in an effort to enhance popularity with audiences and consumers.” [1] It is a neologistic portmanteau of information and entertainment, referring to a type of media which provides a combination of information and entertainment. According to many dictionaries [2] infotainment is always television, and the term is “mainly disapproving.”[3] However, many self-described infotainment websites exist, which provide a variety of functions and services. [4]

Sama sekali tidak ada kata jurnalis, jurnalistik, maupun jurnalisme dalam definisi itu. Yang muncul hanya kata kunci seperti media, hiburan, dan televisi. Definisi mungkin bisa multitafsir. Orang lain bisa jadi mendefinisikan warta hiburan itu dalam istilah yang berbeda. Tapi yang jelas saya kesulitan menemukan hubungan antara warta hiburan itu dan pelajaran dari Kovach. Jadi?

>> Selamat hari Senin, Ki Sanak. Apakah menurut sampean infotainment itu bermanfaat membantu publik mengatur dirinya?

Iklan

Tagged: , , , ,

§ 111 Responses to Infotainment Pecas Ndahe

  • roi berkata:

    saya kok ya cenderung sepakat dengan posisi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dalam masalah infotainment ini. Tapi terus terang aja, saya juga pengen tau pendapat Mas Arswendo yang cenderung ‘berpihak’ kepada rekan-rekan infotainment dalam masalah ini.

  • Paams berkata:

    Khhh kasus ini memusingkan sekali, dua2nya salah sih…infotainment mana ada hubungannya ama jurnalisme, setuju ituuuu! Emang kita perlu utk tau siapa cerai ama siapa…

  • setuju kang, karena tidak semua pembaca itu cerdas, dan media yang baik tentu juga bijak dalam menanggapi suatu berita yang masih mentah (gossip). sebaiknya ketika berita itu duah matang (fact) baru disebarkan kepada masyarakat, itupun meski sudah fact opini publik bisa saja menerjemahkannya berbeda andai pola bahasa dan sudut pandang penulisnya berbeda pula…’

    terlebih masyarakat kita yang belum tentu cerdas dalam menerima informasi, pers dan media menjadi faktor utama reaksi masyarakat penerima informasi

    postcomment: udah lama euy ga mampir, postingannya masih mantep aja… 🙂

  • herrybj berkata:

    cerita clinton itu , pernah muncul dalam film “Definetly , Maybe” yg Main Ryan Reynolds , walaupun hanya.. 🙂

  • Jokostt berkata:

    Saya suka dengan kalimat ini “Luna Maya si mata rembulan.” Ah, Ndoro romantis sekali manggilnya.

  • andi berkata:

    entahlah ndoro . . . aku ga suka nonton infotainment kok

  • tiba – tiba jadi muncul hasrat buat ngedengerin lagunya almarhum MJ yang black and white, ndoro
    ingat kasus dia dengan infotainment pas dulu itu

  • ditter berkata:

    Infotainment sangat menghibur bagi para penontonnya… Tapi kadang sangat menjengkelkan bagi yang menjadi bahan beritanya…

  • ianegx berkata:

    This is what I thought before, Infotainment tidak bisa disebut sebagai Jurnalis! Ndoro kakung give the best analys and answer to them! Pertanyaannya adalah, “apakah luna si mata rembulan diperbolehkan menuntut balik?”

  • dsusetyo berkata:

    Sugeng ndalu nDoro, Infotainment itu sama sekali tidak membantu publik mengatur dirinya. Yang tepat adalah seperti definisi wikipedia itu: Informasi dan Entertainment. Cuman memang soalnya informasi itu mengentertain siapa? Tentu para pemirsa acara. Cuman dasar sifat kita yang suka gosip, maka “informasi gosip” itulah yang dijual. Banyak pemirsa terhibur [baca: dilenakan lalu dibodohkan] rating acara naik, biaya pasang iklan jadi tinggi, yang untung penyelenggara acara dan pemasang iklan. Itu saja sih menurut saya infotainment itu.

