Masturbasi Pecas Ndahe

September 24, 2007 § 35 Komentar

Ini pertanyaan yang sering diajukan remaja-remaja pria pada guru ngajinya di bulan puasa: Apakah masturbasi itu dosa? Apakah kegiatan itu membatalkan puasa?

Hahaha … Terus terang saya jadi mesam-mesem sendiri bila kebetulan ikut mendengar pertanyaan itu. Jadi ingat waktu saya bau kencur dulu — bertahun yang lalu. Hehehe … « Read the rest of this entry »

Hamburger Pecas Ndahe

September 19, 2007 § 31 Komentar

Para buruh pabrik, teman-teman saya itu, sering nggaya bila sedang berpuasa. Begitu tanda waktu Magrib tinggal sejam lagi, biasanya mereka langsung sibuk kasak-kusuk merancang dan mencari tempat ngabuburit.

Ada banyak pilihan, dan karena itu ada banyak kebingungan. Maklum, pabrik saya memang berada di kawasan yang dikelilingi para pedagang makanan yang beragam dan memang uenak-uenak.

Masalahnya, selera orang bisa beda-beda. Tiap orang pun datang dengan satu usulan. Ada yang usul buka puasa dengan soto ceker ayamlah, soto Betawilah, soto kikilah, sop kambinglah, dan sebagainya.

Kebetulan, kemarin sore ada sekelompok buruh yang memilih hamburger sebagai menu buka puasa. Paklik Isnogud langsung ngakak begitu mendengar rencana itu. Saya sampai harus menginjak kakinya supaya Paklik ndak terlalu terlihat sinis. « Read the rest of this entry »

Ledekan Pecas Ndahe

September 13, 2007 § 26 Komentar

Rabu kemarin ada tiga peristiwa internasional yang seolah-olah meledek kita. Anehnya, ndak ada yang merasa diledek, apalagi malu. Yang terjadi malah ironi yang bikin mangkel hati. Coba saja lihat berita ini:

Di Jepang, Perdana Menteri Shinzo Abe mengundurkan diri setelah partainya kalah dan popularitasnya turun.

Di Indonesia? Boro-boro mengundurkan diri, lah wong para tokoh yang jelas-jelas bikin salah dan ndak pernah populer malah jadi pejabat terus tuh.

Di Filipina, bekas presiden Joseph Estrada divonis penjara seumur hidup karena terbukti melakukan tindak kejahatan korupsi. « Read the rest of this entry »

Tarawih Pecas Ndahe

September 12, 2007 § 32 Komentar

Maksud hati berangkat salat tarawih di masjid, apa daya senyum Paklik Isnogud membuat langkah saya terhenti di gerbang pabrik.

Buru-buru saya mendekati Paklik dan bertanya, “Kenapa sampean malah mesam-mesem? Ngece? Ngeledek ya?”

Masih dengan senyumnya yang bikin hati saya mangkel, Paklik menjawab, “Ora Mas, ora. Saya ndak meledek sampean. Saya cuma heran, kok sampean tumben malam-malam sudah pakai sarung dan bawa sajadah segala. Mau ke masjid?”

“Lah iya pasti ke masjid, Paklik. Mosok mau ke bengkel.”

Paklik ngakak. “Wah, nesu ki … nesu … “

“Ndak nesu kok, Paklik. Tapi, jengkel.” « Read the rest of this entry »

Pengkhianat Pecas Ndahe

September 7, 2007 § 26 Komentar

Setiap perjuangan selalu melahirkan sejumlah pengkhianat dan para penjilat. Jangan kau gusar, Hadi. — Taufik Ismail (1966)

Saya ingat, Paklik Isnogud membacakan sajak itu ketika hari-hari itu para penjilat, para pengkhianat, berseliweran di luar. Mereka bukan lagi menjadi bagian dari kami. Mereka sudah di luar pagar. Tapi, gonggongannya masih kerap membuat bising telinga kami yang memang belum tuli.

Hari-hari ini, saya ingat lagi sajak itu. Ketika para pengkhianat kembali mencabik-cabik kepercayaan. Ketika para penjilat makin berani menadah ludah orang lain.

Ah, untunglah, kami selalu ingat pesan Taufik Ismail. Jangan kau gusar, Hadi …

:: untuk M dan teman-teman ::
[7 September 2004]

PS: Menurut sampean, para penjilat dan pengkhianat itu sebaiknya diapain, Ki Sanak?

Where Am I?

You are currently browsing the Piwulang category at Ndoro Kakung.