Demonstrasi Pecas Ndahe
Februari 4, 2009 § 84 Komentar
Inilah salah satu foto yang membuktikan bahwa Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatera Utara Abdul Aziz Angkat dipukul dan akhirnya meninggal dunia.
![pukul Handaya Wira Yuga [Waspada Online]](https://ndorokakung.com/wp-content/uploads/2009/02/pukul.jpeg?w=480)
Foto: Handaya Wira Yuga (Waspada Online)
Pelaku pemukulan diduga adalah orang-orang yang berunjuk rasa menuntut pembentukan Provinsi Tapanuli di Medan, Sumatera Utara, kemarin.
Dalam aksi brutal yang ditayangkan di layar televisi itu, massa terlihat kalap, kesetanan. Mereka merangsek masuk ruang sidang gedung DPRD, lalu main lempar kursi, botol, seraya berteriak-teriak seperti kaum barbar. « Read the rest of this entry »
Etika Pecas Ndahe
Februari 2, 2009 § 65 Komentar
Perlukah blogger memiliki kode etik? Kalau iya, siapa yang membuat?
Pertanyaan itu menari-nari di kepala saya setelah seorang kawan mengajak ngobrol agak serius tentang kasus yang tengah dihadapi oleh seorang blogger yang dituduh mencemarkan nama baik seorang wakil rakyat.
Diskusi ringan itu terjadi di tepi sebuah pemakaman di Purwakarta sore tadi. Kami tengah mengantar kepergian seorang sahabat yang tutup usia tadi pagi setelah terkena serangan stroke. Langit mendung. Gerimis sesekali jatuh. Tanah liat becek dan membuat sol sepatu kami menebal.
Mula-mula kawan saya itu — tepatnya juragan di tempat saya bekerja — bertanya, apakah blogger itu memiliki kode etik sepertinya para jurnalis mempunyai kode etik jurnalistik? « Read the rest of this entry »
Sekolah Pecas Ndahe
Januari 29, 2009 § 79 Komentar
:: Untuk para orang tua yang sedang kerepotan mencarikan anak-anaknya bangku perguruan tinggi.
Syahdan, seorang anak bertanya kepada ibunya. “Sekolah itu apa sih, Bu? Mengapa aku harus bersekolah?”
Di pagi hari yang basah oleh hujan, sang Ibu tersenyum mendengar anaknya bertanya seperti itu. Ia menatap mata anaknya yang bening, seperti telaga di musim semi.
Sang Ibu lalu menjawab. “Dulu, konon, orang menyebut sekolah dari kata schole bahasa Yunani. Konon pula kata itu berarti semacam waktu senggang, kesempatan sang guru dan sang murid saling bertemu, memberi dan menerima. Kini, waktu senggang, saat untuk bermain justru semacam pengkhianatan terhadap sekolah.”
“Pengkhianatan? Apa maksudnya, Bu? Aku tak mengerti.” « Read the rest of this entry »
DikDoank Pecas Ndahe
Januari 27, 2009 § 79 Komentar
Lelaki itu memakai kaos jingga dan celana jins gombrong. Topi hitamnya menutupi rambutnya yang tipis dan pirang. Sebingkai kacamata bertangkai hitam ala Bono U2 nangkring di atas hidungnya.
Dengan bertelanjang kaki, lelaki itu berdiri di depan sekitar 40-an anak usia sekolah dasar, di tengah lapangan rumput nan menghijau. Matahari hampir roboh di barat.

KJD | anak-anak belajar di Komunitas Kreatifitas Kandank Jurank Doang
Sambil memegang mikrofon, lelaki itu meminta anak-anak yang duduk lesehan di atas rumput untuk mengeluarkan buku gambar.
“Siapa yang tahu ada berapa kitab yang kita kenal?” lelaki itu bertanya. “Ayo yang tahu maju ke depan.”
Seorang anak perempuan mengacungkan tangan, berdiri, lalu menuliskan jawaban di papan. “Benar atau salah anak-anak?” lelaki itu bertanya lagi dengan suara kencang. « Read the rest of this entry »
Gerhana Pecas Ndahe
Januari 26, 2009 § 18 Komentar
Gerhana matahari barangkali sebuah isyarat waktu. Langit begitu jauh dan purba. Hidup ibarat hujan, nyaman tapi sebentar.
Gerhana juga tanda kekuasaan Tuhan, dan manusia tak berarti di hadapan-Nya. Kita gentar oleh kekuasaan itu.
Tapi kita juga terhibur, karena sempat menyaksikannya dalam sisa waktu hidup kita yang cuma sebentar ….
:: Foto gerhana dipinjam dari situs Tempointeraktif.
>> Selamat hari Senin, Ki Sanak. Apakah sampean sempat melihat gerhana matahari cincin sore tadi?