    Kalau saja infonya benar2 mendidik dan menghibur pasti lebih benar2 bermanfaat. nDoro, apa ada ya infotainment yang seperti itu? Monggooooo…

  • Yudha PH berkata:

    Seandainya kasus Lady Diana termasuk masalah infotainment yg dimaksud, maka saya termasuk yg paling ga suka sama infotainment. Soalnya, mereka seperti mencari manfaat dari kesulitan yg dihadapi orang lain. Entah disengaja atau tidak.

    Saya juga heran, banyak konsumennya yg suka dengan informasi yang sifatnya pribadi, yg memalukan, dan yg menyentuh harga diri. Untuk hal seperti ini buat saya ga ada manfaatnya.

  • Ruang Hati berkata:

    Beda mendasar infotaiment dengan journalist , bila journalist bekerja untuk kepentingan publik-masyarakat luas ( ada sisi idealismenya ) sedangkan infotaiment lebih cenderung pada sisi pasar (market) orientasinya lbih pada marketable apa tidak, sehingga seringkali terkesan mengada ada sesuatu yang tidak ada.
    Kenapa Infotaiment menggunakan pasal serta aturan hukum yang selama ini justru di inginkan untuk dihapuskan oleh para journalist untuk menuntut Luna Maya?
    bertolak belakang.

    • Ruang Hati berkata:

      nitip ucapkan hari ibu ndoro:

      Siapapun Kita semua yang ada di dunia sekarang. baik itu seorang pelajar atau pejabat, baik seorang jendral maupun kopral, baik seorang mahasiswa ataupun taruna, baik itu seorang penjahat ataupun pelacur, baik itu seorang koruptor atau pun director, baik seorang menteri ataupun seorang peragawati. Kita semua terlahir dari rahim ibu, ibu yang dengan tulus ikhlas mengandung merawat dan membesarkan kita hingga sekarang kita menjadi seperti ini. Coba saja kalo ibu kita tidak ikhlas mungkin kita sudah di aborsi. Ketika kecil kita sakit beliau merawat kita, ketika kita belum bisa berjalan, beliau menuntun kita, ketika kata belum terucap beliau membimbing kita. Siapapun ibu kita entah renta atau masih muda, entah masih bersama kita ataupun sudah tiada, mari kita ucapkan terima kasih pada beliau, mari kita kasihi beliau sebagaimana kita dulu beliau kasihi, Ya Tuhanku berikanlah tempat teramat istimewa bagi ibuku tersayang.

      Selamat Hari Ibu

  • zam berkata:

    dukung pencabutan UU ITE! :p

  • aduh gimana ya ndoro infotaimen di indonesai ini lagi laris-larisnya.

  • elia|bintang berkata:

    sama kyk komentar saya di posting sebelumnya, saya tetep memihak luna maya karena dia itu hanya akibat, bukan sebab. giliran infotainment dijelekin, mereka nuntut artis. artis sering dijelekin ga pernah kok nuntut infotainment..

    jadi ndoro suka luna maya apa farah quinn nih? haha

    • waterbomm berkata:

      setuju sama komennya si mbak elia inih….
      artis ada karena sebab, artis jarang marah kalo di jelekin atau pemberitaannya gak benar soal dirinya.
      agh infotainment ya??? saya seneng acara insert di trans tv, cut tarinya cantik *eh*

  • DV berkata:

    Barangkali infotaintment harus diklasifikasikan sama dengan blogger aja, Ndor! 🙂

    • jarwadi berkata:

      waduhh, jangan dong, saya tidak setuju kalau infotainment diklasifikasikan dengan blogger. Banyak sekali blogger yang memegang teguh idealisme dan tidak sama sekali mencari duit dari ngeblog, walau memang ada sebagian yang demikian.

      Mana ada sih infotainment yang mau bikin konten tanpa orientasi mencari duit

    • Infotainment sebagai blogger? Bisa turun derajat blogger nantinya 🙂

  • geblek berkata:

    ini ngomongin soal perut kan
    hihihihi

  • aie berkata:

    infotainment sering merasa ‘membasarkan’ artis. masa sih??? padahal jelas banget lah bedanya, artis yang benar2 bekerja keras dengan artis2 yang memang cuma ‘besar’ karena sensasi

  • […] This post was mentioned on Twitter by Ndoro Kakung, Ndoro Kakung. Ndoro Kakung said: daripada nonton tv, mending baca infotainment pecas ndahe deh http://bit.ly/5GsuOW 😀 […]

  • Yahya Kurniawan berkata:

    Wah, tak kusangka dah lama aku tak berkunjung di sini.
    Soal infotenmen, lha gimana, wong ada kebutuhan pasar. Ndak salah kalo produsen lalu menyediakannya.

