Gelisah Pecas Ndahe

Maret 12, 2014 § 69 Komentar

Hujan selalu membuat kita gelisah, Kei. Setiap kali hujan jatuh, kamu pasti buru-buru meneleponku, menanyakan, “Kamu bawa payung? Jas hujan? Mau dijemput nggak, Mas?”

hujan, rain, payung, pasangan

Padahal dari apartemenku aku tinggal lari ke depan untuk sampai ke halte bus Transjakarta yang akan membawaku ke kantor. Aku tak perlu payung atau jas hujan. Biarlah basah sedikit tak mengapa.

Aku pun tak perlu kau jemput, Kei. Jarak apartemenku ke apartemenmu dua kali jarak dari apartemenku ke kantorku. Kalau pun kau jemput aku malah makan waktu. Apalagi lalu lintas Jakarta saat hujan pasti sedang lucu-lucunya.

Tapi karena kamu senewen, aku jadi ketularan gelisah. Aku khawatir kamu tak bisa ke kantor karena jalanan di depan rumahmu tergenang air setinggi ban mobil. Hatiku puspas karena bos-bosmu pasti juga senewen menunggumu tak kunjung nongol di kantor. Aku tahu mereka sangat mengandalkanmu sebagai sekretaris, Kei. Tanpa dirimu, bisa apa Pak Su, Pak Syam, dan Bu Sri?

Hujan selalu membuat kita gelisah, Kei. Karena hujan membuatmu terburu-buru. Lalu barang-barangmu tertinggal di sembarang tempat. Dulu pernah kau ketinggalan power bank di apartemenku gara-gara hujan jatuh waktu kamu mengantar martabak toblerone. Padahal kamu mau meeting di Hotel Mulia. Aku terpaksa mengantarkannya ke kantormu keesokan harinya.

Pernah juga syalmu tertinggal di kafe depan apartemenku kan, Kei? Untung aku hampir setiap hari ngopi di kafe itu dan mengenal hampir semua karyawannya. Dan mbak kasir yang baik hati itu mau menyimpankan syalmu untuk kemudian diberikannya padaku.

Aku ingat syal itu wangi white musk. Aku sempat kaget waktu aku tahu ternyata kita menyukai aroma yang sama.

“Kamu pakai apa sik?” tanyaku penasaran.

“Kenapa, mas? Nggak suka ya?” jawabmu agak ragu. “White musk, sih.”

“Body shop?”

Kamu mengangguk.

“Wah, kita sama dong?”

“Oh ya? Hahaha … ”

Dan kita pun tos tangan.

Sejak itu aku terbiasa menghirup aroma white musk yang menguar dari belakang telingamu. Aku seperti membaui diriku sendiri.

Hujan selalu membuat kita gelisah, Kei. Terutama saat kita berjauhan. Kamu selalu mengkhawatirkanku, dan menelepon berkali-kali.

Pernah aku bertanya, mengapa kamu bisa jadi resah begitu rupa dan selalu meneleponku setiap hujan datang?

Kamu terdiam dan menatap mataku dalam-dalam sebelum menjawab.

“Tahu nggak, mas? Aku punya teman yang pernah mengalami kecelakaan. Busnya masuk jurang karena jalanan licin saat hujan deras. Tapi ia selamat. Ia bercerita bahwa setelah ditolong dan dibawa ke rumah sakit, ia syok sekaligus bersyukur karena dirinya ternyata masih hidup.

Dengan tangan gemetar ia lalu mengangkat telepon genggam dan menyadari satu hal: tak ada yang bisa ia telepon. Tak ada seorang pun yang bisa ia telepon.

Ia yatim piatu. Dan dia baru saja putus dari pacarnya. Saat itu tak ada orang lain yang dekat di hatinya. Ia sadar tak akan ada seseorang yang berteriak riang di ujung telepon karena orang yang dicintainya masih diberikan kesempatan hidup satu kali lagi.

Kenyataan itu begitu menusuk hatinya dan ia merasa menyesal masih hidup. Aku tak mau seperti temanku itu, mas.”

Aku terkesima mendengar cerita itu. Tak pernah kusangka kau orang yang sangat takut kehilangan karena tiba-tiba seseorang meninggalkanmu seorang diri, Kei. Mungkinkah karena kamu Gemini?

Entahlah. Hujan selalu membuat kita gelisah, Kei. Dan tiba-tiba aku teringat lagu Katy Perry, The One That Got Away.

Summer after high school when we first met
We made out in your Mustang to Radiohead
And on my 18th birthday we got matching tattoos
Used to steal your parents’ liquor and climb to the roof

Talk about our future like we had a clue
Never planned that one day I’d be losing you …

>> Selamat hari Rabu, Ki Sanak. Sampean suka hujan nggak?

Iklan

Tagged: , , , ,

§ 69 Responses to Gelisah Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Gelisah Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: