Misi Pecas Ndahe
Januari 5, 2009 § 66 Komentar
Bencana datang silih berganti. Korban terus berjatuhan. Kemarin saudara-saudara kita di Manokwari dan Sorong, Papua Barat, yang tertimpa musibah gemba bumi. Besok atau lusa mungkin giliran kita.
Setiap kali bencana menghumbalang, kita tak bisa hanya berharap dan menunggu bantuan pemerintah pusat maupun daerah, yang sering terlambat. Sudah saatnya masyarakat, juga para blogger, berdiri di barisan terdepan dan melakukan sesuatu. Bencana tak mau menunggu. Saat ini juga, kita harus bergerak.
Epat, kawan baik saya itu, telah melempar gagasan dahsyat: membuat Blogger Response Team. Apa itu? « Read the rest of this entry »
Bengawan Pecas Ndahe
Januari 4, 2009 § 35 Komentar
Tahun baru. Wajah baru. Alamat blog juga baru. Begitulah kabar yang mengalir dari kawan-kawan komunitas blogger Solo, Bengawan.
Bengawan adalah kumpulan para blogger Solo, kota yang dilalui oleh Sungai Bengawan Solo yang kondang dan sering banjir di musim hujan itu. « Read the rest of this entry »
Palestina Pecas Ndahe
Januari 3, 2009 § 78 Komentar
Kita melihat horor itu di televisi, juga di YouTube. Jet-jet tempur Israel membombardir Jalur Gaza. Rudal-rudal menggempur wilayah Palestina. Rumah-rumah yang remuk dan sedikitnya 400 ratus warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, dijemput maut.
Paklik Isnogud berulang kali menonton adegan maut itu di layar monitor dengan paras yang muram. Saya lihat ada kristal bening di matanya yang teduh. Dari jauh saya cuma bisa memandangnya dalam bisu. Saya tak berani mendekat dan mengajaknya bicara, sampai kemudian Paklik melihat dan melambaikan tangan, meminta saya mendekat.
“Menyedihkan ya, Mas,” kata Paklik begitu saya duduk di sebelahnya. Saya cuma mengangguk pelan. « Read the rest of this entry »
Sekolah Pecas Ndahe
Januari 1, 2009 § 59 Komentar
Apa yang lagi tersisa setelah piring-piring bersih, gelas-gelas kosong, dan terompet tahun baru tak lagi menyalak? Senyap? Tidur panjang? Kesiangan atau kenangan?
Setelah almanak disobek, dan 2009 dimulai hari ini, barangkali ada baiknya kita kembali menghadapi kenyataan. Mari melihat jalanan. Lihatlah anak-anak dan para perempuan yang menengadahkan tangan di perempatan seraya menutup wajahnya.

Apa boleh buat, wajah tahun baru masih agak sedikit suram. Krisis global yang menghumbalang banyak negara Barat mungkin sebentar lagi bakal sampai di sini. Bayang-bayang kelesuan ekonomi barangkali akan segera terlihat.
Saya mendengar ada beberapa perusahaan lokal yang mulai memecat sebagian karyawan. Dalihnya macam-macam, misalnya atas nama pensiun dini — seperti kabar yang sayup-sayup terdengar dari sebuah pabrik media ternama.
Lantas bagaimana sampean akan memulai hari di tahun yang baru ini, Ki Sanak? « Read the rest of this entry »

