Masjid Pecas Ndahe

Februari 13, 2014 § 58 Komentar

Mengapa orang harus dibujuk salat di masjid? Apakah masjid sudah tak lagi menjadi tempat menarik bagi umat? Pertanyaan itu menari-nari di benak saya setelah membaca berita mengenai rencana wali kota Bengkulu yang akan memberikan hadiah mobil kepada warga yang paling rajin salat di masjid setiap Rabu.

masjid, Innova, Bengkulu

Wali Kota Bengkulu Helmi Hasan mengatakan, ia memberikan iming-iming itu untuk motivasi warga agar ramai-ramai salat di masjid. Dan, katanya, hadiah mobil itu dari miliknya sendiri.

Wali kota juga menyiapkan hadiah lain, yaitu berangkat umrah dan haji gratis, bagi warga yang rajin ke masjid setiap Rabu. Tentu saja ada sejumlah syarat untuk mendapatkan semua hadiah itu.

Gagasan Pak Wali Kota itu kontan memicu pro dan kontra. Yang mendukung langkah itu merasa terharu dan bersimpati pada Pak Wali. Ajakan itu dinilai lebih efektif karena tidak memaksa seseorang untuk beribadah.

Komentar berbeda datang dari Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Provinsi Bengkulu, Rohimin seperti yang ditulis di Kompas.

Rohimin mengatakan bahwa pemberian hadiah haji, umrah, dan mobil Toyota Innova bagi masyarakat yang rajin salat berjemaah itu rentan diskriminasi dan bias gender.

Saya kira ia benar. Mengapa hanya yang paling rajin ke masjid yang diberi iming-iming? Mengapa tak ada hadiah untuk, misalnya, warga yang paling rajin ke gereja tiap Minggu?

Saya tak tahu bagaimana kondisi sosial-budaya di kota yang mencanangkan delapan tekad itu, yakni bersih, sehat, religius, indah, aman, peduli, kreatif, dan sejuk. Saya belum pernah ke Bengkulu. Jadi kurang bisa mengomentari dinamika kehidupan religius di sana.

Saya hanya bertanya-tanya, benarkah masjid-masjid di Bengkulu sudah tak populer lagi dan sepi jemaah? Jika ya, mengapa hal itu bisa terjadi?

Tiba-tiba saya jadi teringat sahabat lama saya, Paklik Isnogud. Dia juga jarang pergi ke masjid. Dia beralasan, “Saya memang jarang ke masjid karena sudah dari sononya memang begitu. Saya juga ndak mau cari muka di depan Gusti Allah, lalu mendadak rajin ke masjid untuk mengharapkan sesuatu. Gusti Allah ndak perlu muka saya, Mas. Saya pun ndak mau dicap sebagai muslim Jumat. Hanya ke masjid setiap hari Jumat saja. Saya ini setiap saat muslim, apa pun harinya.”

Hmmm…lantas apakah muslim di Bengkulu bakal membuat majelis Reboan, hanya ke masjid tiap hari Rabu? Semoga tidak.

>> Selamat hari Kami, Ki Sanak. Apakah sampean jadi ingin pindah jadi warga Bengkulu biar dapat mobil?

Iklan

Tagged: , , , , , ,

§ 58 Responses to Masjid Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Masjid Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: