Luna Maya Pecas Ndahe
Desember 17, 2009 § 168 Komentar
Twittermu harimaumu.
Pepatah plesetan ini rasa-rasanya sangat cocok untuk menggambarkan peristiwa yang menggegerkan media sosial pekan ini: Luna Maya (@lunmay) menghapus bilik kicauan digital pribadinya (Twitter).
Luna yang sampai saat terakhir memiliki lebih dari 125 ribu pengikut di Twitter itu terpaksa menghapus ruang kicauan digital pribadinya setelah mendapat kecaman dari delapan penjuru angin. Gara-garanya, ia memasang status berbunyi:
“Infotemnt derajatnya lebh HINA dr pd PELACUR, PEMBUNUH!!!! may ur soul burn in hell!!…”
Entah kenapa Luna tiba-tiba menuliskan status dengan kalimat kasar seperti itu. Pasti ada sebabnya. Tapi khalayak seakan-akan tak peduli. Mereka justru langsung bereaksi. Sebagian mengecam kalimat sarkastis itu, sebagian lagi bersikap netral dengan menanyakan asal muasal perkara. Seseorang, misalnya, menyesalkan ucapan Luna yang kasar di ruang publik. Padahal sebagai tokoh publik, Luna mestinya pandai-pandai membawa diri dan menjaga citra. Bukan malah berbicara sembarangan seperti itu di ranah publik.
Karena mendapat banjir protes dan tak ingin memperkeruh persoalan, akhirnya Luna memperbaiki sikap. Ia memasang status terakhir berbunyi:
“Maaf yaa semua untuk twit yg gak penting itu,tp untuk yg mengerti makasih bgt,tp untuk yg gak ngerti jg maaf…”
Dan setelah itu, ruang kicauan digital Luna pun dihapus. « Read the rest of this entry »
MyPulau Pecas Ndahe
Desember 16, 2009 § 45 Komentar
Jejaring sosial mungkin semacam mantra ajaib. Ia menyihir banyak orang menjadi pengikutnya. Barangkali juga dia sebuah kata kunci untuk membuka pintu pergaulan. Dan orang pun segera masuk ke sebuah dunia yang terhubung satu sama lain.
Maka, tak heran bila pelbagai layanan jejaring sosial pun bermunculan. Salah satunya adalah MyPulau. Ini layanan yang, katanya, disebut sebagai online social hub di Indonesia.
Di dalam “pulau” tersebut, semua favorit sampean dikumpulkan. Ia membantu sampean berhubungan dengan teman-teman dan komunitas lain — jaringan pulau-pulau. « Read the rest of this entry »
Etika Pecas Ndahe
Desember 14, 2009 § 37 Komentar
Umurnya baru sebelas tahun, dan setiap kali ada kesempatan, dia pergi memancing di dermaga di depan kabin keluarganya di sebuah pulau di tengah sebuah danau di New Hampshire.
Syahdan menjelang dimulainya secara resmi musim penangkapan ikan bass, anak laki-laki itu dan ayahnya memancing di awal senja.
Mula-mula mereka hanya berhasil menangkap sunfish dan perch (sejenis ikan air tawar) dengan umpan cacing. Namun ketika malam datang, joran anak itu melengkung. Dia tahu bahwa ada sesuatu yang sangat besar tersangkut di ujung pancing. Segera saja ia menarik-ulur senar.
Dari jauh, ayahnya mengamati dengan kagum saat anak lelaki itu dengan tangkas menangani tangkapannya di sepanjang lantai dermaga. Ia melihat anaknya benar-benar sosok yang gigih dan tak mudah menyerah.
Pertarungan ternyata hanya berlangsung sebentar. Setelah bertahan dari menit ke menit, melawan tarikan dan uluran joran, ikan itu kelelahan. Ia pasrah ketika anak itu mengangkatnya keluar dari air.
Olala! Tangkapannya memang benar-benar seekor ikan yang besar. Anak itu berteriak kegirangan melihat hasil tangkapannya. Itu ikan terbesar yang pernah dilihatnya.
Tapi itu ikan bass! « Read the rest of this entry »
SMS Pecas Ndahe
Desember 9, 2009 § 67 Komentar
Jakarta, pada sebuah pagi yang mendung. Langit kelabu. Jalanan seperti pasar. Kendaraan merayap seperti bekicot. Klakson memekik nyaring.
Seorang pengemudi sedan sport perak metalik memainkan telepon genggamnya. Jari-jarinya lincah memencet tombol-tombol. Dikirimkannya sebuah pesan pendek ke satu nomor.
I miss you
Sent to +62856916XXXXX
Balasan masuk beberapa detik kemudian. Pengemudi itu membacanya cepat.
Kok sama ya?
Sent to +62838936XXXXX
Mungkin karena kita memakai hape sama, Nokia, connecting people.
Sent to +62856916XXXXX
Wah, Anda salah. Aku pemakai Sony-Ericsson.
Sent to +62838936XXXXX
Pengemudi itu tersenyum. Wajahnya bersinar-sinar. Di jalan, kendaraan nyaris parkir, tak bergerak di simpang yang selalu padat setiap pagi itu. Jari-jarinya kembali bergerak lincah. « Read the rest of this entry »
Koin Pecas Ndahe
Desember 7, 2009 § 104 Komentar
Ketika keadilan direcehkan, kita pun mengumpulkan receh.
Kalimat itu tertulis di blog Koin Keadilan yang terbit sejak Jumat malam pekan lalu. Blog ini adalah salah satu simpul informasi dukungan terhadap Prita Mulyasari, ibu rumah tangga yang oleh Pengadilan Tinggi Banten diputuskan bersalah dan harus membayar denda Rp 204 juta kepada RS Omni Internasional Alam Sutera yang menggugatnya secara perdata.
Sebagai salah satu simpul, blog ini tak diniatkan sebagai pusat atau sejenisnya, sehingga pengelola menyambut baik uluran kerja sama dan kemunculan inisiatif serupa dari siapa pun. Semuanya demi Prita dan kebebasan menyatakan pendapat. « Read the rest of this entry »

