Telanjang Pecas Ndahe
Juli 4, 2008 § 50 Komentar
Bulyan Royan mungkin adalah contoh paling telanjang tentang betapa rakusnya wakil rakyat kita yang terhormat. Ia ditangkap Komisi Pemberantas Korupsi di Plaza Senayan yang mentereng itu dengan barang bukti di tangan: uang suap senilai Rp 684 juta.
Tentu saja Bulyan belum tentu bersalah sampai pengadilan memutuskannya kelak. Namun, yang jelas, dia bukan satu-satunya tokoh politik pilihan rakyat yang tersandung kasus uang sogokan. Sebelumnya, beberapa anggota Dewan yang lain juga telah masuk bui gara-gara uang haram, seperti Al Amin Nasution, Hamka Yamdu, dan Antony Zeidra Abidin. Yang lain bisa jadi akan segera menyusul.
Mengapa anggota DPR tak kapok-kapok dan masih saja menerima suap? Kenapa mereka tak jeri pada pemberantasan korupsi? Adakah ini soal keserakahan manusia semata?
Pada malam yang lengas, saya menanyakan soal itu kepada Paklik Isnogud yang tengah melamun di atas lincak, kursi bambu lapuk di rumahnya. Apa jawaban Paklik? « Read the rest of this entry »
Takdir Pecas Ndahe
Mei 23, 2008 § 35 Komentar
Apakah takdir itu sebenarnya? Siapa yang punya?
Ketika tendangan penalti John Terry melebar ke samping gawang Manchester United dan Chelsea gagal merebut piala juara Liga Champions, apakah itu yang disebut takdir?
Rumput lapangan Stadion Luzhiniki memang basah setelah diguyur hujan, tapi dari 14 eksekutor penalti, hanya Terry yang terpeleset. Apakah ini takdir?
Ronaldo memang berhasil menyundul bola masuk ke gawang Petr Cech, tapi mengapa ia juga gagal mengeksekusi penalti? Apakah ini juga takdir?
Saya ndak tahu. Begitu juga saya ndak mengerti siapa saja sebetulnya pemilik takdir.
Apakah ini juga takdir, ketika si Fulan, lulusan universitas negeri ternama dengan indeks prestasi 4, tapi belum juga mendapat pekerjaan setelah lulus dua tahun lalu. Apakah si Fulan tak bisa punya takdir? « Read the rest of this entry »
Jalan Pecas Ndahe
Mei 22, 2008 § 28 Komentar
Kepada siapakah kita bertanya ketika jalan di depan tiba-tiba bercabang? Kepada siapakah kita bertanya saat jalan ke kiri dan ke kanan ternyata sama-sama tak kita tahu kebagusan atau keberengsekannya?
“Carilah jawabnya pada telaga yang teduh dalam diri sampean, Mas. Hati nurani. Sebab, manusia toh selalu dihadapkan pada dilema pilihan,” kata Paklik Isnogud dengan suaranya yang melodius itu. “Dan kita tak pernah tahu jalan pilihan yang paling cocok sebelum melewatinya.”
Saya terpana mendengar pitutur Paklik itu. Malam semakin tua. Di atas langit, awan mengiris sedikit wajah rembulan. Hening yang panjang mewarnai pertemuan kami malam itu.
Saya tahu, bahkan Paklik pun tak punya jawaban pasti ketika saya bertanya. Tapi, pernahkah dia punya kepastian, sesuatu yang selalu final?
Seperti biasa, setiap kali saya menghadapi dilema dan bertanya kepadanya, Paklik selalu meminta saya memikirkannya sendiri. Ia hanya menyodorkan perlambang-perlambang yang mesti ditafsir ulang. « Read the rest of this entry »
Samurai Pecas Ndahe
Mei 8, 2008 § 31 Komentar
Kapitalisme memang selalu melambai-lambai. Terserah kalian, mau jadi samurai atau manusia dengan jiwa yang mudah dibeli.
>> Saripati kuliah umum sore hari — setelah beberapa kawan pergi. Pengajar: GM.
Ghulam Pecas Ndahe
April 19, 2008 § 25 Komentar
Sesuai janji saya kemarin, hari ini posting tentang Ahmadiyah dilanjutkan kembali. Bahan posting ini diambil dari salah satu tumpukan dokumen di pabrik saya.
Moga-moga, dengan semakin banyak bacaan mengenai Ahmadiyah, pengetahuan sampean bakal bertambah. Sampean juga akan lebih memahami sosok kelompok yang hari-hari ini menghadapi situasi yang ternyata tak pernah berubah dari dulu.
Ada kemungkinan, posting ini juga akan berlanjut. Besok, lusa, atau entah kapan. Tergantung situasi, juga kemampuan saya mencari bahan.
Selamat membaca, dan jangan kaget kalau posting ini juga akan sangat panjang. « Read the rest of this entry »