Penyakit Pecas Ndahe

Juli 25, 2011 § 69 Komentar

Banyak orang kecanduan bekerja, tapi jarang istirahat. Bahkan saat liburan pun, ada beberapa orang yang tetap mengerjakan tugas kantor. Apakah mereka tak khawatir jatuh sakit? Apakah mereka dilindungi oleh sistem jaminan kesehatan?

Pertanyaan itu sering kali menari-nari di kepala saya setiap kali melihat ada kawan atau kerabat yang seolah-olah diperbudak oleh pekerjaan. Mencari nafkah memang penting. Tapi menjaga kesehatan jelas lebih utama. Apalagi bagi para pekerja di kota-kota besar.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), 60,44 persen orang Indonesia di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan berpotensi terkena penyakit kritis. Penyakit kritis umumnya dipicu oleh gaya hidup yang tidak sehat.

Data Riset Kesehatan Nasional 2007-2010 menunjukkan golongan usia 10 tahun ke atas memiliki gaya hidup tidak sehat seperti konsumsi garam dan lemak, kurang asupan buah, tidak melakukan aktivitas fisik, merokok, dan mengonsumsi alkohol berlebihan.

Sedangkan untuk usia diatas 15 tahun, gaya hidup tak sehat yang paling menonjol adalah kelebihan berat dan konsumsi alkohol. « Read the rest of this entry »

Google+ Pecas Ndahe

Juli 22, 2011 § 75 Komentar

“I miss the days when you had one phone number and one answering machine, and that one answering machine has one cassette tape, and that one cassette tape either had a message from a guy or it didn’t.”

Saya membaca kutipan dialog Mary Harris (diperankan oleh Drew Barrymore dalam film He’s Just Not That Into You) itu di sebuah blog. Penulisnya, sebut saja namanya Ririn, mengutip kalimat itu karena merasa seperti gadis yang kesepian di tengah keramaian pasar malam. Dia kehilangan pembicaraan yang intim dan personal, dari satu orang ke orang lain. Dan ia merindukan masa-masa ketika media sosial belum seriuh sekarang.

Media sosial memang telah mengubah cara orang berkomunikasi. Dulu satu individu bercakap-cakap dengan satu individu. Sekarang individu berkomunikasi dengan khalayak atau sebaliknya.

Perhatikan orang-orang seperti Ririn. Pada awal Facebook masuk Indonesia, mereka beramai-ramai mendaftarkan diri ke situs pertemanan itu. Setiap hari mereka memberikan photo tagging pada profil teman, menuliskan percakapan wall to wall, termasuk bergunjing setiap kali ada teman di jaringan pertemanan mereka mengganti status berhubungan: lajang, rumit, atau menikah. « Read the rest of this entry »

Instagram Pecas Ndahe

Juli 8, 2011 § 104 Komentar

Kawan baik saya, seorang fotografer jempolan, tiba-tiba mengeluh. “Asem tenan, Mas. Instagram itu lama-lama bisa membuat kamera DSLR saya pensiun,” katanya.

“Loh, kenapa, Mas?” saya bertanya. « Read the rest of this entry »

Badminton Pecas Ndahe

Juni 20, 2011 § 70 Komentar

Seorang atlet tak lahir dalam semalam. Ia telah berjalan jauh sebelum akhirnya tiba di puncak kejayaan. Legenda bulutangkis Indonesia Rudy Hartono, juga “raja smash” Liem Swie King, atau Hastomo Arbi, Taufik Hidayat, misalnya, berbulan-bulan menggedor dirinya sendiri. Mereka mengibaskan raket ribu kali, berlari puluhan kilometer memutari lapangan, mengangkat barbel, senam, push-up, sit-up, dan seterusnya

Tubuh memang tak bisa dibiarkan terkulai seperti baju lusuh. Tubuh seorang atlet ibarat busur yang direntang sebelum sebuah performance ditembakkan.

Tubuh juga misteri. Banyak hal bisa terjadi pada saat yang menentukan tiba. Latihan berbulan-bulan pada dasarnya adalah untuk mengatur pelbagai hal yang mungkin itu ke dalam suatu tertib. Dan pertandingan, seperti yang terjadi sirkuit bulutangkis Djarum Super Serius, adalah ujian terpuncak untuk mengalahkan misteri itu.

Seorang atlet dengan demikian, jauh di dasar dirinya, adalah seorang yang sendirian. « Read the rest of this entry »

Produktif Pecas Ndahe

Juni 16, 2011 § 40 Komentar

Nowadays, business is all about productivity – and our folks produce.
John Hoeven

Saya sepakat dengan Hoeven, senator Amerika Serikat dari Dakota Utara itu. Produktif itu selalu mengacu pada proses atau kegiatan menghasilkan sesuatu. Bisa barang, bisa tulisan, bisa juga gagasan.

Saya yakin sampean pun termasuk orang-orang yang produktif. Sampean adalah golongan orang bukan hanya bisa omong kosong, tapi benar-benar mampu melakukan sesuatu. Mereka yang tak termasuk kelompok “no action talk only.”

Nah, kebetulan ada tantangan menarik buat sampean yang mampu dan berani membuktikan kemampuan. Apa itu?

Namanya kompetisi ide kreatif Aksi Indonesia Produktif. Kompetisi ini bertujuan memotivasi masyarakat Indonesia agar lebih produktif. Hadiah totalnya Rp 100 juta. Menarik, kan? « Read the rest of this entry »