Lima Pecas Ndahe
November 17, 2008 § 44 Komentar
Hari ini, sejarah ditulis dari Bali. Lima blogger asing memulai perjalanan mereka sebelum ke Jakarta, sebagai awal dari rangkaian acara menuju Pesta Blogger 2008.
Lima blogger asing itu adalah Mike Aquino dari Filipina, Jeff Ooi (Malaysia), Mr. Brown (Singapura), Mark Tafoya (Amerika Serikat), dan Anthony Bianco (Australia).
Selama berada di Bali, mereka dikawal oleh Iman Brotoseno dan Iqbal Prakasa si Juragan Wetiga, serta teman-teman dari Bali Blogger Community.
Selama dua hari mereka akan berkeliling Pulau Dewata, lalu melihat, mendengar, mencatat, menulis semua yang mereka temui selama di Bali.
Kita berharap, tulisan mereka segera diwartakan ke delapan penjuru angin. Kabar mereka adalah suara kita. Suara Indonesia untuk dunia.
Setelah itu, lima blogger luar negeri itu akan terbang menuju Yogyakarta untuk melakukan perjalanan wisata yang sama. Di sana sudah menanti kawan-kawan dari Cahandong yang siap menyambut dengan sejumlah kegiatan.
Hati saya berdebar kencang. Darah mengalir deras di setiap nadi. Semoga mereka selamat dan senang diajak jalan-jalan. Kita nantikan saja cerita mereka seraya berharap bisa berjumpa mereka di Jakarta, Sabtu nanti.
>> Selamat hari Senin, Ki Sanak. Apakah hari ini sampean merasa bersemangat kerja?
Eksekusi Pecas Ndahe
November 10, 2008 § 58 Komentar
Amrozi, Ali Gufron, dan Imam Samudra, akhirnya dieksekusi di Lembah Nirbaya, Nusakambangan, Ahad dini hari kemarin. Apakah mereka mati syahid? Adakah mereka menjadi syuhada? Pahlawan?
“Wah, saya ndak tahu, Mas. Saya tahunya cuma pahlawan kesiangan,” kata seorang kawan.
“Pahlawan kesiangan itu apa?” saya balik bertanya.
“Itu loh pahlawan yang ndak punya weker, bangunnya siang melulu, hahaha …” jawab kawan saya sambil ngakak.
“Halah, garing, ndak lucu, Bung! Itu sama saja dengan mengatakan hero paling terkenal adalah hero supermarket,” saya membalas.
Pahlawan memang sering dijadikan bahan lelucon. Para penulis dan pujangga kerap membuat satire tentang mereka. Tapi, apakah dengan demikian setiap pahlawan adalah badut? « Read the rest of this entry »
Teror Pecas Ndahe
November 3, 2008 § 54 Komentar
Bom melahirkan teror. Dan ketakutan pun tak punya persembunyian lagi di abad ke-20.
***
Sarapan bersama Paklik Isnogud pagi ini membuat perasaan saya campur aduk, antara senang dan galau. Senang karena setelah berpekan-pekan tak bersua dengannya, akhirnya saya bisa menghabiskan waktu berdua lagi dengan Paklik di meja makan.
Tapi kami juga terpaksa menelan galau karena setiap suap nasi yang disendok berlauk berita-berita pagi yang muram.
“Lihat saja headline koran ini, Mas,” kata Paklik sambil memperlihatkan sampul depan sebuah koran yang memajang wajah Amrozi, Muklas, dan Imam Samudera — trio bomber Bali itu.
Saya tersenyum kecut. « Read the rest of this entry »
Esek-esek Pecas Ndahe
Oktober 31, 2008 § 104 Komentar

Puas? Puas? Puas? Setelah palu diketok dan undang-undang itu sah, lalu apa ya sampean mau potong tumpeng?
Lah terus bagaimana nasib dokumen-dokumen esek-esek di dalam laptop dan PC saya? Apakah sebagai orang dewasa saya ndak boleh melihatnya lagi? Apakah sebagai pelukis ternama saya ndak boleh nggambar wanita tanpa sehelai benang pun? Doooh …
>> Selamat hari Jumat, Ki Sanak. Apakah sampai hari ini sampean masih menyimpan dokumen panas?


