Bebek Pecas Ndahe

Desember 4, 2012 § 59 Komentar

Godaan itu datang dari sebuah surat elektronik yang masuk ke milis. Pengirimnya @bramadr salah satu anggota milis Kopdar Jakarta.

“Ada yang pernah ke Raja Begor Senopati? Kalau suka pedes wajib cobain Ayam atau Bebek goreng rawit disana. Enak dan pedesnya mantap. Tempatnya juga 24 jam dan wifinya cepet.”

Pertanyaan itu kemudian memicu email berisi pertanyaan, “Senopatinya sebelah mana, Bram?”

Disusul email berikutnya, “Iya Bram sebelah mana? Buat tempat nongkrong malem Minggu seru nih.”

Begitu seterusnya, sampai kemudian tema pembicaraan berbelok ke perkara menu bebek dan resto bebek favorit para penghuni milis.

Lalu @bramadr mulai menjawab dengan menjelaskan pengalaman mengudap di resto itu.

“Harga ayam Rp 22 ribu. Kalau bebek Rp 29 ribu. Pelayanan lumayan cepat. Sambalnya jelas diulek, tapi gak sampe halus. dan langsung dituang diatas bebek gorengnya.
Nama menunya: Bebek Rawit.

Pokoknya ini yang paling rekomended. Bebek goreng suryo sebelahnya aku juga udah pernah, tapi menurutku biasa aja. Sambelnya juga gak pedes. Kayak bebek surabaya kebanyakan. 😐

Dulu aku suka kaleyo, tapi entah kenapa selalu lebih kangen sambelnya bebek slamet, sambelnya lebih segar dan juicy. Kalo di kaleyo kan sambelnya udah tinggal ambil diatas meja gitu. Enak sih, tapi kadang kurang segar.

Tapi menurutku puncak peradaban bebek goreng, yaitu yang paling enak masih dipegang sama bebek sinjay di bangkalan. Kremesnya khas dan rempah banget, terus sambelnya pake sambel pencit (mangga muda). Sayang dia gak buka cabang diluar madura. πŸ˜₯ … “

Luar biasa. Saya baru tahu ada puncak peradaban bebek.

Obrolan di milis makin seru setelah para warga berbagi pengalaman menyantap bebek di pelbagai warung atau restoran yang pernah mereka kunjungi.

Alle menyambar, “Eh iya. Aku pernah makan bebek sinjay! Bebeknya sih kecil gak gede2 amat. Tapi sambal mangganya bikin nagih. Dibawain sama masa-lalunya-brama #eh

Kalau di jogja, sebenernya aku lebih suka bebek cici. Tapi sambelnya paling enak bebek H Slamet.”

Obrolan akhirnya dikunci dengan pertanyaan oleh Icit Milanisti, “Jadi sebenarnya pencarian bebek yang enak pada sambelnya, bukan pada bebeknya sendiri ya?”

“Oh Waow!” Dalam hati saya berteriak. Pengalaman manusia berburu cita rasa ternyata begitu bergelora penuh hasrat. Dan menariknya, kita, dalam urusan biologis di perut, selalu menampik untuk diseragamkan.

Bebek hanya satu titik dari sebuah kisah panjang rantai makanan. Kita memang butuh makan, jajan. Tapi siapa yang bisa mengatur hari ini kita ingin makan apa dan besok makan siapa. Sampean bisa mengatur menu, tapi selera dan keinginan?

Dan di kedai-kedai yang selalu penuh itu kita menyaksikan suatu pertahanan diri terhadap proses produksi dan pemasaran massal global. “Demassification,” tulis Alvin Toffler.

Soalnya kemudian tinggal sejauh mana kita bisa memilih, seraya menyadari β€˜lain ladang lain belalang’.

>> Selamat hari Selasa, Ki Sanak. Di mana resto bebek favorit sampean?

Iklan

Tagged: , , , ,

§ 59 Responses to Bebek Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Bebek Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: