Babad Pecas Ndahe

Agustus 9, 2007 § 26 Komentar

Apa beda antara sejarah dan babad? Bagaimana dengan dongeng dan mitos?

Paklik Isnogud manggut-manggut, serius, mendengar pertanyaan saya. Sebelum menjawab, ia menyesap sedikit kopi di cangkir, lalu melinting tembakau Marsbrand.

“Tentang sejarah, saya ingat kakek saya, Mas,” kata Paklik. “Kakek pernah bercerita bahwa Nabi Adam sebenarnya turun di Pulau Jawa. Lihatlah bagaimana silsilah yang tercantum dalam Babad Tanah Jawi, kata kakek.”

“Bagaimana silsilah dalam Babad itu, Paklik?”

“Dalam babad itu, disebutkan bahwa Nabi Adam punya anak bernama Sis. Sis ini beranak cucu hingga akhirnya lahir Batara Guru. Batara Guru beranak 5, di antaranya Batara Wisnu. Nah, di pulau Jawa ini Batara Wisnu jadi raja, bergelar Prabu Set … « Read the rest of this entry »

Sejarah Pecas Ndahe

Agustus 8, 2007 § 14 Komentar

Kontroversi tentang penemuan rekaman video lagu kebangsaan Indonesia Raya 3 stanza, pernyataan Roy Suryo yang mengklaim telah menemukannya dan menganggapnya penting karena ia ndak tahu persis sejarah lagu itu, dan semua bru-ha-ha lainnya, menyadarkan saya tentang betapa pentingnya sejarah.

Mengapa sejarah penting? Bagaimana pula cara menulis sejarah supaya tak bercampur aduk dengan mitos dan dongeng?

Saya ndak tahu. Untunglah saya punya telaga yang tenang, samudera kebajikan dan kearifan, seorang Paklik Isnogud. Kepadanyalah saya kemudian banyak bertanya tentang sejarah. Apa kata Paklik Isnogud?

Mohon maaf, kelanjutannya ditunda besok …. 😀

Roy Pecas Ndahe

Agustus 8, 2007 § 35 Komentar

Surat Terbuka untuk Roy Suryo

Roy,

Pertama-tama izinkan saya meminta maaf kepada sampean atas semua posting yang saya buat dengan memanfaatkan nama sampean, tanpa minta izin pula, seenak saya sendiri. Padahal, justru berkat nama besar sampean, saya telah mendapatkan banyak keuntungan.

Saya telah memanfaatkan nama sampean yang memang empuk sebagai sasaran kecaman itu dengan semena-mena. Saya meminjam ketenaran sampean demi popularitas saya sendiri. Saya menjadi pendompleng yang tak tahu diri.

Terus terang saya ndak punya masalah pribadi dengan sampean. Begitu pula sebaliknya saya kira. Tapi, lihat betapa jahatnya saya yang sudah memanipulasi sampean. Saya pura-pura menawarkan senyum yang tulus ketika pada saat yang sama hati dan pikiran saya sebenarnya penuh muslihat. Padahal sampean ndak pernah melakukan hal yang sama kepada saya.

Saya jadi merasa kotor, seperti Durna, Yudas, dan para pengecut yang suka menikam dari belakang itu. Betapa tak adilnya saya. Betapa kekanak-kanakannya saya. Padahal apa salah sampean pada saya? Ndak ada sama sekali. Kesalahan sampean cuma satu: sampean sangat kondang, lebih tenar dari saya. Itu saja. « Read the rest of this entry »

Kuldesak Pecas Ndahe

Agustus 3, 2007 § 19 Komentar

Satu-satunya yang lebih sulit dari menulis adalah mulai menulis.

Saya tahu Ki Sanak karena saya juga sering mengalaminya. Tiba-tiba kita merasa ndak tahu mau nulis apa. Mendadak di depan kita hanya ada selembar kertas putih atau layar monitor yang kosong, tanpa satu kata apa pun.

Saya paham betul masalah sampean. Saya juga sering mengalaminya. Mati ide, gaya, dan kata-kata. Rasanya seperti bertemu kuldesak, jalan buntu, dan ndak tahu mau ngapain.

Untuk sebagian orang, menulis memang lebih sulit dari apa pun. Sampean mungkin lebih jago masak, mengganti kran air yang rusak, memperbaiki sepeda anak-anak, menambal ban kempes.

Tapi, menulis? Halah. Tobat … tobat … « Read the rest of this entry »

Keajaiban Pecas Ndahe

Agustus 2, 2007 § 18 Komentar

Carpe diem. Seize the day.

Seseorang pernah berkata begini, “Menulislah hari ini. Lalu diamlah sejenak dan saksikan keajaiban yang terjadi.”

Ah, saya ingat. Orang itu Henriette Anne Klauser, penulis buku Writing on Both Sides of the Brain.

Semula saya nyaris tak percaya pada kata-kata itu. Soalnya, bagaimana saya bisa percaya kalau mau mulai menulis saja sudah males duluan? Boro-boro dapat keajaiban. Halah, itu namanya hil-hil yang mustahal.

Sampean mungkin juga pernah mengalami saat-saat seperti itu ketika dulu hendak memulai membuat blog dan mengisinya.

“Blog? Menulis? Binatang apa itu?” Barangkali begitu pikiran sampean dulu.

Tapi, coba lihat sekarang. Sudah berapa banyak blog sampean? Berapa kali dalam seminggu sampean mengisinya? Sudah berapa posting yang sampean bikin? Ternyata ndak susah kan mengelola blog itu? « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Pitutur category at Ndoro Kakung.