Belahan Pecas Ndahe
Agustus 31, 2007 § 33 Komentar
Seseorang tiba-tiba mengirimkan pesan pendek alias sandek (SMS) ke saya. Ia bertanya begini. “Ndoro, belahan jiwa itu apa sih? Sampeyan percaya nggak setiap orang punya belahan jiwa?”
Halah. Sopo iki? Saya kaget karena tak mengenali nomor telepon si pengirim SMS. Tapi, demi sopan santun [dan basa-basi], saya pun mengirimkan SMS balik.
“Maaf, ini siapa ya? Saya kok ndak kenal nomornya? Kenapa sampean tiba-tiba bertanya soal belahan jiwa?”
Dalam beberapa detik datang SMS balasan. “Saya pembaca setia blog sampeyan, Ndoro. Nggak usah curiga dan khawatir. Saya bertanya karena sampeyan menulis tentang belahan jiwa di blog, tentang cerita Diajeng itu loh.”
Oalah … Saya baru ngeh. Tapi, tetap saja saya penasaran pada si pengirim SMS itu. Siapa dia sebenarnya? Mengapa dia mendadak bertanya tentang belahan jiwa? Apa dikiranya saya ini tukang jual belahan? « Read the rest of this entry »
Brondong Pecas Ndahe
Agustus 28, 2007 § 34 Komentar
Kali ini saya mau mengajak sampean berbicara tentang brondong. Hohoho … bukan cemilan dari jagung itu, Ki Sanak. Ini tentang pria-pria muda yang mencari [atau sudah punya pasangan] perempuan yang lebih tua itu.
Kenapa brondong? Karena laki-laki usia 20-an itu ‘napsuan’. Beda banget dengan pria-pria di atas 30-an yang lebih matang dan tahu apa yang diinginkan.
“Kalau lelaki twenty something itu berhubungan dengan perempuan thirty something – yang lebih matang dan tahu apa yang dirinya mau – si perempuan jadi merasa ‘capek deh’.”
Itu bukan kata-kata saya lo, Ki Sanak. Itu komentar teman saya, perempuan kemayu tapi baik hati itu. Demi keamanan bersama, nama dan link blognya ndak saya tulis di sini, kecuali dia berubah pikiran, hehehe … « Read the rest of this entry »
Pohon Pecas Ndahe
Agustus 24, 2007 § 20 Komentar
Sebatang pohon bisa bercerita tentang banyak perkara: seks, kemasyhuran, uang, juga kekuasaan. Saya beroleh kisah ini setelah melihat kiriman foto-foto dari kawan lama saya, Mas Gandrik.
Adalah Paklik Isnogud yang bercerita tentang pohon itu. Seperti biasa, menjelang salat Jumat, sebagai bekal menghadapi siraman rohani dari khatib di masjid nanti, saya memang sering meminta Paklik bertutur tentang hidup dan lain-lain.
“Kalau sampean mau belajar tentang hidup, dengarlah dongeng tentang kalpataru, Mas,” kata Paklik memulai ceritanya.
“Kalpataru? Kenapa, Paklik?” « Read the rest of this entry »
Gogon Pecas Ndahe
Agustus 23, 2007 § 22 Komentar
Sampean tahu Margono alias Gogon kan? Iya, Gogon yang pelawak anggota Srimulat itu. Nah, pelawak yang punya ciri khas jambul di ujung kepalanya itu ditangkap polisi pada Rabu dini hari lalu di rumahnya di Tangerang karena sering ngisep sabu-sabu.
Saya cuma bisa geleng-geleng kepala membaca berita itu. Apalagi setelah tahu pengakuan Gogon bahwa ia bisa terjerat barang laknat itu gara-gara pergaulan di kalangan artis [tuh … kan, makanya saya ndak mau jadi artis, hehehe …].
Dunia artis, dunia yang gemerlap, memang sering disebut-sebut dekat dengan dunia kenikmatan sesaat yang bisa membawa celaka. Gogon bukan yang pertama. Beberapa rekannya sesama pelawak, seperti Polo, Doyok, dan Derry, juga artis lain seperti Roy Marten, sudah lebih dulu masuk hotel prodeo karena tersandung kasus yang sama: narkoba.
Mengapa mereka sampai bisa terjerat narkoba? « Read the rest of this entry »
Pramuka Pecas Ndahe
Agustus 14, 2007 § 16 Komentar
Secarik kenangan tiba-tiba mampir di hadapan saya begitu seorang penyiar radio mengirim kabar tadi pagi. Katanya, hari ini ada peringatan Hari Pramuka Nasional ke-46 dan ada perayaan segala di Taman Gajah Mada, Cibubur, Jakarta Timur. Presiden bahkan ikut hadir dan berpidato di acara keriaan praja muda karana itu.
Pramuka? Aha, sudah lama betul rasanya saya tak mendengar kata itu. Entah kapan saya terakhir mengikuti kabar tentang aktivitas organisasi berlambang tunas kelapa itu. Tapi, saya yakin Paklik Isnogud punya cerita asyik tentang dunia kepanduan di zamannya dulu. Saya jadi pengen tahu, apa komentarnya tentang pramuka.
Paklik terkekeh ketika saya datang dan memintanya bercerita soal kepanduan ketika usianya masih muda. “Sebetulnya saya malu loh, Mas. Soalnya, ternyata saya tak pernah melakukan apa-apa untuk kegiatan kepramukaan selama bertahun-tahun. Sebagai pramuka, hal ini memang cukup memalukan. Sampean tahu sebabnya?”
Saya menggeleng. « Read the rest of this entry »