  • deriz berkata:

    Infotainment itu kemasan dari sebuah produk media, sedangkan jurnalisme itu adalah standar, panduan dan teknik untuk membuat sebuah produk media yang bertanggung jawab pada kepentingan khalayak (lebih dikenal dengan berita/news).

    Tentunya, infotainment punya teknik produksi sendiri yang belum tentu jurnalisme. Secara logika, artinya orang yang menggunakan jurnalisme disebut jurnalis atau wartawan. Di luar itu, termasuk pekerja informasi saja.

  • M. Arief B. berkata:

    Ngganteng tenan tampil di tv-one, kemarin di trans-7.
    Laris manis.
    Tambah muantep jadi jamaahnya Pak Thijan…

  • wahyu hidayat berkata:

    ndoro masup tipi je (banana_cool)

  • Susi berkata:

    akhirnya liat wajah asli Ndoro Kakung di tv one, mantap ndoro, makin top ajah!

  • Prasaja berkata:

    wahhh masuk ke TV One Yach…

    salam Kenal aja 🙂

  • naphi berkata:

    mangstab,
    1. do no harm
    2. tell the truth..
    3. *satunya lupa*.

    semangat ndorooo…
    kasih tahu “the ten commandments of IT” ndoro, biar tambah jelas.

  • budimeeong berkata:

    saya ga senang acaranya…cuma senang liat pemain acaranya =.=”

    ndor gagah bener pagi ini di TV “Satu” :mrgreen:

  • mirzaahmad berkata:

    omm ndoro, ini mungkin sama seperti perbedaan kata. jurnal, reportase dan news yang memiliki arti yang berbeda walau tujuannya sama, menyampaikan informasi kepublik.

  • macangadungan berkata:

    Jadi intinya wartawan infotainment ndak bisa nuntut donk? subyek yang disebut di Twitternya Lunmay tidak menyebutkan kata2 wartawan dan jurnalis. tidak ada oknum yang jadi korban dan dirugikan.
    sama aja kayak orang yang menulis di twitternya “Donat itu lebih rendah drpd kacang goreng”… lalu apakah semua pengusaha donat boleh menuntut orang tsb?

  • Enade berkata:

    Pakde nDoro … indah betul panggilannya Luna Maya … si mata rembulan …

  • g o b e r berkata:

    Sudah lama sekali ndak nonton infotainment. Mual kalo liat.

    Btw, tentang hubungannya dengan pelacur, bukankah para pemburu berita seleb itu seringkali memang melacurkan dirinya demi sebuah sensasi berita ? Berdandan super menor, merogoh ke bagian2 yang paling pribadi dan bermain2 dengan perasaan manusia, bukankah itu beberapa ciri pelacur ?

    Sesungguhnya pelacur yang melacurkan dirinya secara terpaksa adalah jauh lebih baik ketimbang para tuan yang merasa hina bila disamakan dengan pelacur padahal mereka melacurkan dirinya secara sukarela, bahkan sampai ketagihan sendiri.

    Infotainment lebih rendah daripada pelacur ? Mungkin tidak semua. Tapi harus diakui, ada banyak infotainment yang telah menjadi pelacur informasi.

  • Audi berkata:

    “… membantu publik mengatur dirinya” itu apa sih, ndoro? Nggak mudeng.

  • sofwan.kalipaksi berkata:

    menurut sya, Ndor: infotainment digerakkan oleh semangat mewartakan sensasi–yg hanya sebagian kecil dr elemen jurnalistik, ndor. jd, infotainment bkn jurnalisme yg utuh…

  • aNdRa™ berkata:

    OOT: Kalo Farah Quinn sebutannya apa dong? 😀

  • ladybugfreak berkata:

    awak media hiburan itu juga pengen sengetop mbak Luna Maya kali.. makanya heboh2 sendiri..

