Bangkit Pecas Ndahe

Juni 2, 2008 § 33 Komentar

Bangkit itu susah, susah melihat orang lain senang, dan senang menikmati penderitaan orang lain.

Bangkit itu takut, takut berdialog dan bertindak jujur.

Bangkit itu mencuri, mencuri hak orang dan merampas kemerdekaan kelompok lain.

Bangkit itu marah, marah kalau ada kelompok lain unjuk rasa.

Bangkit itu malu, malu bila tak bisa menipu rakyat kecil dengan menyebar duit.

Bangkit itu tidak ada karena masih sibuk tebar pesona.

Bangkit itu aku … untuk Indonesia remuk!

[mohon maaf untuk Deddy Mizwar atas peminjaman sajaknya tanpa izin]

Percakapan Pecas Ndahe

Mei 27, 2008 § 41 Komentar

Tadi pagi, di ruang tunggu sebuah kantor. Saya sedang menunggu giliran dipanggil ke depan meja layanan. Para tamu, sekitar sepuluh orang termasuk saya, sabar menanti di kursi.

Saya duduk persis di belakang sepasang (tampaknya sih) suami-istri berseragam sebuah departemen. Saya taksir usia mereka pertengahan 40-an. Suasana tak terlalu ramai sehingga saya bisa mendengarkan percakapan suami-istri dengan jelas. Dan, tanpa sengaja saya ikut menguping.

Begini petikan obrolan mereka … « Read the rest of this entry »

Senandika Pecas Ndahe

Mei 15, 2008 § 22 Komentar

Baiklah Dinda, kupersembahkan sebuah senandika. Tentang anak-anak yang menuju mega-mega. Tentang para bidadari yang menemaninya bermain di tepi sorga.

Anak-anak adalah mereka yang mencintai debu, yang berlari di jalan kupu-kupu. Mereka menolak beku dan jemu.

Anak-anak selalu sama di mana-mana. Seperti Totto-chan yang suka menatap ke luar jendela. Buka-tutup buka-tutup daun meja. Entah untuk apa.

Anak-anak mungkin sebuah pesan. Bahwa Tuhan belum bosan pada kita, manusia. Dia beri kita titipan, sebentar saja, untuk segera dipanggil pulang ke haribaan-Nya.

Mungkin Tuhan punya rencana. Kita tak selalu bisa menebaknya. Sebab memang betapa susah sungguh mengingat Dia penuh seluruh.

Mungkin kita cuma bisa meminta agar Dia berikan waktu pada kita untuk tumbuh di jalan cinta dan menyemainya bersama mereka kelak di nirwana …

>> untuk Dinda dan Papin yang baru saja kehilangan putri pertamanya yang tercinta.

Kado Pecas Ndahe

April 30, 2008 § 22 Komentar

Baiklah Mbok, kuterima dengan hormat dan salam takzim untuk bait-bait liris yang kau kirimkan kepadaku. Dan sebagai balasan atas perhatianmu, kadomu kutayangkan di sini.

kucari jejakmu
hingga jauh ke tepi cakrawala
kutanya pada angin, pada hujan yang tempias di daun jendela
kutanya awan juga bintang-bintang
‘adakah dia menitip rindu sebelum senja tiba?’

tapi bahkan langit pun khianat
malam ini bulan merah bata
dan gelisahku menjelaga

>> Terima kasih untuk Mbakyu Venus.

Embun Pecas Ndahe

April 25, 2008 § 45 Komentar

Aku melihat senyummu tadi pagi, Jeung. Sebentar saja. Ia mengintip dari balik daun-daun cemara. Lalu lesap bersama embun yang menguap.

Secepat itukah kau pergi, seperti gerimis kepagian? Kenapa?

Mestinya kau tahu, aku bukan pangeran negeri kabut — penunggang kuda putih dengan gandewa di tangan. Jadi usahlah kau takut. Lalu beringsut. Menjauh. Dengan lembut.

Aku cuma pengelana murba yang berlawalata sepanjang masa. Rumahku udara. Pergi ke mana suka. Senjataku kata. Tamengku cinta. Jalanku sunyi. Arahku matahari. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Sketsa category at Ndoro Kakung.