Kuldesak Pecas Ndahe

Agustus 3, 2007 § 19 Komentar

Satu-satunya yang lebih sulit dari menulis adalah mulai menulis.

Saya tahu Ki Sanak karena saya juga sering mengalaminya. Tiba-tiba kita merasa ndak tahu mau nulis apa. Mendadak di depan kita hanya ada selembar kertas putih atau layar monitor yang kosong, tanpa satu kata apa pun.

Saya paham betul masalah sampean. Saya juga sering mengalaminya. Mati ide, gaya, dan kata-kata. Rasanya seperti bertemu kuldesak, jalan buntu, dan ndak tahu mau ngapain.

Untuk sebagian orang, menulis memang lebih sulit dari apa pun. Sampean mungkin lebih jago masak, mengganti kran air yang rusak, memperbaiki sepeda anak-anak, menambal ban kempes.

Tapi, menulis? Halah. Tobat … tobat …

Padahal menulis itu sebenarnya hanya masalah bagaimana memulainya saja. Ini tentang kebiasaan. Begitu sampean sudah melewati tahap “mulai”, proses selanjutnya ibarat melaju di jalan tol.

Karena itu, beberapa penulis kawakan menetapkan waktu tertentu untuk menulis dan memilih waktu di pagi hari untuk mulai menulis. Kenapa? Pikiran, ide, imajinasi, biasanya lebih terang pada saat itu.

Memang ndak ada resep jitu untuk menulis secara produktif. Ada begitu banyak teori. Dan, tiap orang punya gaya dan cara masing-masing, sesuai karakter, kebiasaan, dan sebagainya. Gaya saya mungkin ndak pas buat sampean, begitu juga sebaliknya.

Sampean mungkin lebih cocok menulis di malam hari, ketika suasana sudah sepi, sehingga bebas berimajinasi. Atau barangkali sampean lebih suka menulis sambil nongkrong di kafe dan menyantap makan siang.

Temukan kebiasaan sampean sendiri, pilihlah gaya yang sampean anggap cocok. Selanjutnya biarkanlah imajinasi sampean yang bergerak liar. Imajinasi itu akan melayang ringan begitu sampean sedang menulis.

Yang penting, sampean jangan sampai merasa kalah duluan, menganggap menulis itu sulit. Menulis itu gampang kok, seandainya sampean tahu bagaimana menyiasatinya. Soal bagus dan tidak, itu urusan nanti. Yang penting menulislah.

“Masalahnya, apa yang mau ditulis, Ndoro?” Mungkin begitu sampean bertanya.

Wah, banyak …. Ada ribuan persoalan, kejadian, pemandangan, perasaan, dan sebagainya, yang bisa menjadi bahan tulisan, Ki Sanak. Dalam hidup ini, semua hal bisa ditulis. Apa pun yang sampean lihat, rasakan, dan dengar, bisa jadi bahan tulisan.

Misalnya begini. Suatu pagi sampean bangun ketika hujan turun bak dicurahkan dari langit. Kebetulan, motor atau mobil sampean kok ya mendadak mogok. Atau kempes bannya. Padahal sampean harus buru-buru ke kantor karena ada rapat dengan bos.

Sampean terpaksa naik angkot ke kantor dengan celana panjang digulung supaya tak basah. Ibu-ibu terpaksa pergi ke pasar dengan risiko kaki menginjak tanah becek. Mana payungnya jebol pula. Sudah begitu, anak-anak pun rewel dan mendadak mogok ndak mau berangkat ke sekolah.

Situasi yang serba mendadak, tanpa peringatan, dan persiapan itu tentu saja bisa jadi bahan tulisan menarik. Ceritakanlah saja bagaimana repotnya rumah sampean kalau hujan datang di pagi hari. Gambarkan kekesalan hati sampean.

Coba sampean pancing pembaca agar ikut merasakan betapa kisruhnya rumah sampean gara-gara hujan. Perhatian mereka boleh jadi akan berbuah komentar dan simpati … err naiknya traffic dan statistik blog, hehehe …

Bagaimana menurut sampean, Ki Sanak?

Iklan

§ 19 Responses to Kuldesak Pecas Ndahe

  • mbakDos berkata:

    seperti saya sekarang ini…
    mau ngasih komen juga bingung lho, ndoro.
    wong jujur, dikira nggombali panjenengan πŸ˜€

    lah sampean kan memang gombalan dari kumpulan yang terbuang? πŸ˜›

  • mbahatemo berkata:

    habis ini ‘pitutur/piwulang komentar’ lho ya..
    biar kendhang ketemu kimpule.. πŸ˜€

    wakakak … lucu tenan ki πŸ˜€

  • ayamjagobanget berkata:

    lha biasane nulis email njelaske pemilihan vendor ae angel kok yaaaa
    palingan mung “si A kepilih karena marketingnya kece” ngono tok

    kenapa sampean sesekali ndak mencoba sesuatu yang lain dari biasanya, kang?

