Bungkam Pecas Ndahe

Februari 5, 2008 § 33 Komentar

Kenapa kita bungkam? Mengapa kita menutup dialog? Bukankah sebagai manusia –yang begitu beragam — kita butuh berbicara satu sama lain?

Pernah ada yang mengatakan di balik setiap media, apapun bentuknya, ada sesuatu yang murni yang menyebabkan kita bersedia menembus lingkaran-lingkaran monolog yang tertutup.

Seperti anak yang berjalan malam, kita sering takut kepada suara sendiri yang tak berjawab, kata Paklik Isnogud.

Agaknya itu pulalah sebabnya seorang raja, dalam dongeng di sekitar 300 tahun sebelum Masehi, biasa mengirimkan spion-spionnya ke kalangan penduduk.

Bukan buat memata-matai. Mereka menyusup ke dalam kelompok orang-arang malah untuk menerbitkan debat dan diskusi tentang masalah-masalah kenegaraan.

Pendapat mereka digalakkan, untuk didengar, sebab sang raja tidak ingin memilih kesepian dan kemudian kesalahan. « Read the rest of this entry »

Kesejahteraan Pecas Ndahe

Februari 1, 2008 § 26 Komentar

Pilih mana: “Lapar tapi punya hak” atau “lapar dan tak punya hak”?

Orang lapar yang punya hak dan orang lapar yang tak punya hak jelas bedanya. Tapi, sering kali terdengar kalimat ini: Bapak pemimpin di pucuk kekuasaan negara sedang sibuk mengurusi kemakmuran dan — karena itu — tak punya waktu untuk kemerdekaan.

Tapi tidakkah itu cuma alibi?

Kemerdekaan, tentu saja, bukanlah segala-galanya. Tetapi mengurusi kemakmuran, meningkatkan kekayaan, memeratakan hasil, mengamankan harmoni sosial juga bukan pekerjaan mudah.

Begitu banyak orang terlibat, dan tak satu orang pun — bahkan tak satu kelompok pun — bisa bekerja berhasil sendirian. Lalu orang pun bicara soal partisipasi. « Read the rest of this entry »

Hati Pecas Ndahe

Januari 30, 2008 § 26 Komentar

Pernah ada masanya seseorang berada di simpang jalan. Hatinya bingung. Di manakah aku gerangan berada? Ke manakah perginya orang-orang itu? Di manakah pedoman?

Lalu seseorang berkata. Hati yang bingung bukanlah hati yang mampu untuk setiap bentuk. Hati yang bingung adalah hati yang hanya menghendaki sesuatu yang pasti, final.

Maka seorang yang bingung bukanlah seorang yang dengan terbuka memandang sekltar, tapi seorang yang ketakutan. Ia menggapai-gapai mencari patokan yang paling gamblang. « Read the rest of this entry »

Kesederhanaan Pecas Ndahe

Januari 25, 2008 § 33 Komentar

Mengapa setiap kali sebuah toko menggelar sale rabat atau diskon barang-barang bermerek di Senayan City, orang berbondong-bondong datang? Mengapa kedai-kedai kopi di Plaza Senayan selalu sesak di sore hari?

Inikah yang disebut gaya hidup? Snob?

Saya ndak tahu. Tapi, oleh karenanya, saya kerap iri pada Paklik Isnogud — telaga yang tenang itu. Bagaimana mungkin di tengah arus modernisasi yang gegap gempita dengan aneka simbolnya yang mentereng, ia kalem-kalem saja?

Bagaimana mungkin ia masih bisa bertahan dengan kendesitannya di tengah deru kapitalisme, hedonisme, juga kliyeng-kliyeng itu, lengkap dengan neon sign yang berpendar-pendar? Ia tak pernah menyentuh gendul-gendul Chivas Regal, Chardonnay, Dry Gin, dan seterusnya itu.

Mengapa ia seperti tak pernah tergoda mendatangi kedai-kedai moncer dengan cangkir-cangkir kertas putih berlogo hijau isi kopi panas yang mengepul itu? Mengapa ia tetap setia pada gelas butut berisi seduhan kopi dari dapur belakang pabrik? Adakah ia seorang yang ganjil? « Read the rest of this entry »

Sisifus Pecas Ndahe

Januari 25, 2008 § 31 Komentar

Dengan kata apakah kita sebut orang yang jatuh, bangun, jatuh, bangun, dan jatuh lagi, lalu bangun lagi? Tabah? Konsisten? Penuh determinasi? Atau tolol?

Saya ndak tahu. Tapi hampir setiap hari saya melihat orang-orang seperti itu. Artis X menikah, cerai, menikah lagi, lalu cerai, menikah lagi, beberapa kali. Dan akhirnya, impian tentang keluarga yang bahagia itu tak pernah terjangkau.

Ada lagi Bapak Y yang mencoba-coba berusaha jualan, tapi bangkrut dalam sekejap. Dagang lagi, bangkrut lagi. Buka usaha baru, tutup juga. Begitu seterusnya. Dan cita-cita menjadi kaya itu terbang dibawa angin.

“Ah, mungkin karena kita kini hidup tak lepas dari dongeng Sisifus, Mas,” kata Paklik Isnogud. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Piwulang category at Ndoro Kakung.