Risau Pecas Ndahe

Desember 21, 2007 § 16 Komentar

Ketika matahari menghilang dan rembulan ganti menyembul, saya kerap bertanya-tanya, bakal lebih cerahkah hari esok? Akankah hidup kita jadi lebih baik dari kemarin?

Sampai gelap menelikung badan dan hujan mengguyur peradaban, jawaban tak juga saya dapatkan.

Saya lalu berbincang dengan Paklik Isnogud tentang masa-masa yang kian sulit dan membuat pinggang kita kian lisut seperti sekarang.

Pabrik masih sunyi. Paklik tepekur di mejanya. Ia mengenakan surjan lurik biru kesukaannya. Tangannya melinting tembakau dan kertas Marsbrand. Cangkir kopi dinginnya masih separuh, seperti tak disentuh. « Read the rest of this entry »

Gairah Pecas Ndahe

Desember 17, 2007 § 32 Komentar

Dua kelir raksasa baru ditutup dan berlalu, Konferensi Perubahan Iklim di Bali dan Pesta Olahraga SEA Games 2007 di Thailand. Dan, layar gairah baru kembali dibuka Senin ini.

Apa yang bisa kita ceritakan tentang yang sudah lewat? Apa yang kita peroleh? Remah-remah? Kedongkolan? Kegembiraan? Kepahitan?

Paklik Isnogud cuma manggut-manggut ketika saya bertanya. Di mejanya terserak koran-koran dan majalah. Hm, rupanya ia baru saja melalap kabar dari mana-mana. Secangkir kopi tampak masih mengepul.

Ia lalu tersenyum, dan sebentar kemudian melinting tembakau dan kertas Marsbrand. “Tentang reriungan di Bali itu, Mas,” kata Paklik membuka percakapan, “membuat saya teringat pada juragan sampean, Mas Goen.”

“Mas Goen? Kenapa dia? Dia menulis apa, Paklik? tanya saya agak heran.

Ia baru saja membuat ulasan yang bagus — seperti biasanya — tentang bumi, lingkungan yang kian rudin, kerakusan manusia, juga kecemasan.” « Read the rest of this entry »

UNFCCC Pecas Ndahe

Desember 3, 2007 § 38 Komentar

Baiklah Tuan, mari kita bicara tentang bumi yang kian mendidih dan salju yang terus meleleh.

Tapi, tolonglah hentikan dulu kendaraan Tuan. Jangan berpacu terlalu kencang di jalanan. Kami ini cuma cecunguk paria di atas sepeda ontel tanpa asap, tanpa emisi, pasti tak kuasa mengejar Tuan.

Mari sandarkan saja sama-sama punggung kita ke pohon-pohon yang masih tersisa di atas bukit-bukit gundul. Aha, Tuan pasti tahu ke mana pokok-pokok kayu itu pergi, bukan?

Baiklah Tuan, mari kita selesaikan urusan yang tak pernah selesai ini. Tentang burung-burung yang kehilangan sarangnya di pesisir. Tentang ikan-ikan yang berkelojotan, dan akhirnya raib, dari tengah samudera.

Tapi, letakkan dulu piring Tuan. Janganlah Tuan berbicara sambil mengudap rebusan kepiting dan kerang hijau itu. Tuan bisa tersedak. Mari kita duduk sama-sama di bawah purnama yang tak pernah sempurna. « Read the rest of this entry »

Setan Pecas Ndahe

November 23, 2007 § 20 Komentar

Seandainya blog sudah mati, apalagi yang menarik dari permainan ini?

Tiada kata, tiada gambar. Tanpa dia, tanpa kita.

Ah, untungnya, dalam hidup ini ada setan. Dan, sepanjang hidup ini, kita membutuhkan setan. Kalau sedang sepi, tak ada setan, kita masih bisa mengimpornya dari gudang purbasangka atau kerisauan kita sendiri.

Kalaupun tak ada juga, kita dapat mencari musuh. Musuh memberi kita bentuk. Kebencian dan kewaspadaan memberi kita kekuatan.

Dengan cara itulah kita punya cara yang lebih gampang dalam “mengetahui” dunia: ada kawan, ada lawan, ada sana, ada sini.

Tapi, apakah sebetulnya dunia itu? « Read the rest of this entry »

R.I.P Pecas Ndahe

November 22, 2007 § 36 Komentar

The blog is dead. Seseorang mengeluh dengan lirih. Saya tahu, ia seolah hendak melawan, tapi tertahan. Ia kalah, tapi tidak takluk.

The blog is dead … long time ago. Air matanya tertahan di sudut. Bibirnya terkatup rapat. Saya tahu, ia gundah. Tapi, mungkin agak sedikit lega. Akhirnya ia bisa bebas, lepas dari sekat-sekat yang begitu lama membelenggu.

The blog is dead, but not the ideas. Ah, ia sudah bisa tersenyum. Saya lihat matanya menyala-nyala. Ada saga di sana.

Sebab memang, ketika pedang ditanggalkan, dan ilmu tertinggi adalah kekosongan — seperti halnya Bukek Siansu yang bahkan tak berbaju dan tak bersandal — apa lagi yang bisa mengalahkan seseorang selain dirinya sendiri? « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Pitutur category at Ndoro Kakung.