  • Herman Saksono berkata:

    Atau bikin rubrik konsultasi aja πŸ˜›

    weee … emoh ah. πŸ˜›

  • pitik berkata:

    setuju dengan komentar herman, buka rubrik konsultasi,siapa tahu lebih terkenal dari rubrik konsultasinya dr Boyke..kan traffic makin jos to ndoro..

    wah, nanti aku dikira mau nyaingin dokter monica-nya momon … πŸ˜›

  • yati berkata:

    hohoho….gitu ya caranya biar banyak pengunjung? :p emang kalo banyak pengunjung, trus napa ndoro?

    ndak kenapa-kenapa kok, yat. suwer … hiiiii .. takut … πŸ˜€

  • Dilla berkata:

    Ndoro, nulis emang ga sulit. Tapi membuat tulisan yang menarik itu yang sulit. Gimana, Ndoro?

  • kw berkata:

    idem dilla. tulisan yang menarik itu seperti gimana? dan adakah cara instan untuk bisa nulis sekeren GM, shindunata atau ndoro kakung?

    mau ikutan kelas menulis mahal soale. πŸ™‚

    thx

  • Mr. Strategy berkata:

    Bicara soal tulis menulis, mesti harus segera dikatakan bahwa Anda merupakan salah satu penulis blog terbaik di negeri ini.

    Penulis lain yang menjadi favorit saya adalah — tentu saja — Goenawan Mohamad. Juga Nirwan Dewanto. Dan Bre Redana. Lalu Leila S. Chudori. Romo Sindhunata (paling menggetarkan ketika menulis tentang Sepak Bola). Juga mendiang PK Ojong (duh, betapa indahnya tulisan/buku dia tentang Perang Eropa).

    Namun sayang, kini rasanya tidak banyak jurnalis yang dapat menulis dengan hebat. Para wartawan era tahun 50-an mungkin rata-rata lebih kapabel dibanding wartawan era sekarang…..

    Ndoro, sampaikan juga sama sesama rekan sampean yang jadi kuli warta, agar bisa menulis berita investigasi yang berkaliber tinggi. Amat memilukan, bahwa tidak pernah ada lagi tulisan investigasi hebat di negeri ini, semenjak Mocthar Lubis melakukannya dengan brilian dengan koran Indonesia Raya ketika membongkar korupsi di Pertamina. Dan itu berarti sudah lebih dari 30-an tahun lalu. Duh !

    Kepripun niki, Ndoro….

  • Hedi berkata:

    Tapi katanya kalo mau (bisa) menulis juga harus gemar membaca. Artinya, kita punya modal kosa kata, meski gaya menulis kita nantinya juga ga serius-serius banget.

  • pOe berkata:

    wah…jadi terdorong untuk nulis lagheee…
    thx ndorooo! ^_^

  • peyek berkata:

    habis baca ini terinspirasi jadi nulis tentang njenengan ndoro
    “warisan bendorone poro batur”

  • Titis Sinatrya berkata:

    Menulis bisa menjadikan semakin cerdas, Seperti Ndoro Kakung kita ini …..

  • venus berkata:

    kalo ndoro mau ngajari saya nulis, wah seneng banget saya, ndoro :p

  • shinta berkata:

    hai pak wicak,
    hihi saya manusia on training di tempo nih..

  • shinta berkata:

    sedang writer’s block ni sebenarnya

  • upikabu berkata:

    miss you ndoro..so long yach gak ketemu,cuma mbaca postinganmu dari negeri Mao Zedong sana, untung gak pake domain blog jadinya bisa lolos dari block nya mereka. I bring you sumtin from Beijing, please meet me at tuesday night at usual place and usual time yach.. c u there..

  • dnial berkata:

    Kalau saya menulis saat sumpek ngerjain TA.
    Kalau sumpek malah mikir yang aneh2, daripada mbulet ae, ditulis di blog.

  • dee berkata:

    sudah 2 tahun saya meninggalkan kata ‘mulai’ untuk tesis saya.
    dulu karena hamil, lalu melahirkan, lalu melihatnya tumbuh,
    sekarang saya dikejar deadline, bukannya ‘mulai’ malah blogwalking, hiks..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kuldesak Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: