Moralitas Pecas Ndahe

Mei 26, 2008 § 20 Komentar

Di Indonesia, pemilu maupun pilkada bukan suatu perang saudara, tapi ketegangannya bisa mirip. Bahkan kita bisa merasakannya jauh-jauh hari ketika musim kampanye belum lagi datang.

Para politikus mulai menyimpan pipa perdamaian dan mengasah kapak perang. Para pelobi kasak-kusuk ke sana-kemari seperti pasukan telik sandi.

Apakah setelah pemilu nanti — untuk memakai kata-kata orang Indian — “kampak peperangan ditanamkan kembali” dan “pipa perdamaian tidak diisap”?

Tentu saja, meskipun dalam arti harfiah tak ada peperangan dan karena itu tak perlu perdamaian, kerukunan bisa kembali.

Orang mengatakan, kita bukan bangsa pendendam. Lihatlah bagaimana sikap kita kepada Belanda. Tatkala Ratu Juliana berkunjung, sambutan begitu meriah, seakan-akan di antara kedua bangsa itu tidak pernah terjadi bunuh-membunuh, sejak Sultan Agung mengirimkan pasukannya ke Batavia di abad ke-17 sampai pada pengakuan kedaulatan pada 1945.

Di muka Sri Ratu para pembesar tersenyum ramah, orang dari zaman “tempo doeloe” begitu rupa, hingga kadang-kadang kita bingung: adakah ini karena basa-basi diplomasi ataukah ini karena kita masih senang membayangkan diri sebagai para bangsawan yang menyambut pembesar Hindia-Belanda? « Read the rest of this entry »

Kucing Pecas Ndahe

Mei 24, 2008 § 44 Komentar

Telah Hilang Seekor Kucing Anggora Jantan Berbulu Coklat Muda pada Hari Ahad (18/5) sekitar pukul 1.30 WIB di sekitar Jalan Petalabumi dan HR Thamrin. Kepada yang Menemukan Diharap Menghubungi Suryani dengan nomor HP 0811761110. Bagi yang Menemukan akan Mendapat Imbalan Selayaknya”

Bukan, bukan … bukan saya yang kehilangan kucing anggora. Saya hanya ikut menyebarkan pengumuman kucing yang hilang di Riau, Sumatera, itu. Boleh kan? « Read the rest of this entry »

Pakar Pecas Ndahe

Mei 23, 2008 § 39 Komentar

Berita di Okezone:

Badan Kehormatan (BK) DPR menyatakan siap melakukan pengusutan atas foto mesra anggota Fraksi PDIP Max Moein yang beredar di dunia maya.

“Kalau itu masuk kebenaran oleh pakar telematika, maka BK akan menyikapinya,” ujar Wakil Ketua BK DPR Gayus Lumbuun kepada okezone, Jakarta, Jumat (23/5/2008).

Pakar telematika? Waduh, berarti sebentar lagi pasti akan ada yang naik daun nih. Jadi free rider, numpang ngetop.

Siapa? You know who lah. Saya jadi pengen tahu apa ya masih ada media yang nekat mengutip pakar you-know-who itu, dan lupa pada button

Max Pecas Ndahe

Mei 21, 2008 § 39 Komentar

Max Moein. Nama itu tiba-tiba jatuh dari udara ke pangkuan saya pada sebuah siang yang lengas. Jangan tanyakan bagaimana prosesnya sebab saya pun tak tahu — dan ndak terlalu peduli.

Mungkin tak banyak di antara sampean yang mengenal Max Moein, politikus dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini, karena kamera televisi jarang menampilkan wajahnya.

Meski lama berkarier di Senayan, sosoknya memang kalah pamor ketimbang, misalnya, Megawati Soekarnoputri atau Pramono Anung, Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal partai berlambang banteng hitam dalam lingkaran merah itu.

Max Moein pernah menjadi Ketua Komisi IX DPR RI periode 1999-2004. Beberapa anggota Komisi yang dipimpin Max ini disebut-sebut media massa menerima aliran dana dari Bank Indonesia. Kasus aliran dana ini masih ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi. « Read the rest of this entry »

Kehilangan Pecas Ndahe

Mei 20, 2008 § 26 Komentar

Tepat di Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei, kita kehilangan dua tokoh besar yang amat besar perannya dalam sejarah, Ali Sadikin dan SK Trimurti.

Mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, atau biasa dipanggil Bang Ali, meninggal di Rumah Sakit Gleneagles, Singapura, pukul 17.30 waktu setempat, setelah dirawat selama sebulan. Bang Ali lahir di Kampung Cangkudu, Sumedang, Jawa Barat, 7 Juli 1926.

Soerastri Karma Trimurti, lahir 11 Mei 1912, atau lebih dikenal dengan SK Trimurti tutup usia di Rumah Sakit Gatot Subroto. Sebelumnya, ia sempat dirawat di Metropolitan Medical Center, Jakarta, karena menderita infeksi paru-paru.

Kita mengenal SK Trimurti sebagai wartawati, penulis, pengajar, dan istri dari Sayuti Melik. Hingga saat-saat terakhirnya, SK Trimurti tinggal di Taman Galaxy, Kalimalang, Bekasi. Di tempat ini ia melewatkan masa tuanya hanya ditemani pembantunya, Sainah, dan Echa, kucing kesayangannya. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Indonesiana category at Ndoro Kakung.