Pohon Pecas Ndahe

Agustus 24, 2007 § 20 Komentar

Sebatang pohon bisa bercerita tentang banyak perkara: seks, kemasyhuran, uang, juga kekuasaan. Saya beroleh kisah ini setelah melihat kiriman foto-foto dari kawan lama saya, Mas Gandrik.

Adalah Paklik Isnogud yang bercerita tentang pohon itu. Seperti biasa, menjelang salat Jumat, sebagai bekal menghadapi siraman rohani dari khatib di masjid nanti, saya memang sering meminta Paklik bertutur tentang hidup dan lain-lain.

“Kalau sampean mau belajar tentang hidup, dengarlah dongeng tentang kalpataru, Mas,” kata Paklik memulai ceritanya.

“Kalpataru? Kenapa, Paklik?”

“Dongeng tentang kalpataru adalah dongeng tentang keserakahan. Juga tentang frustrasi. Kisah itu datang dari India. Sebagaimana dikisahkan kembali oleh seorang penulis India terkemuka, P. Lal, cerita ini dimulai di sebuah dusun.

Di sebuah dusun, seorang paman yang baik hati tiba. Ia melihat kemanakannya juga teman-teman mereka, berkerumuk di sebuah dangau jerami, bermain dengan mainan dari gombal yang lusuh.

Sang paman bertanya, ‘Kenapa bermain dengan itu? Di luar ada kalpataru, pohon yang akan mengabulkan keinginanmu. Berdirilah di bawahnya, dan ucapkanlah keinginanmu. Ia akan memenuhinya.’

Anak-anak itu mula-mula tak percaya. Tapi ketika paman itu pergi, mereka bergegas berlari ke luar. Mereka ingin mencoba. Berdiri dengan khidmat di bawah kalpataru di luar gubuk itu, mereka lalu mengucapkan keinginan mereka, satu demi satu.

Ternyata, benar. Manisan yang mereka minta tiba-tiba muncul melimpah. Mainan yang mereka dambakan dengan segera berdatangan.

Maka, mereka pun minta dan minta lagi, minta dan minta lagi. Sampai akhirnya, yang tak mereka bayangkan semula — yang tak pernah mereka bayangkan dari tanah kering lantai pondok mereka — terjadi. Manisan itu membuat mereka sakit perut. Mainan itu membuat mereka bosan. Dalam cerita Lal, anak-anak itu kemudian jadi besar. Tapi tak jelas adakah mereka dewasa.

Mereka sebenarnya bocah-bocah yang bongsor, semua terjebak dan ribut menuntut di bawah Pohon Pemenuh Hasrat, tulis Lal. Tapi kini yang mereka kehendaki bukan lagi manisan dan mainan barang sepele yang kekanak-kanakan melainkan Seks, Kemasyhuran, Uang, dan Kekuasaan, empat butir buah yang bergayut di pohon itu.

Di situ, memang, tak ada buah yang lain. Hanya yang empat jenis itu saja.

Dan seperti halnya keinginan mereka waktu kanak-kanak, kini pun Seks, Kemasyhuran, Uang, dan Kekuasaan akhirnya menyebabkan mereka sakit dan jemu. Tiap kali orang baru datang, tiap kali itulah yang terjadi.

Kalpataru terus saja dengan polanya: rasa kenyang menimbulkan kekecewaan. Hasrat yang selesai menimbulkan hasrat baru dan itu berarti frustrasi baru. Di dalam kedermawanan pohon itu, ada sebuah tragedi.”

Saya termangu mendengar kalimat terakhir Paklik. Saya lalu mencium tangannya dan pamit berangkat ke masjid.

Iklan

§ 20 Responses to Pohon Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pohon Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: