Merdeka Pecas Ndahe
Agustus 17, 2007 § 13 Komentar
Tujuh belas Agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka, nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Mer … de … kaaaa …
Merdeka itu apa?
“Kemerdekaan adalah laut,” kata penyair Toto S. Bachtiar. Buat saya, merdeka itu ibarat hidup berkeluarga sendiri: naik-turunnya nasib yang tak bisa disodorkan lagi ke punggung orang lain.
Merdeka pun memang jadi tak mudah. Kemerdekaan suatu bangsa bahkan mengandung banyak mara bahaya. Tapi, sebuah bangsa jadi matang juga bukan karena taat menunggu sampai kunci depan dan hak-hak diserahkan oleh “sang bapak” kepadanya.
Sebuah bangsa jadi matang karena ia bersedia ambil risiko dengan kesalahan. Ia bukan seorang bocah yang selalu dilindungi dari masuk angin atau kepleset. Ia bukan calon menantu yang cukup dibekali harta sebelum kawin. Ia adalah pribadi yang mandiri, liat oleh benturan, kuat oleh badai.
Walhasil, kemerdekaan itu mengandung risiko. Siapa yang takut itu, biarlah jadi batu.
Karena ndak mau jadi batu, hari ini saya mau mengerek bendera Merah-Putih dan biarkanlah saya memberi hormat kepadanya …
Pasha Pecas Ndahe
Agustus 16, 2007 § 15 Komentar
Seandainya Indonesia itu sebuah album foto, halamannya tentu sudah berlembar-lembar. Tiap lembar halaman berisi potret-potret tentang manusia dan peristiwa yang akan terus bertambah seiring berjalannya waktu.
Sebuah album adalah sebuah asumsi yang tersusun di sebuah buku. Kertasnya awet. Umumnya berwarna hitam: suatu teknik untuk membuat gambar tua yang ditempel tetap terang dan halaman itu tak cepat kotor.
Album adalah sebuah asumsi bahwa suatu momen akan bersambung ke momen lain, suatu babak ke babak lain, bahwa hidup kita — dan kemampuan kita untuk menikmatinya — bisa bertahan dalam waktu. Dengan cara yang bersahaja.
Di sana ada percikan kenangan, yang agak cerai berai, tapi dalam arti tertentu tetap bersambungan. Yang terpenting di sini bukanlah nostalgia. « Read the rest of this entry »
Franz Pecas Ndahe
Agustus 14, 2007 § 17 Komentar
Malam ini, ada perhelatan di Hotel Nikko, Jakarta. Freedom Institute akan memberikan penghargaan Bakrie Award 2007 kepada sejumlah tokoh yang dianggap berjasa di bidang masing-masing.
Saya juga mendapat undangan sebetulnya, tapi sungguh sayang ndak bisa datang karena ada keperluan lain.
Franz Magnis-Suseno, tokoh yang mendapat penghargaan di bidang pemikiran sosial, juga tak datang. Ia menolak penghargaan Bakrie Award 2007.
“Saya tak mau menerima penghargaan dari perusahaan yang terlibat kasus lumpur di Sidoarjo,” katanya. “Rasa solidaritas saya muncul dengan begitu banyaknya korban.” « Read the rest of this entry »
Pramuka Pecas Ndahe
Agustus 14, 2007 § 16 Komentar
Secarik kenangan tiba-tiba mampir di hadapan saya begitu seorang penyiar radio mengirim kabar tadi pagi. Katanya, hari ini ada peringatan Hari Pramuka Nasional ke-46 dan ada perayaan segala di Taman Gajah Mada, Cibubur, Jakarta Timur. Presiden bahkan ikut hadir dan berpidato di acara keriaan praja muda karana itu.
Pramuka? Aha, sudah lama betul rasanya saya tak mendengar kata itu. Entah kapan saya terakhir mengikuti kabar tentang aktivitas organisasi berlambang tunas kelapa itu. Tapi, saya yakin Paklik Isnogud punya cerita asyik tentang dunia kepanduan di zamannya dulu. Saya jadi pengen tahu, apa komentarnya tentang pramuka.
Paklik terkekeh ketika saya datang dan memintanya bercerita soal kepanduan ketika usianya masih muda. “Sebetulnya saya malu loh, Mas. Soalnya, ternyata saya tak pernah melakukan apa-apa untuk kegiatan kepramukaan selama bertahun-tahun. Sebagai pramuka, hal ini memang cukup memalukan. Sampean tahu sebabnya?”
Saya menggeleng. « Read the rest of this entry »

