Sugih Pecas Ndahe
Oktober 18, 2007 § 24 Komentar
Ini berita baru, tapi saya tak terkejut. Hasil survei Merrill Lynch dan Capgemini menunjukkan bahwa jumlah orang kaya di Indonesia naik 16,2 persen pada 2006, menjadi 20 ribu orang — nomor tiga di Asia-Pasifik.
Yang dimaksud orang kaya itu, menurut Merrill Lynch dan Capgemini, adalah orang dengan kekayaan lebih dari US$ 1 juta (sekitar Rp 9,2 miliar) dalam bentuk aset finansial, seperti uang tunai, ekuitas, dan surat berharga.
Hasil survei berjudul Asia-Pacific Wealth 2007 itu diumumkan di Hong Kong, Selasa lalu. Survei tersebut merupakan bagian dari Survei Kemakmuran Dunia 2007 yang diumumkan pada Juni 2007.
Kenapa saya ndak kaget? Pertama-tama tentu saja karena saya [untunglah] ndak masuk dalam kategori wong sugih seperti yang dimaksud dua lembaga keuangan internasional itu.
Kedua, jumlah 20 ribu terlalu moderat. Menurut saya, jumlah wong sugih di Indonesia itu sesungguhnya jauh lebih besar. Maklum, banyak orang yang pinter menyembunyikan kekayaannya. Terus, bagaimana ngitungnya? « Read the rest of this entry »
Boros Pecas Ndahe
Oktober 16, 2007 § 17 Komentar
Lebaran ternyata membuat hidup kita semakin boros — paling tidak barang sejenak. Ndak percaya?
Mari kita lihat. Kapan sampean beli sekaleng biskuit Khong Guan kalau bukan menjelang Lebaran? Kapan sampean terakhir beli baju koko bila bukan mau salat Ied? Kapan sampean memborong berbotol-botol sirop kalau bukan saat Lebaran mau datang?
Sejak kapan sampean rela mengeluarkan uang [mungkin] dua kali lipat untuk mengganti karcis bus/kereta/pesawat? Ndak setiap hari kan sampean beli oleh-oleh buat sanak kadang di kampung?
Pada hari-hari biasa, sampean tentu ogah beli sekaleng biskuit, botol sirop, atau sekotak mie instan. Hari-hari sebelumnya mana mau sampean belanja kue lidah kucing dan kastengel. Beli tiket mahal? Ah, lebih baik adu mulut dengan kernet bus.
Itu belum seberapa, Ki Sanak. Sampean kan masih beli parsel untuk rekanan bisnis; ngasih uang saku buat pembantu yang mau mudik, tukang sampah langganan, satpam di kompleks; sedekah/zakat fitrah; dan sebagainya.
Apa artinya? Peningkatan belanja. Uang keluar yang lebih banyak. Boros. « Read the rest of this entry »
Aidit Pecas Ndahe
Oktober 1, 2007 § 51 Komentar
Siapakah Dipa Nusantara Aidit (D.N. Aidit) sebenarnya? Seorang panutan atau cuma si brengsek di sebelah rumah?
Bacalah buku-buku sejarah atau tontonlah film G30S/PKI yang legendaris itu. Dijamin sampean ndak akan mendapat kesimpulan yang tunggal.
Aidit, seperti halnya tokoh-tokoh nasional tempo doeloe, adalah sosok yang menggetarkan. Dalam usia 31 tahun, ia mengambil kursi kepemimpinan PKI — salah satu dari empat partai terbesar di Indonesia waktu itu. Tapi, hari ini, 42 tahun yang lalu, namanya berubah 180 derajat. Dia dituduh sebagai dalang tunggal Gerakan 30 September.
Hari ini, saya ingin mengajak sampean melakukan sebuah tamasya sejarah lima menit untuk mengenal Aidit. Sekilas saja. « Read the rest of this entry »
Makian Pecas Ndahe
September 26, 2007 § 74 Komentar
Kangen Band yang ngetop dengan lagu Selingkuh itu rupanya menuai kontroversi. Selain lagunya digemari dan laris terjual sekitar 500 ribu kopi, Kangen Band tak luput dicaci-maki. Sebuah kelompok rap bahkan telah mengedarkan lagu dengan lirik sepedas cabe rawit.
Saya tahu kabar itu dari Anto dan kemudian menemukan berita di KCM tentang beredarnya lagu berisi sumpah serapah itu. Saya jadi heran, kenapa sampai begini? « Read the rest of this entry »
Kenikmatan Pecas Ndahe
September 25, 2007 § 15 Komentar
Setiap kali berpuasa, godaan itu terlihat semakin menawan. Es kelapa muda. Es blewah. Es jeruk. Es cendol. Baso urat. Soto ceker. Sate & sop kambing Casmadi. Halah.
Sampean mungkin bisa menyebutkan lebih banyak lagi daftar makanan dan minuman yang paling mengundang selera di bulan puasa ini.
Tapi, bayangkan ketika malam hari. Apa sampean ya masih pengen menjejali perut dengan aneka makanan itu? Apa sampean masih kebelet menenggak soda dingin dan teman-temannya itu? Rasanya kok tidak, kecuali sampean memang punya perut berisi tujuh kere lapar.
Begitu tanda waktu buka puasa tiba, seseruput teh manis dan secuil kurma manis rasanya sudah melebih segalanya. Kita seolah mendapatkan kenikmatan yang tiada banding.
Dari mana sebetulnya kenikmatan itu datang, Ki Sanak? « Read the rest of this entry »