  • nurrahman18 berkata:

    lalu sebenarnya infotainment itu bukan jurnalis gt pak? bingung saya ndoro, maklum, bukan anak fisip…hehe

    *teringat td Ndoro di apak kabar pagi tvone, hehe

  • iyoong berkata:

    Berkunjung…
    waah tadi saya Liat Mas Ndoro Di TvOne… 😛

    berharap segera selesai ni masalah LunMent (Luna-infotainment–red)..

  • ibunyachusaeri berkata:

    Sebagai orang awam saya pikir, tayangan berita televisi yg layak adalah berita yg menyampaikan fakta, apakah tayangan infotainment sdh mendapatkan klarifikasi dari nara sumbernya????dan menampilkan sebuah fakta dan bkn sebuah gosip????

  • encrottt berkata:

    iya.. ndoro… ak jg gak suka nonton infotainment.. isinya gak lebih dari berita buruk artis…. dari sinilah lahir si roy “kemane aja lu” itu…. wkwkwkwkw…..

  • icitluvnesta berkata:

    Luna maya si mata rembulan…aku suka kata2 itu ndoro hehehe

  • kangtris berkata:

    awalnya, infotainment sudah banyak mudlaratnya ketimbang manfaatnya..krn orientasinya lebih ke gosip, dibanding fakta…., ttg luna maya yg berkata di twitter bagaimanapun masuk kategori tidak etis….namun ketidaketisannya krn diawali dari sikap wartawan yg terlalu….

    jadi mnrut saya sih… tutup saja acara infotainment di semua tv…

  • Iksa berkata:

    ha ha ha semua demi rating dan iklan ….

  • hmm.. itulah makanya, infotainment di beberapa televisi ga masuk ke divisi news, melainkan divisi produksi..

  • ..mbuh lah ndoro….ane kurang tau neeh masalah jurnalis…

  • vpat berkata:

    Oh jadi yang tadi pagi itu ndoro ya? Hmm…nggak kakung2 amat hihihi.
    Saya nggak suka nonton infotainment, sebab banyak ghibah dan fitnahnya. Jadi menurut saya infotainment itu lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya.
    Salam ndoro

  • Yahya Kurniawan berkata:

    Wah, keliwatan, ndak sempat liat Ndoro masup tipi, hiks

  • wita berkata:

    jadi memang ngga hubungan antara infotainment dan jurnalis ya mas? karena aku bingung kalo nonton infotainment itu… beritanya di berita2in sendiri, trus dibantah2 sendiri… aneh bener…

  • yoyok berkata:

    Ndor, jurnalisme investigatif bisa dipadukan sama infotainment ga ya ?

    ;))

  • Akhza berkata:

    kalimat yang menarik Ndoro :Luna Maya si mata rembulan itu. 🙂

  • abusyafiq berkata:

    Dalam dunia bisnis hiburan tidak ada idealisme…yang ada hanya bad news=good news = duit duit duit….materi tokh..

  • vpat berkata:

    Saya minta ma’af ndoro atas kesoktahuan saya tentang bahasa Jawa. Itu komentar saya yang sebelumnya (43), saya pikir kakung itu artinya kakek tapi ternyata … Sekali lagi saya mohon ma’af atas kelancangan saya. 😳 Kalau ndoro berkenan dihapus kayaknya lebih manis

  • rusabawean™ berkata:

    semua gara UU ITE
    😦

  • Adham Somantrie berkata:

    IMHO, infotainment dalam kasus ini hanya mencoba berpropaganda melalui media untuk membela diri. mencoba mengendalikan arus informasi, sehingga tercipta mindshare “luna yang kurang ajar”. tidak ada “mengapa luna sampai marah”.

    PS: menurut saya looohh…

  • firmatha berkata:

    ndor swasensor maksudnya apa ya?

  • azwar berkata:

    Infotainment bahasa kerennya NGEGOSIP…. jadi maafnya cuman DOSA

  • Priyadi berkata:

    Wartawan, menurut Brown, lebih berperan sebagai pemimpin diskusi atau mediator ketimbang menjadi guru atau pengajar semata. Khalayak bukan hanya menjadi konsumen, melainkan prosumen. Produsen sekaligus konsumen.

    oleh karena itu UU Pers sudah usang dan harus direvisi. jaman sekarang perbedaan pers dan non-pers itu cuma dalam hal besar modal. gak adil yang satu harus dikasih hak lebih hanya gara2 punya modal lebih gede. harusnya yang sekarang dibilang sebagai ‘non-pers’ punya hak yang setara dengan ‘pers’. dan harusnya gak boleh lagi ada dikotomi ‘pers’ dan ‘non-pers’ karena jaman sekarang itu cuma pengkotak2an yang gak lagi diperlukan.

  • gugeluv berkata:

    waduh yang sudah masuk tv-one rek
    udah salaman sama mbak indri

    lha infotainment itu gak bisa disebut wartawan
    bikin malu wartawan aja

    lha yang bikin uu ITE itu sapa
    kan pakar infotainment juga
    yang ahli pornomatika ituh

    mereka semua sekongkol
    biar tuhan yang memutuskan
    siapa sebenarnya yang evil ituh.

  • Java berkata:

    mungkin sudah banyak yang lihat, sekali lagi saya kutip link ini

    http://www.kidia.org/news/tahun/2009/bulan/05/tanggal/04/id/115/

    dalam satu minggu saja, ada 89,5 Jam tayangan infotainment hadir dilayar kaca setiap orang indonesia yang punya tv, sejak melek di pagi hari sampai tutup mata mau bobo dan ironisnya paling cuma ada 60 jam saja per minggu durasi waktu belajar anak – anak disekolah dibanding dengan durasi tayangan infotainment yang banyak lebay nya itu.

    jadi ndoro saya setuju dengan ini;

    “Sama sekali tidak ada kata jurnalis, jurnalistik, maupun jurnalisme dalam definisi itu. Yang muncul hanya kata kunci seperti media, hiburan, dan televisi.”

  • romailprincipe berkata:

    slamat hari ibu..
    moga luna dan infotainment bisa berbaikan, ingat jaman sudah susah..hehe

  • neng®atna berkata:

    kenapa nama professinya bukan gibaher. Soalnya suka mencari aib orang, kan namanya gibah. naudzubillah 😀 *hehehe*

  • JR berkata:

    ya namanya juga cerita hiodup bang…kadang ya kudu seperti nggono sih….

  • hedi berkata:

    sebagian jurnalis menilai awak media hiburan infotainment itu bukan wartawan karena reporternya justru nggak pernah nulis berita yg diliputnya. itu modus lama sih, nggak tahu modus terkininya.

  • kenyo berkata:

    uang rakyat cuma dipake buat ngadili luna maya yang cuat cuit di twitter? jangan deh mendingan…

  • imron46 berkata:

    satu hal yang perlu dilakukan adalah RENUNGAN, apakah ketika ada artis dicari keburukannya mereka lapor ke polisi, berapa banyak berita yang belum jelas fakta dan kebenaranya ditayangkan ditelevisi, apakah mereka melaporkan? hanya dibutuhkan satu kesepakatan bahwa Kumpulkan fakta jangan Menebar Opini sehingga seolah – olah artis A salah, Artis B karena se ide dengan mereka dipuja bahkan disorot terus menerus. Hentikan pengaduan, tarik BAP dan Selesaikan diluar ranah hukum lebih bijak, buat kesepakatan antara artis dan media hiburan, WIN WIN SOLUTION aja.

  • Mustova berkata:

    dukung ayang luna.. *tetep* :p

  • vyzex berkata:

    itu KPI daripada ngelarang 4 mata, mendingan ngelarang infotainment yg sok-sok ngaku wartawan itu…
    dukung tukul dan ndoro..he he he

  • amadnoy berkata:

    Ada kabar terbaru dari luna ga?

  • lha wong nasi ga abis dimakan, bisa jadi nasi goreng dan bisa laris manis. Kenapa enggak?
    Lho ndoro bukane antara infotainment & jurnalis udah terdefinisi secara jelas waktu kasus Parto Patrio dulu.

  • omiyan berkata:

    kesimpulan saya dari wawancara ndoro semalam yang jelas … infotainment lebih ngena kepada berbagi aib buat orang banyak ga ada manfaat sama sekali malah risi yang ada

    salam

  • omiyan berkata:

    maksud saya wawancara … nyaksiin ndoro do salah satu TV Swasta (takut salah tafsir ntarnya hahahahha)

  • mazhel berkata:

    ndoro cool jg masuk tipi.. 😀
    klu menurut saya infotainment di indonesia adalah cara paling mudah untuk masuk neraka :D. lho kok ?? ya iya tinggal duduk manis didepan tipi aja tabungan OMN (Ongkos Masuk Neraka) sudah terisi dengan mesin otomatisnya yang dibumbui dengan engine berteknologi tinggi.
    informasi yg ditampilkan cenderung menggunjing aib orang, jika iformasi itu benar adanya maka dapat dosa karena telah membuka aib orang kemuka umum, jika berita tidak benar lebih parah lagi yaitu menimbulkan salah satu dosa besar yaitu fitnah..

  • dinda berkata:

    ndoro kakung masuk tipi euy
    ternyata .. gak seganteng yang kubayangkan ya…
    hayah .mode on

  • ianegx berkata:

    Ndoro, saya gak sempat lihat acara sampean. Tolong di buatken artikelnya dooong, ditunggu ya. Trims.

  • iya nih ndoro,.. saya juga nga’ sempat nonton.. kalo perlu yang ada gambar ndoro masuk tipi yach… (emang muat??)

  • tukangpoto berkata:

    Wah jadi debat kusir nih…rame ya.

  • edratna berkata:

    Jadi, infotainment itu tak termasuk dalam jurnalistik, betulkah kesimpulan ini?
    Jika masuk dalam golongan wartawan, betapa tak konsistennya penerapan uuite itu.

    Menurut pendapatku pribadi, lebih baik mereka yang berperkara ketemu, karena hasilnya akan lebih baik dibanding jika masuk dalam ranah hukum apalagi ada penerapan pasal-pasal yang saat ini masih ingin didiskusikan lebih lanjut.

  • Piala Dunia 2010 Afrika Selatan berkata:

    intinya saling introspeksi aja lah…gampang kan…salam-salaman aja…

  • Eko Deto berkata:

    90 % persen “berita” infotainment dapat diabaikan, dan kita tak akan kehilangan apa-apa!

  • Ian berkata:

    Ndoro, saya merekomendasikan tulisan ndoro di blog saya gpp yah. trims.

  • Menurut saya masalahnya bukan di Luna Maya, tetapi justru di pelaporan ke polisi. Kasus Luna Maya dari mulai persoalan pribadinya hingga omongannya di twitter sama sekali tidak penting. Tapi begitu dilaporkan ke polisi dan diancam UU ITE, ia mendapat dukungan. Saya perhatikan di beberapa group, mereka yang mendukung Luna sebenarnya bukanlah fans berat Luna, tetapi kalau bukan anti UU ITE, ya anti infotainment. Yang terakhir memakai Luna untuk menyerang atau menghina infotainment.

    Jadi persoalan ini sebenarnya akan menguap dengan sendirinya bila tidak dilaporkan ke polisi, seperti kasus pelemparan asbak, penembakan pistol, dll. Apakah Luna akan diboikot infotainment setelah itu, apakah karirnya habis karena tindakannya (atau justru sebaliknya) juga tidak penting.

  • hitamputih berkata:

    Pekerja Infotainment bukanlah seorang jurnalist…

  • hitamputih berkata:

    Pekerja Infotainment bukanlah seorang Jurnalist tapi cmn tukang Gosip

  • Infotainment sampai saat ini belum bisa membantu publik dalam mengatur dirinya. Alih-alih demikian, justru infotainment saat ini mengatur publik untuk bagaimana berbuat dan menyikapi sesuatu.

    Publik, baik langsung atau tidak, disuguhi dengan berbagai macam berita perselingkuhan, penghianatan, perceraian, juga perselisihan antara artis. Berita seperti ini sama saja dengan berita pembunuhan yang hampir menghiasi setiap media massa nasional. Tetap berita, namun tidak mendidik.

    Kita semua harus sadar bahwa Indonesia butuh lebih dari seribu satu macam berita positif. Prestasi, kehebatan anak bangsa, film nasional yang bermutu, dan berita lain yang membuat setiap orang semakin terpacu mencintai republik ini. Jika masyarakat kita lebih menyukai infotainment daripada yang lain, itulah cerminan bangsa kita.

    Ada sesuatu yang salah dengan bangsa ini. Kita semua tahu itu.

  • setahu saya bukankah Infotainment pernah diharamkan oleh salah satu lembaga islam di Indonesia?

  • zulhaq berkata:

    Tergantung juga sih ndoro…

    Ada sisik baik dan kurang baiiknya.

    Karena terkadang, bahkan sering infotainment itu lebay. Yg penting dapat liputan yg bs jadi duit

    *sok tau* hahahahaha

  • Dadang Suhadma berkata:

    Infotainmen, disingkat Info-TAI tak lebih baik dari yang biasa setiap pagi dibuang perut lewat toilet, jadi sederhana saja, masih saja ini dianggap wartawan atau Berita kalau nilainya ga lebih dari TAI.

  • Vian berkata:

    seumpama berita2 yg mereka tayangkan itu berita tentang dirinya atau saudaranya sendiri gimana tuh ?

  • Alvin berkata:

    berita yg gak bermutu tanpa bobot

  • Yudex berkata:

    Itulah mengapa, menjadi beda pengertiannya antara jurnalis, citizen jurnalis, dan jurnalis infotainment.

    Sekarang infotainment melebihi jadwal makan-ku ada pagi, siang, sore, malem, dini hari…beuh beuh beuh!!

  • Ori berkata:

    Saya juga melihat tidak ada jurnalisme dalam wacana yg disebut infotainment Indonesia, tidak ada seninya.

    Dalam kasus Luna Maya vs oknum yg tersinggung sama kata-kata LM, saya cek thread twitter balas pantun Lunmay sama oknum tsbt (waktu akunnya belum diprotect), kok malah melihat yg pertama mengeluarkan kata kasar malah dari pihak lawan LunMay ya, yaitu dengan secara specific menyebut kata “tolol”untuk Luna Maya.

    Ada yg bilang infotaiment tetap ada karena kebutuhan pasar, pasar yg mana ya?
    Lagipula kalopun ada pasarnya, jangan terus menyuburkannya dengan menyuplai hal-hal yg tidak berbobot ke golongan masyarakat yang belum melek. Dimana tanggung jawab infotainment untuk memperbaiki Indonesia kalo yg disuguhkan berita2 infotainment seperti selama ini?

    O iya, Pecas Ndahe artinya apa ya, tolong dong pencerahannya. Thanks.

  • Pakde Cholik berkata:

    apapun isinya, media harus mendidik bukan merusak. Bisnispun juga harus dilandasi kesadaran untuk mendidik orang.
    Salam dari Surabaya

  • Agung Suparjono berkata:

    oalaha 2 ndoro kakung, bela mana ya nanti. pokoke top markotop, mantap surantap

  • A.J.I berkata:

    jangan sampai profesi wartawan dibawa2 dalam kasus infotainment ini karena ada perbedaan mencolok pada kinerja wartawan dan infotainment

  • nining berkata:

    infotaiment emg suka ad2 aj,,
    jd males nntnnya..

  • eka berkata:

    infotaiment bukan berita. kalau emang berita apa urgensinya???

  • yatno berkata:

    ada positif dan negatifnya, harus tahu apa yang tersirat dari yang tersurat

  • Jutaan orang memiliki harapan memiliki bisnis online sendiri, tetapi tidak yakin bagaimana atau bahkan di mana untuk memulai. Bila Anda memiliki bisnis tradisional, saya punya, Anda harus mahal seperti sewa atau hipotek pembayaran, biaya persediaan, gaji karyawan, imbalan kerja dan banyak lagi. Untuk setiap lebih lanjut, klik di sini http://tokowebgratis.id/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Infotainment Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: