Kambing Pecas Ndahe

Februari 23, 2009 § 122 Komentar

Pesan singkat itu mendadak masuk lewat BlackBerry messenger. Isinya pendek saja, “Ndoro tukeran posting, yuk!” Saya baca pengirimnya. Raditya Dika!

Saya kaget. Di tengah gemuruh acara peluncuran komunitas Bengawan Sabtu malam yang lalu, pesan itu telah membetot saya dari sebuah planet yang riuh ke desa antah berantah.

Sampean mestinya tahu siapa Raditya Dika. Dia mahasiswa, blogger, penulis novel laris Kambing Jantan. Ia sekarang melebarkan sayap kegiatannya dengan menjadi bintang film yang dibuat berdasarkan blog dan novel karyanya itu. Kenapa tiba-tiba dia mengirim pesan ke saya? « Read the rest of this entry »

Facebook Pecas Ndahe

Februari 17, 2009 § 144 Komentar

Ponari punya batu ajaib. Kita punya Facebook. Sama-sama irasional. Mereka yang percaya keduanya tak perlu saling mencemooh.

Begitulah pesan seorang kawan kepada saya pada sebuah pagi yang malas. Saya terhenyak ketika pesan itu memasuki Inbox dan saya membukanya.

Dalam hati saya bertanya-tanya, kenapa teman saya yang bermukim di sebuah pelosok desa di Bali itu bisa mengambil kesimpulan seperti itu?

“Itu perlunya Anda membuka cakrawala berpikir yang lebih luas,” kata teman saya itu.

“Oh, baiklah, Guru. Mohon murid yang masih banyak belajar ini diberi pencerahan,” begitu saya meminta pada orang yang sudah saya anggap sebagai guru spiritual pribadi itu.

Maklum, dia petinggi agama. Ia mengajarkan kebajikan dan moralitas. Saya menjura dalam-dalam padanya.

“Begini,” kata kawan saya itu. “Legenda tentang Ponari dan batu ajaib semacam itu ada di berbagai belahan dunia mana pun. Anda boleh percaya, boleh tidak.

Tapi kita hanya akan membuang energi kalau memperdebatkan hal ini sebagai takhayul, mistik, irasional, atau bahkan ‘ajaran sesat’, karena ada ‘dunia lain’ di sekitar kehidupan kita ini. « Read the rest of this entry »

Ponari Pecas Ndahe

Februari 12, 2009 § 288 Komentar

Siapakah sesungguhnya Ponari? Dukun cilik sakti atau hanya seorang anak kecil di pusaran absurditas zaman?

Saya ndak tahu. Kabar yang berseliweran menyebutkan bocah lelaki berusia 10 tahun dari Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang, itu memiliki sepotong batu yang dipercayai mampu menyembuhkan aneka macam penyakit.

Entah bagaimana caranya, kabar kedigdayaan batu itu cepat menyebar. Orang berbondong-bondong datang meminta pertolongan kepada Ponari dan batu ajaibnya itu.

Pasiennya membanjir dari delapan penjuru angin. Surya Online melaporkan, “Jika sebelumnya rata-rata pengunjung 5.000-9.000, kemarin diperkirakan mencapai sekitar 15.000 orang.”

Dalam waktu sekejap, tak sampai sebulan, Ponari menjelma jadi sebuah brand yang menasional — mungkin efek viral marketing tanpa disengaja. Ia bagaikan sebuah mantra ajaib bagi mereka yang memercayai. Obat bagi sembarang penyakit.

“Membludaknya pengunjung juga bisa dilihat dari banyaknya sepeda motor dan mobil yang diparkir di jalan-jalan desa. Massa dan kendaraan yang parkir memenuhi radius sekitar satu kilometer dari rumah keluarga Ponari” — Surya Online.

Dari mana batu ajaib itu diperoleh? Konon batu ajaib berbentuk kepala belut sebesar kepalan tangan tersebut didapat awal Januari lalu, ketika Ponari disambar kilat. « Read the rest of this entry »

Pewarta Pecas Ndahe

Februari 9, 2009 § 35 Komentar

Perlukah pewarta warga memiliki semacam kartu pers? Kalau iya, untuk apa? Siapa yang akan menertibkan seandainya terjadi penyalahgunaan?

Pertanyaan itu mengaduk-aduk perut saya seperti kupu-kupu yang hendak terbang setelah membaca posting Unspun.

Dalam posting itu, Unspun menyatakan kerisauan hatinya setelah para pewarta warga memiliki kartu anggota (ID card), seperti yang baru saja dibagi-bagikan oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Kartu ini, katanya, berfungsi seperti halnya kartu pers bagi jurnalis profesional.

Mengapa Unspun risau? « Read the rest of this entry »

Drop-out Pecas Ndahe

Februari 6, 2009 § 47 Komentar

sekolahSeperti apakah wajah anak-anak Indonesia masa kini? Di sela-sela pendar-pendar gemerlap lampu-lampu neon pusat perbelanjaan, mal, dan deretan town square, di bawah gedung-gedung perkantoran dan apartemen jangkung yang menjilat langit, ada lebih dari 155 ribu anak yang berkeliaran di jalan. Sekitar 2,1 juta anak menjadi pekerja di bawah umur. Mereka drop-out dari sekolah dan menjadi sasaran empuk perdagangan anak.

Di Jakarta saja, data Dinas Pendidikan DKI Jakarta tahun 2008 menunjukkan jumlah anak drop out di tingkat SMA mencapai 1.253 orang. Jumlah anak putus sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan 3.188 orang. Di tingkat sekolah dasar, ada 571 pelajar yang putus sekolah. Di tingkat SMP, ada 1.947 pelajar.

Di Padang, Sumatera Barat, 7.682 siswa, mulai dari SD sampai SLTA, putus sekolah pada tahun ajaran 2007/2008. Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga setempat menyatakan penyebab utama anak putus sekolah adalah buruknya situasi ekonomi. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Indonesiana category at Ndoro Kakung.